Headline

Terisak Mengenang Masa Kecil Sulit Makan

IST MPINGCHIPS-Sumiara di tengah-tengah kemasa keripik melinjo Mpingchips hasil usahanya.

SATU lagi kisah inspiratif dari seorang wanita. Namanya Sumiara. Berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar, namun meraih sukses di Makassar. Bersama dua orang rekannya, ia membangun sebuah usaha dari nol. Usaha ini juga yang menjadi bukti bahwa siapapun kita, semua bisa menjadi orang sukses.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

MPINGCHIPS didirikan oleh Umi, Muhammad Syaifullah dan Nurlindah. Mpingchips merupakan jajanan ringan berupa keripik melinjo.
Makanan ringan khas Selayar yang lebih kita kenal dengan nama emping ini dibuat berbeda oleh Umi dan rekannya. Mpingchips dikemas dalam sebuah kemasan dengan berbagai varian rasa. Tujuannya agar menjadi semakin menarik dibanding emping yang dijual pada umumnya.
Mpingchips saat ini telah memiliki rumah produksi sendiri di Perumahan Taman Sakinah. Omzetnyapun telah mencapai puluhan juta rupiah. Mpingships telah memiliki dua karyawan.
Namun tahukah anda jika kehidupan Umi dulu tidak seperti sekarang? Ia dan keluarganya bahkan dikategorikan sebagai masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah. Banyak kisah mengharukan tentang hidupnya dulu, yang bahkan sampai kesulitan untuk makan.
BKM tak sempat bertemu langsung dengan Umi. Sebab ia kini sedang melanjutkan kuliah magisternya di Surabaya. Tapi hal itu bukanlah halangan bagi Umi untuk bisa berbagi cerita dan perjalanan hidupnya. Kisahnya sewaktu kecil sampai ia berhasil mendirikan Mpingchips bersama dua temannya.
Cukup ramah caranya menjawab semua pertanyaan BKM. Namun sewaktu ia mencoba bercerita tentang kondisinya sewaktu kecil, suaranya mulai bergetar. Ia menangis. Mengenang kehidupannya kala kecil membuatnya tak bisa menahan haru.
Umi tak bisa melupakan ketika sewaktu kecil ia pernah kehabisan makanan. Desakan ekonomi membuat ayahnya saat itu harus meninggalkan Selayar untuk merantau. Akhirnya ibunyalah yang saat itu memegang peran ganda dalam keluarga.
Suatu ketika, ibunya sedang mencari nafkah di kota, sedangkan Umi tinggal di salah satu desa di Selayar. Jarak desa ke kota saat itu lumayan jauh, memakan waktu sekitar dua jam. Sedangkan angkutan umum bisa dibilang hanya sekali sehari mengangkut penumpang. Jadi aksesnya lumayan sulit.
Tak ada alat komunikasi apapun untuk menghubungi ibunya, Umi yang saat itu masih kelas 4 SD bersama adiknya yang masih berumur dua tahun, tinggal di rumah sendirian dalam keadaan lapar.
Waktu Umi hendak memasak, ternyata ia kehabisan beras. Akhirnya ia pun harus mengambil kedelai yang ada di kebun untuk nantinya ia jual terlebih dahulu guna membeli beras.
Setibanya dari kebun dengan jarak yang cukup jauh, ia mengupas sendiri kedelai-kedelai tersebut. Setelah itu ia pun berkeliling ke rumah-rumah tetangganya untuk menjual kedelai yang telah dikupasnya. Nasib baik belum berpihak kepadanya. Kedelai yang ia jajakan tak laku dijual.
“Saya ke rumah-rumah tetangga mau tukar kedelai itu dengan uang Rp5 ribu atau Rp10 ribu. Uang itu untuk beli beras. Tapi tetangga-tetangga bilang saat itu kalau kedelai yang saya bawa belum bisa untuk dijual. Sambil menangis saya tetap cari orang yang mau beli,” kenang Umi.
Setelah lama ia berusaha, akhirnya ada seseorang yang berbaik hati memberikan berasnya kepada Umi. Beras satu liter yang diberikan akhirnya ia masak dan dimakan bersama dengan adiknya dengan lauk mie instan. Sungguh menyentuh, Umi menceritakan hal ini sambil menangis terisak.
Namun itu kenangannya dulu. Sekarang jelas kehidupannya tidak seperti itu lagi. Kini ia telah memiliki usaha yang bisa menghidupi dirinya sendiri. Umi juga berhasil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Makassar, dan kini mengambil kuliah S2 di Surabaya. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top