Headline

Disdag Bidik Laundry Pengguna Elpiji 3 Kg

MAKASSAR, BK M — Terjadinya kelangkaan elpiji isi 3 kilogram pada bebeberapa tempat di Makassar dan daerah lainnya di Sulsel, salah satu penyebabnya karena banyaknya usaha laundry turut menggunakan elpiji melon ini.
Pihak Pertamina sendiri terkesan pasrah dan tidak bisa mengambil tindakan apa-apa terkait munculnya masalah ini. Karena badan usaha hanya ditugaskan oleh pemerintah untuk menyediakan dan mendistribusikan elpiji 3 kg.
”Kami hanya melakukan pengawasan pendistribusian elpiji 3 kg hingga ke tingkat agen dan pangkalan. Tidak sampai ke tingkat pengecer. Untuk pembelian elpiji 3 kg sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), masyarakat dapat langsung membeli ke pangkalan terdekat. Kami sampai saat ini sebatas mengimbau saja,” ujar Hermansyah Y Nasroen, Area Manager Communication & Relations Pertamina Marketing Operation Region (MOR) 7 Sulawesi ketika dihubungi melalui telepon selular, Selasa (14/11).
Hermansyah juga mempertanyakan titik-titik yang mengalami kelangkaan. Sampai Oktober 2017, Pertamina MOR 7 Sulawesi telah menyalurkan elpiji volume 3 kg untuk Provinsi Sulsel sebanyak 6.553.997 tabung. Jumlah ini setara rerata harian sebanyak 252.077 tabung per hari.
Jumlah tersebut, menurut Hermansyah, telah sesuai rerata penyaluran elpiji 3 kg tiap bulannya. Untuk elpiji 3 kg disalurkan melalui 117 agen dan 7.909 pangkalan. Aktivitas pengisian elpiji 3 kg dilakukan di 15 SPPBE (Stasiun Pengisian & Pengangkutan Bulk Elpiji). Saat ini semuanya berjalan lancar dan tidak ada kendala.
Sesuai peruntukannya, elpiji 3 kg adalah untuk masyarakat miskin. Termasuk usaha kecil yang memerlukan elpiji untuk memasak dalam usahanya. ”Kami mengimbau agar masyarakat yang seharusnya tidak menggunakan elpiji bersubsidi, untuk menggunakan elpiji non subsidi. Pertamina menyediakan beberapa pilihan elpiji non subsidi, antara lain brightgas 12 kg dan brightgas 5,5 kg. Pertamina menyalurkan elpiji 3 kg sesuai kuota yang ditentukan pemerintah,” terang Hermansyah.
Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Perdagangan (Disdag) membidik pelaku usaha laundry yang kini menggunakan gas elpiji isi 3 kg. Alasannya, karena peruntukannya bagi rumah tangga, bukan pelaku usaha.
Kepala Disdag Kota Makassar Muh Yasir, berjanji dalam waktu dekat segera menerjunkan tim pengawaaan melakukan identifikasi dan mencari penyebab terjadinya kelangkaan gas elpiji kemasan 3 kg. Selain berkordinasi dengan pihak distributor, Disdag juga akan turun melakukan investigasi terhadap pelaku usaha menggunakan gas elpiji isi 3 kg.
“Gas elpiji kemasan 3 kg bukan untuk pelaku usaha. Termasuk laundry. Melainkan rumah tangga dan usaha kecil. Kalau ada usaha laundry menggunakan gas elpiji itu melanggar dan pasti kami akan tindaki,” tegas Yasir, kemarin.
Ia memastikan tim pengawasan bentukan Disdag Makassar sudah mulai turun melakukan pengawasan penggunaan gas elpiji kemasan 3 kg. Bagi pelaku usaha yang terbukti menggunakan gas elpiji bersubsidi oleh pemerimtah, maka pihaknya akan memberikan tindak tegas.
“Segera kita turunkan tim dan melakukan kordinasi dengan Pertamina. Ketika tim menemukan adanya pelaku usaha menggunakan gas elpiji 3 kg, kita tindaki. Seperti memberikan surat teguran dan bisa juga melaporkan ke polisi. Karena sudah jelas melanggar aturan,” terangnya.
Ditanya soal pengecer gas elpiji bersubsidi yang bebas menjual ke pelaku usaha, Yasir menegaskan juga akan memberikan teguran. Dan meminta kepada Pertamina untuk turut serta melakukan pengawasan.
Kelangkaan gas elpiji 3 kg ini dikeluhkan warga Makassar. Salah satunya Erwin, warga kompleks perumahan Bumi Tamalanrea Permai. Ia sangat kesulitan mencari pengecer yang menjual elpiji 3 kg.
Erwin mesti mendatangi beberapa pedagang eceran baru bisa mendapatkannya. Itupun harganya sudah cukup tinggi.
“Jelas kita repot sekali sekarang. Saya harus datang ke empat sampai lima penjual baru bisa dapat. Itupun harganya mahal,” keluh Erwin.
Biasanya, ia membeli elpiji dengan harga Rp15 ribu. Kini harus ditebusnya dengan nilai Rp 17 ribu. Karena kondisi ini, ia pun berencana beralih ke elpiji isu 12 kg. “Mau tidak mau, kalau begini kita beralih saja ke gas yang 12 kg,” cetusnya.
Keluhan yang sama diungkapkan Ariyaldi, warga Jalan Bulusaraung. Ariyaldi yang sehari-harinya menggunakan elpiji 3 kg mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hari-harinya ketika ingin memasak. “Susahki sekarang cari. Di mana-mana kosong,” keluh Ari.
Asyraf Mustamin, warga Jalan Malengkeri mengatakan, kelangkaan elpiji 3 kg ini akan berdampak besar bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Baginya, masyarakat berpenghasilan kecil akan dipaksa menggunakan elpiji dengan kapasitas yang lebih besar. “Susah pasti untuk warga yang kurang mampu. Mahalki toh gas yang 12 kg. Tapi mau tidak mau, nanti pasti akan beralihji kalau begini terus kondisinya. Mau bagaimana lagi,” kata Asyraf.
Salah seorang warga Jalan Dg Tata, Dg Naja terkadang mentaktisi kelangkaan elpiji dengan memasak menggunakan kayu bakar. Kelangkaan membuat Dg Naja harus menghemat penggunaan gas. Ia menggunakan kayu bakar jika sedang memasak dalam jumlah banyak.
“Kalau masak nasi atau masakan yang banyak, istriku biasa pakai kayuji. Susah cari gas. Mahalmi juga harganya,” terangnya.
Marisha, warga kompleks Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, mengaku kelangkaan gas sudah dirasakannya sejak satu bulan terakhir. ”Di warung saya sudah tidak ada gasj elpiji. Saya sudah telepon beberapa penyalur, tapi elpiji 3 kg kosong katanya. Banyak sekali orang cari tabung 3 kg. Mereka pusing mau nyari di mana lagi,” jelas Marisha.
Fandy, pemilik salah satu usaha laundry di Jalan Adhyaksa Baru, mengatakan biasanya dalam sehari bisa menyelesaikan cucian 35-40 kg. Ia menggunakan 6 unit mesin cuci. Masing-masing menggunakan satu tabung gas elpiji 3 kg. Ditambah satu setrika uap yang juga menggunakan elpiji 3 kg
“Sebelumnya kalau kehabisan elpiji belinya di warung sekitar rumah. Tapi sudah berapa minggu ini susah didapat. Harga beli isi ulang elpiji 3 kg Rp16.500 sampai Rp20.000,” ungkap Fandy. (mir-arf-nug-jun/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top