Headline

Ingin Mematenkan BBC Hasil Temuannya

IST PATENKAN TEMUAN-Musdalifah (kiri) bersama dua rekannya memiliki keinginan untuk mematenkan cairan BBC hasil temuannya.

PRODUK yang diciptakan Ifa dan kawan-kawannya diklaim aman. Hal itu karena produknya dihasilkan dari sebuah penelitian. Tentunya telah melewati analisis mendalam dan uji coba sesuai prosedur.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PENELITIAN yang dilakukan Ifa berjudul; Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel ZnO dan Aplikasinya sebagai Agen Anti Bakteri Staphylococcus pada Cotton Combed. Kegunaannyapun telah diujicoba skala lab, dan dianggap berhasil menghambat daya kerja bakteri yang bisa memberi masalah pada kulit.
Mahasiswi yang bermukim di Jalan Ir Sutami ini, mengatakan ide awal pembuatan cairan ini bermula dari kesehariannya memakai pakaian yang dirasa kurang nyaman. Kekurangnyamanan itu ternyata berasal dari keringat yang membuat pakaian menjadi terasa gatal. Ia pun bertanya-tanya, mengapa tubuh kita bisa berkeringat sehingga menyebabkan bau badan dan gatal-gatal.
Akhirnya, Ifa dibantu oleh teman-teman kelompoknya mencari tahu penyebab hal tersebut. Diketahuilah jika salah satu penyebabnya adalah karena bakteri Staphylococcus Aureus.
Ifa lalu berniat untuk mengatasi masalah tersebut dengan menghambat daya kerja Staphylococcus Aureus, supaya masalah kulit yang disebabkan oleh keringat tak lagi ada.
Alumni SMAN 12 Makassar ini mengetahui, bakteri Staphylococcus Aureus bisa dihambat daya kerjanya dengan menggunakan senyawa ZnO. Ini merupakan senyawa hasil reaksi antarsenyawa anorganik murni, Asetat dan Natrium Hidroksida.
Ifa sengaja menggunakan senyawa ini, karena ZnO diyakini aman digunakan pada tubuh manusia.
Awalnya ia mulai mensintesis ZnO. Dalam prosesnya ternyata cukup rumit dilakukan. Beberapa referensi telah Ifa lihat dalam proses pembuatannya. Namun setelah diujicoba tak kunjung berhasil.
“Saat melakukan sintesis, perlu memang perulangan beberapa kali dengan beberapa formula untuk dapat hasil sintesis yang baik,” kata Ifa.
Beberapa kendala lain sempat mewarnai proses pembuatan produk. Seperti pada bahan dan alat yang digunakan. Akhirnya Ifa dan teman-teman kelompoknya saat itu menggunakan alat seadanya yang ada dalam lab, yaitu X-ray Diffraction atau XRD. Untung saja, alat ini juga cukup baik digunakan dalam mensintesis senyawa.
XRD digunakan lebih kepada melihat bahwa benar yang sedang disintesi adalah senyawa ZnO. Caranya yaitu melihatnya dalam ukuran nano dan puncak-puncaknya yang menunjukkan bahwa itu merupakan senyawa Zn dan O (kemudian menghasilkan ZnO).
Selain untuk mengetahui senyawa yang sedang disintesis, XRD dalam pembuatan produk milik Ifa juga difungsikan untuk melihat tingkat kemurnian dari hasil sintesis. “Bisa dilihat apakah ada zat-zat pengganggu, seperti misalnya ada hidrogen di senyawa tersebut atau tidak,” jelas Ifa.
Dari semua proses yang telah dilakukan Ifa, produk cairannya baru bisa benar-benar jadi setelah dilakukan sebanyak 10 kali percobaan. Hal ini membuktikan jika ingin menghasilkan karya yang benar-benar inovatif, kerja keras dan pengorbanan memang benar-benar dibutuhkan.
“Penelitian itu tidak ada yang sulit. Cuma kita harus lebih tekun dan sabar, karena tidak semua proses yang dilakukan akan berhasil dalam satu kali percobaan. Harus diulang-ulang,” tegas Ifa.
Ifa dan teman-teman kelompoknya pun nantinya akan berusaha untuk mematenkan produk Bacterial Cotton Combed (BCC) buatannya ini. Sehingga semua orang kelak bisa mendapat manfaat dari apa yang telah dilakukannya. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top