Metro

BMKG Minta Waspada Gempa Bumi

MAKASSAR, BKM– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar meminta masyarakat Sulsel untuk mewaspadai gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Adapun wilayah yang rawan terjadi gempa bumi adalah Luwu Timur dan Toraja Utara. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memperhatikan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi dari BMKG.
Hal tersebut ditegaskan Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, A Fachri Radjab kepada BKM, Senin (13/11).
Menurut Fachri, beberapa wilayah di Sulsel saat ini telah memasuki awal musih hujan. Awal musim hujan pada wilayah Sulsel bagian barat dan selatan pada umumnya diperkirakan pada November ini. Sedangkan Sulsel bagian timur diperkirakan pada awal 2018.
” Awal musim hujan di Sulsel bagian timur pada umumnya mundur dari rata-rata normalnya. Sedangkan di wilayah barat maju dari rata-rata normalnya,” kata Fachri.
Wilayah Sulsel bagian utara merupakan wilayah Non Zona Musim (Non ZOM). Jumlah curah hujan selama periode Oktober 2017 sampai Maret 2018 nanti di wilayah tersebut diperkirakan berkisar antara 1001 sampai 2000 mm. “Sifat curah hujan pada musim hujan tahun 2017/2018 di Sulsel diperkirakan pada umumnya normal, namun dalam skala harian, komdisi cuaca sangat fluktuatif,” jelas Fachri.
Fachri pun menambahkan, jika dengan adanya ini, masyarakat diharapkan dapat mengantiaipasi potensi bencana yang dapat terjadi. Bencana yang biasa terjadi saat musim hujan biasanya diakibatkan adanya hujan lebat, angin kencang, petir/kilat, dan gelombang tinggi.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel menyatakan, musim tanam 2017/2018 sudah dimulai bersamaan dengan datangnya musim hujan di bulan November. Beberapa daerah sudah mulai menanam. Namun, ada kekhawatiran jika musim tanam kali ini akan gagal karena kondisi cuaca yang tidak menentu, malah cenderung ekstrim.
Hujan lebat yang bisa mengakibatkan banjir menjadi ancaman tersendiri bagi petani. Sebab bisa merusak bibit padi yang telah ditanam dan merusak areal persawahan.
Untuk itu petani agar ikut dalam program asuransi pertanian. Asuransi ini dilakukan sebelum musim tanam dilakukan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel, Fitriani mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi terkait asuransi pertanian tersebut. Program ini sebenarnya sudah ada sejak musim tanam tahun lalu.
“Nilainya sekitar Rp6 juta per hektare, dan musim tanam tahun lalu sudah ada. Bisa digunakan jika lahan terkena serangan hama, kekeringan atau kebanjiran,” katanya, di Rujab Gubernur, kemarin.
Selain itu, pihaknya melalui penyuluh pertanian terus memberikan pemahaman ke petani. Seperti memilih varietas padi yang tahan air dan waktu tanam yang cocok dengan kondisi yang ada.
Untuk mengantisipasi anomali cuaca, Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel terus berkoordinasi dengan BMKG Makassar. Terlebih puncak musim hujan antara wilayah barat dan timur berbeda.
Mengenai target produksi di musim tanam 2017/2018, pihaknya yakin akan mengalami kenaikan. “Sesuai angka ramalan kita, produksi akan naik sampai 6 juta ton untuk padi dan jagung 2,24 juta ton,” sebutnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang meminta pemerintah pusat untuk segera menyiapkan pupuk bagi petani. Berdasarkan pengalaman selama ini pupuk menjadi kendala bagi petani.
“Dari dulu sudah kita minta agar sebelum memasuki masa tanam sudah tersedia. Terutama pupuk bersubsidi bagi petani, saya akan cek di PT Pupuk Kaltim dan Sriwijaya,” katanya.
Sebelumnya, Balai Besar Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memperkirakan periode musim hujan di Sulawesi Selatan terbagi daerah.
Wilayah pesisir barat yang meliputi Takalar, Gowa, Makassar sampai Pinrang telah lebih dahulu memasuki musim penghujan di akhir Oktober kemarin.
Sementara wilayah timur mulai Sinjai, Bone hingga Luwu Timur baru akan memasuki musim hujan di sekitaran bulan Maret dan April.
Terkait dampak musim hujan tahun ini, BMKG menyebutkan akan berpengaruh pada kebencanaan, pertanian, perikanan, transportasi darat, laut dan udara.
Di sektor pertanian, ada ancaman peningkatan intensitas curah hujan yang disertai angin kencang dan petir, meningkatnya OPT pada tanaman padi, palawija, dan hortikultura, genangan/banjir pada lahan pertanian. Serta rusaknya komoditi tanaman tertentu akibat angin kencang. (rhm)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top