Headline

Mencuat Poros Tengah Duet Deng Ical-Ije

MAKASSAR, BKM — Dua pasangan bakal calon hampir pasti akan maju di pemilihan wali kota Makassar. Masing-masing petahana Moh Ramdhan (Danny) Pomanto yang menggandeng politisi Partai Nasdem Indira Mulyasari Paramastuti, dan sang profesional Munafri Arifuddin yang semakin terbuka menggandeng Wakil Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi di posisi wakil.
Pasangan Danny dengan Indira yang tak lain adalah wakil ketua DPRD Makassar ini, tinggal menunggu tanggal deklarasi. Mereka setidaknya telah mendapat dukungan lima hingga enam partai politik. Yakni Gerindra, PPP, PAN, PDIP, PKPI serta PKS.
Sementara Appi -panggilan akrab Munafri– hampir pasti mendapat dukungan dari Partai Golkar dan Nasdem. Sejumlah partai masih belum mengambil keputusan seperti Demokrat, Hanura dan PBB. Tak hanya itu, PKS juga masih membangun komunikasi dengan partai lain. Hal ini terkait sikap Danny yang menggandeng wakil bukan dari birokrat atau profesional. Melainkan seorang politisi.
Kondisi tersebut memunculkan spekulasi akan lahirnya poros tengah. Paket yang mewacana adalah Wakil Wali Kota Syamsu Rizal berpasangan dengan politisi PKS Muhammad Iqbal Djalil alias Ije.
Poros ini disebut-sebut akan menggabungkan dua partai, yakni Demokrat dan PKS. Deng Ical merupakan Sekretaris DPD Demokrat Sulsel. Sementara Ije kader PKS.
Deng Ical –panggilan akrab Syamsu Rizal– yang diminta tanggapannya, mengaku bila dirinya masih berjuang untuk mendapatkan kepercayaan partainya, yakni Demokrat serta partai koalisi lainnya.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indoneisa (IPI) Suwadi Idris Amir, menilai jika terbentuknya poros tengah sangat tergantung keputusan politik Partai Demokrat, untuk memuculkan figur Deng Ical. Sehingga ada ruang bagi Syamsu Rizal untuk meyakinkan parpol lain untuk berkoalisi dengan Demokrat.
Namun Suwadi menambahkan, PKS saat ini tampak cenderung mendukung petahana Danny Pomanto. “Jadi deng Ical berat tugasnya. Selain harus meyakinkan parpol lain, dia juga masih harus meyakinkan partainya untuk mengusungnya. Kendala Deng Ical, karena para elit politik terfokus pada Danny dan Appi,” ucapnya.
Dosen politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono, mengemukakan bila munculnya poros tengah itu sangat bergantung pada komposisi persaingan partai politik dalam pilwali. “Kalau Deng Ical dan Ustaz Ije mampu memainkan peran komunikasi politik yang optimal ke parpol, misalnya ke Demokrat dan PKS dan partai lain yang selama ini diwacanakan ke Danny, maka keduanya bisa saja bukan hanya jadi poros tengah. Tapi juga sebagai kuda hitam yang muncul dari kompetisi Danny vs Appi seperti yang selama ini terlihat,” ujar Arief.
Hal senada dikemukakan dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad. Menurutnya, munculnya poros tengah Deng Ical-Ije karena Danny tidak ikat partai yang hendak mengusung, seperti PKS. “Koalisi PKS dan Demokrat bisa terbangun. Alternatifnya, PKS Hanura cukup usung poros tengah,” jelas Firdaus.
Namun berbeda yang disampaikan dosen politik Unismuh Dr Luhur A Prianto. Menurut dia, sepertinya sulit ada kekuatan ketiga atau poros tengah yang tangguh dalam kontestasi pilwali 2018.
Meskipun dari sisi elektabilitas berbagai potret survei Deng Ical masih yang tertinggi setelah petahana, tetapi tidak cukup kuat untuk menang.
“Dalam situasi penantang lain, yakni Appi-Cicu juga hadir. Deng Ical dan Cicu mungkin juga sudah punya komitmen bersama,” jelas Luhur.
Sejak awal, menurutnya, kekuatan elektoral Deng Ical dan Cicu sebenarnya beririsan, sehingga sulit jika keduanya harus berkompetisi. “Satu-satunya pihak yang diuntungkan dengan hadirnya poros tengah adalah Danny sebagai incumbent. Kekuatan penantang akan mengalami fragmentasi. Sebuah situasi yang bisa memudahkan incumbent untuk oppo,” pungkasnya. (rif)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top