Headline

Suara Mahasiswa Hilang di Pilrek Unhas

MAKASSAR, BKM — Pemilihan rektor Universitas Hasanuddin (pilrek Unhas) periode 2018/2022 tak lama lagi dihelat. Tahapan demi tahapan telah dilaksanakan olEh panitia.
Namun, satu pertanyaan besar kini mengemuka. Akankah suara mahasiswa hilang dalam proses demokrasi di kampus merah ini?
Hal tersebut mencuat, sebab hingga sekarang belum ada ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang terpilih. Karenanya, hampir bisa dipastikan mahasiswa tidak mempunyai hak suara dalam suksesi rektor kali ini.
Sekretaris Unhas Dr Nasaruddin Salam tak menampik hal itu. Menurut dia, bukan panitia yang menghilangkan hak mahasiswa untuk dilibatkan dalam proses pemilihan rektor.
Hanya saja, hingga saat ini ketua BEM Unhas belum terpilih. Sehingga satu suara dalam pilrek nantinya bisa saja tak tersalurkan.
”Jadi bukan kita yang hilangkan, atau meniadakan suara mahasiswa. Melainkan karena belum ada BEM. Sudah beberapa kali diarahkan oleh wakil rektor bidang kemahasiswaan, tapi sampai sekarang belum juga terbentuk,” jelas Nasaruddin di ruang kerjanya gedung Rektorat Unhas, Jumat (10/11).
Koordinator panitia pemilihan calon rektor ini sangat menyayangkan jika hingga saat pilrek digelar, belum juga ada ketua BEM universitas. Padahal dalam wali amanah ada perwakilan BEM.
“Selama belum terbentuk hingga pemungutan suara, ya kita anggap hilang hak suaranya. Soal bagaimana ke depannya, kita lihat saja. Apakah BEM yang ada di 15 fakultas masih mempertahankan situasi yang ada seperti sekarang,” cetusnya.
Meski begitu, panitia nantinya tetap akan mengundang perwakilan mahasiswa untuk datang dan melihat pemaparan visi misi calon rektornya.
Dihubungi terpisah, Ketua BEM Fakultas Hukum Unhas Auliah Hayyan menegaskan, mahasiswa secara umum memang tidak memiliki hak untuk memilih seorang rektor. Namun, melalui perwakilannya, mereka berhak menentukan masa depan kampus tempatnya menuntut ilmu, sekalipun belum ada ketua BEM universitas yang terpilih.
Auliah meminta agar pemilihan rektor yang diagendakan berlangsung tahun depan ditunda, sebelum ada kepastian siapa ketua BEM terpilih dan berhak ikut memberikan hak suara dalam pilrek.
“Kita juga sudah bicarakan dengan WR 3, untuk menunggu sampai ada perwakilan mahasiswa yang akan ikut memilih rektor,” tandasnya.
Mantan aktivis dan alumni Unhas yang kini menjadi anggota DPD RI Asri Anas, menanggapi serius jika mahasiswa tidak dilibatkan dalam suksesi rektor. ”Bila bicara statuta, melibatkan mahasiswa memang harus dilakukan. Sebab mahasiswa adalah civitas akademik. Semua harus ikut terlibat. Tahapan pemilihan rektor Unhas harusnya dibuat lebih terbuka dan demokratis,” jelasnya ketika dihubungi melalui telepon selular, kemarin.
Menurutnya, pelibatan mahasiswa dilakukan dalam seluruh tahapan dan rangkaian suksesi rektor. Mereka harus bisa ikut melihat, menyaksikan dan mengeksplorasi mengesplorasi kualitas seorang calon rektor.
Rektor, kata Asri Anas, merepresentasi kualitas kampus. Karena itu, calon rektor harus bisa memaparkan visi dan misinya di hadapan mahasiswa dan dosen. Rektor tidak boleh dikesankan dipilih hanya karena kepentingan kekuasaan atau kedekatan.
“Saya setuju rektor harusnya menjelaskan program dan visi misi di depan mahasiswa. Kalau perlu mahasiswa secara umum memberikan skoring suara berdasarkan indikator rektor. Akan kelihatan nanti jika ada permainan manakala skor calon rektor terendah kemudian dipilih oleh senat,” jelasnya.
Asri menyebutkan, banyak kasus di Indonesia yang pemilihan rektornya terindikasi kolusi, dan ada praktik korupsinya. “Kesan itu bisa jadi lahir di Unhas jika tidak dibuat lebih terbuka,” tandasnya.

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top