Headline

Menanti Gelar Pahlawan Bagi Jenderal M Jusuf

MAKASSAR, BKM — Nama Jenderal TNI (Purn) M Jusuf abadi di hati masyarakat Sulsel. Kendati telah lama berpulang, almarhum yang pernah menjabat Panglima TNI itu tetap dikenang hingga saat ini. Sosok yang tegas, disiplin, jujur, berani, dan loyal pada tugas itu tak lekang ditelan zaman.
Ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Bersama Jenderal Amir Machmud dan Jenderal Basuki Rahmat, M Jusuf merupakan saksi kunci peristiwa Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Tak heran jika namanya selalu masuk dalam pelajaran sejarah Indonesia.
Karena berbagai alasan kuat, Jenderal M Jusuf dinyatakan sangat patut dan layak untuk menjadi pahlawan nasional.
Menurut Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulsel Andi Ilham Gazaling, seminar pengusulan nama Jenderal M Jusuf sebagai pahlawan nasional sudah dua kali dilaksanakan. Yang pertama pada tahun 2012. Kedua di tahun 2015. Dalam seminar tersebut, disebutkan jika almarhum Jenderal M Jusuf sangat pantas untuk dijadikan pahlawan nasional. Selain dihadiri langsung oleh pihak kementerian, seminar juga melibatkansejarahwan dan budayawan yang mengkaji dari berbagai aspek, apakah memang M Jusuf bisa menyandang gelar pahlawan nasional.
Selain diseminarkan, Pemprov Sulsel juga sudah mengusulkan ke Kementerian Sosial agar bisa diproses pemberian gelar tersebut. Namun karena ini terkait pemberian gelar bergengsi, prosesnya sangat teliti dan hati-hati.
“Secara umum, telah memenuhi syarat diajukan ke Kementerian Sosial. Dan Alhamdulillah sudah disetujui oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP),” ungkap pejabat yang juga putra Bone ini.
Secara prosedural, lanjut kadis yang akrab disapa Andi Ille ini, Pemprov Sulsel telah mengusulkan ke Kementerian Sosial untuk menjadi pahlawan nasional. Saat ini, kajian dan telaahnya sudah berada di Direktur Kepangkatan Kementerian Sosial. Jika sudah menyelesaikan seluruh prosedur yang ada, tinggal meminta persetujuan Presiden RI untuk pemberian gelar pahlawan nasional tersebut.
Dia berharap prosesnya bisa cepat rampung, sehingga Sulsel punya satu tokoh pahlawan nasional lagi yang dibanggakan.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menilai, almarhum Jenderal M Jusuf sangat pantas menyandang gelar sebagai pahlawan nasional.
“Siapa yang tidak kenal Jenderal M Jusuf dengan sisi kerakyatannya yang sangat tinggi,” ujarnya di kantor gubernur, kemarin.
Menurut orang nomor satu Sulsel itu, Jenderal M Jusuf memberi inspirasi kepada masyarakat, serta menyadarkan TNI bahwa militer itu dari rakyat untuk rakyat.
“Perjuangan dan nama besar Jenderal M Jusuf harus diabadikan dengan gelar pahlawan nasional. Saya sangat mengidolakan beliau, Baharuddin Lopa, dan Jusuf Kalla,” pungkasnya.
Ketua Harian DPP Golkar HM Nurdin Halid, menyatakan mendukung sepenuhnya jika Jenderal M Jusuf mendapat gelar pahlawan nasional. Menurutnya, almarhum telah memberikan pengorbanan yang cukup besar bagi negeri ini.
”’Saya sangat setuju dan ingin mengajak komunitas serta tokoh Sulsel untuk sama-sama memperjuangkan Jenderal M Jusuf jadi pahlawan nasional,” tulisnya melalui pesan Whastapp malam tadi.
Ponakan almarhum Jenderal M Jusuf, Andi Herri Iskandar yang dihubungi tadi malam melalui sambungan telepon selular, menyampaikan terima kasihnya atas apresiasi masyarakat Sulsel yang mengusulkan dan memperjuangkan pamannya itu untuk mendapat gelar pahlawan.
”Terima kasih karena masyarakat telah mengusulkan beliau (untuk dapat gelar pahlawan). Kami dari pihak keluarga menghargai usulan tersebut,” kata Andi Herri yang kini menjabat Asisten I Pemprov Sulsel.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, pada pasal 26 disebutkan, gelar pahlawan nasional diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dengan tujuh syarat khusus.
Pertama, pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Kedua, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Ketiga, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya.
Keempat, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara. Kelima, pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Keenam, memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi. Tujuh, melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
Sementara syarat umumnya, diatur dalam pasal 25. Yakni WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI. Memiliki integritas moral dan keteladanan. Berjasa terhadap bangsa dan negara. Berkelakuan baik. Setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara. Serta tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat lima tahun.
Jenderal M Jusuf memiliki nama lengkap Andi Muhammad Jusuf Amir. Lahir di Kajuara, Kabupaten Bone, 23 Juni 1928. Meninggal di Makassar, 8 September 2004 pada umur 76 tahun.
Jusuf merupakan putera seorang bangsawan yang bernama Arung Kajuara. Beristerikan Elly Saelan, yang merupakan adik kandung Emmy Saelan, pejuang asal Makassar dan Maulwi Saelan. Jusuf dan Elly Saelan dikaruniai seorang anak yang sudah meninggal dunia bernama Jaury Jusuf Putra.
Dalam posisi pemerintahan, Jenderal M Jusuf pernah menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada periode 1978-1983. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian pada periode 1964-1974, serta Ketua Badan Pemeriksa Keuangan periode 1983-1993.
Ketika para pemimpin nasionalis, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Jusuf menunjukkan dukungannya dengan bergabung dengan Devosi Rakyat Indonesia dari Sulawesi (KRIS). Menjelang akhir tahun 1945, dengan Belanda, pemerintah mempersiapkan untuk merebut kembali Indonesia. Jusuf dan rekan-rekannya sesama anggota KRIS berlayar untuk Java untuk bergabung dalam pertempuran.
Jusuf sebenarnya mulai karier militernya di angkatan laut. Menjadi ajudan dari Letnan Kolonel Kahar Muzakkar di Angkatan Laut ke-10 Staf Komando kantor pusat di Yogyakarta.
Pada 1949, Jusuf telah beralih ke angkatan darat, menjadi bagian dari Polisi Militer sebelum menjadi anggota Komisi Militer Indonesia Timur.
Pada tahun 1950, Jusuf menjadi ajudan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, Panglima Kodam VII/Wirabuana yang keamanan singkat menutupi seluruh Indonesia Timur. Dalam posisi ini, Jusuf berpartisipasi dalam memadamkan pemberontakan oleh Republik Maluku Selatan (RMS). (rhm/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top