Bisnis

Gyproc Perkenalkan Papan Gypsum Ramah Lingkungan

BKM/CHAIRIL GYPROC -- Won Siew Yee, Marketing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia menjelaskan perjalanan bisnis PT Saint Gobain dengan produk gypsum andalannya, Gyproc.

MAKASSAR, BKM — Pesatnya perkembangan industri properti di Sulsel umumnya dan kota Makassar khususnya, mendapat perhatian dari manajemen PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia (SGCPI). Perusahaan yang berkantor pusat di Prancis ini merupakan produsen papan gypsum dengan merek Gyproc.
Melalui produk gypsum yang ramah lingungan, Gyproc, SGCPI optimistis memperluas distribusinya di Sulsel. Menurut Hantarman Budiono, Managing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia, di sela acara Diskusi Media Bersama Gyproc Indonesia di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Kamis (12/10), sebelumnya papan gypsum Gyproc telah lama digunakan masyarakat di benua Eropa dan Amerika untuk mengatasi percepatan pertumbuhan akan perumahan.
Dengan 100 tahun pengalaman di industri gypsum, Gyproc terus berinovasi dalam mengembangkan produk-produknya guna menjawab kebutuhan masyarakat ke depannya. Kini Gyproc hadir guna memenuhi permintaan market Indonesia, khususnya wilayah Sulsel untuk bahan bangunan yang berkualitas serta ramah lingkungan.
Lanjut Hantarman menjelaskan, untuk wilayah Eropa pemakaian gypsum telah mencapai 4 meter persegi per kapita. Di Amerika 7 meter persegi per kapita. Sementara Indonesia hanya 0,43 meter persegi per kapita.
”Meski total konsumsi gypsum di Indonesia relatif rendah, namun Gyproc optimistis dengan potensi yang ada, pasar Indonesia dapat ditaklukkan. Karena selain kondisi kebutuhan perumahan kami juga melihat potensi market ‘renovasi’ yang masih terbuka lebar,” kata Hantarman mengenai prospek market Gyproc di Indonesia.
Pada umumnya, di Indonesia gypsum dipakai untuk plafon bagian atas bangunan. Walau ada pula yang sudah mulai memakainya untuk bagian dinding. Gypsum sendiri telah dipakai sebagai bahan bangunan sejak 5000 tahun silam yaitu untuk piramida di Mesir. ”Meski piramida dibagian luarnya terpapar cuaca panas sangat ekstrim, namun di dalamnya terasa dingin. Mengapa? Setelah diteliti, ternyata karena insulasi mereka menggunakan interior gypsum. Hal inilah yang kemudian menjadi acuan orang-orang Eropa untuk menggunakan gypsum sebagai bahan bangunan,” tambah Hantarman.
Berkaca dari Eropa, Amerika, dan Singapura, papan gypsum telah banyak digunakan. Dalam hal ini papan gypsum yang dipakai tidak hanya untuk plafon tapi juga sebagai dinding atau dikenal juga dengan ‘drywall system’.
Seperti dijelaskan Won Siew Yee, Marketing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia, pemerintah Singapura tengah mendorong penggunaan drywall untuk menggantikan dinding bata sebagai usaha perlindungan terhadap lingkungan. Bahkan, keseriusan pemerintah Singapura tersebut telah diwujudkan dalam bentuk regulasi dan menargetkan 80 persen dari bangunan-bangunan yang ada di sana, sudah tersertifikasi ‘green mark’ pada tahun 2030 nanti.
Daniel Yusuf Wijaya, MCom, Direktur PT Sukses Jaya Profindo, Distributor Gyproc untuk wilayah Sulsel, menyambut positif kehadiran Gyproc di Sulsel. ”Kami sangat mengapresiasi atas masuknya bahan material yang dianggap masih baru, yakni papan gypsum dengan teknologi drywall system dari PT SGCPI. Terlebih lagi Gyproc merupakan bahan bangunan yang ramah lingkungan, minim konsumsi sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya terbarukan, serta 100 persen dapat didaur ulang,” ujar Daniel.
Kipnara Angdias, owner PT Rayagraha Intibuana, yang juga merupakan Distributor Gyproc untuk wilayah Sulsel mengucapkan selamat datang kepada Gyproc drywall. Pihaknya juga sangat mendukung penggunaan material bangunan yang green guna menjaga lingkungan sehat dan tidak berbahaya. Juga, banyak benefit bagi para pelaku konstruksi atau kontraktor dengan mendapat manfaat secara wujud fisik dinding yang modern dan berkelas, serta efisien dalam cost konstruksi. (mir)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top