Berita Kota Makassar | Saling Jegal Kerabat di Pilkada
Headline

Saling Jegal Kerabat di Pilkada

MAKASSAR, BKM — Aksi saling jegal diantara kerabat dalam menghadapi kontestasi pergantian kepala daerah kian marak. Sudah sejak lama situasi seperti ini berlangsung.
Di kekinian, kerabat Qahhar Mudzakkar berebut kuasa menuju pemilihan gubernur Sulsel 2018. Sementara untuk pemilihan wali kota (pilwali) Makassar, santer bergulir keluarga Ilham Arif Sirajuddin (IAS).
Aziz Qahhar Mudzakkar dan Andi Mudzakkar saat ini telah resmi menunjukkan persaingannya. Aziz yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menjadi bakal calon wakil gubernur dari Nurdin Halid. Sementara Andi Mudzakkar yang masih menjabat sebagai bupati Luwu, menetapkan pilihannya untuk mendampingi bakal calon gubernur Ichsan Yasin Limpo.
Di perjalanan menuju pilwali Makassar, ada dua srikandi dari keluarga mantan wali kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin. Mereka adalah Andi Rahmatika Dewi dan Indira Mulyasari Paramastuti.
Saat ini, Rahmatika Dewi yang biasa disapa Cicu menduduki posisi sebagai wakil ketua DPRD Sulsel. Ia juga ketua DPD Partai Nasdem Kota Makassar, serta ketua Garnita Malahayati Sulsel.
Sedangkan Indira adalah wakil ketua DPRD Makassar. Sekaligus tercatat sebagai bendahara Nasdem Makassar dan ketua Garnita Malahayati Kota Makassar.
DPP Nasdem bahkan telah menerbitkan rekomendasi kepada Cicu sebagai calon Nasdem di pilwali Makassar. Di lain tempat, Indira dikabarkan mendapat ajakan Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto untuk menjadi calon wakil.
Indira tidak ragu-ragu lagi menyampaikan keinginannya menjadi calon wakil Danny langsung ke Cicu, serta Ketua DPW Partai Nasdem Sulsel H Rusdi Masse.
“Saya mengikuti jalur partai. Saya hanya minta izin yang di atasku, ya Bu Ketua (Cicu). Selanjutnya Bu Ketua yang teruskan ke DPW (RMS),” ungkapnya di gedung DPRD Makassar, Selasa (10/10).
Niat Indira menyikapi ajakan Danny bakal diuji jelang Pilwali 27 Juni mendatang. Sebelumnya Indira mengaku terkejut atas tawaran itu. Ia pun menjelaskan selama kurang lebih tiga tahun menjadi wakil rakyat, dia tidak pernah memikirkan akan maju sebagai wakil wali kota Makassar. Apalagi bersama dengan Danny.
Ditambah lagi, selama ini bisa dikatakan kader Nasdem selaku partai yang telah membawa namanya besar, adalah salah satu partai politik yang kurang merespon program kerja Danny Pomanto.
“Kader Nasdem itu selalu taat aturan. Karena saya adalah kader partai, maka saya serahkan sepenuhnya kepada partai saja,” ucapnya.
Indira mengaku tak ingin terburu-buru mengambil keputusan apakah bersikukuh maju atau tidak. Apalagi ada dua nama lain selain dirinya yang masih dirahasiakan untuk menjadi calon pendamping Danny.
“Ini semua belum pasti. Makanya, jangan dulu terlalu diributkan di Nasdem. Kan ada Ibu Cicu. Selain selaku ikon partai, pengalamannya di pemerintahan jauh lebih banyak dari saya. Apalagi saya, masyarakat belum terlalu mengenal sosok seperti apa itu Indira. Pasang baliho dan lainnya tidak pernah,” tuturnya.
Ia pun tak membantah bahwa hubungannya Cicu sedikit renggang setelah namanya disebut-sebut akan berpasangan dengan Danny. Padahal dia belum memutuskan sama sekali.
Cicu yang dikonfirmasi perihal ini, meminta agar dirinya tidak berkomentar dulu. “Sama yang lain maki dulu,” kelitnya, kemarin.
Atas dinamika yang berkembang tersebut, RMS memastikan kalau di tubuh Nasdem Makassar tidak akan gaduh, apalagi sampai mengalami perpecahan.
RMS yang juga bupati Sidrap memberikan jaminan jika partai yang dipimpin oleh Cicu di Makassar ini akan aman-aman saja. Sebab rekomendasi yang dikeluarkan DPP telah memiliki kekuatan, sehingga para pengurus dan kader akan tetap loyal pada keputusan partai.
RMS meyakini sikap kedewasaan kader Nasdem dan para pengurusnya di Makassar telah mereka perlihatkan selama ini. “Pengurus dan kader Nasdem saya pikir telah memiliki kecerdasan dalam berdinamika politik. Contoh lah Kakak Cicu. Meskipun dekat sama Indira, tapi sikapnya yang dewasa sehingga dia mampu memahami dinamika politik di kota Makassar,” kata RMS.
Untuk itulah dirinya yakin jika tak akan ada riak perpecahan yang akan tumbuh di partai yang telah ia pimpinnya sejak setahun dua bulan ini. Apalagi, kata RMS, partainya dihuni oleh anak muda yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi.
Untuk pilgub Sulsel, baik Abd Aziz Qahhar maupun Andi Mudzakkar belum memberikan penjelasan soal indikasi saling jegal kerabat. Namun Cakka -panggilan akrab Andi Mudzakkar– sudah memberi penjelasan terkait pertarungannya dengan saudara.
Bupati Luwu dua periode mengemukakan bila nanti dirinya ikut bertarung di pilgub, maka untuk ketiga kalinya ia bertarung dengan kerabat.
Pertama, Cakka yang berpasangan dengan Syukur Bijak berhadapan dengan Buhari di pilbup Luwu 2008. Kemudian selaku ketua Golkar yang mendukung Sayang Jilid II, Cakka berhadapan dengan Aziz sebagai wakil Ilham Arief Sirajuddin di Pilgub 2013 lalu.
Dosen politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono mengemukakan bila politik itu sejatinya tidak mengenal teman. “Saya lihat ini istilah jegal, begal, dan lainnya sedang marak dan jadi wacana. Tapi demikianlah politik. Menurut saya politik tidak mengenal teman, sahabat atau saudara. Makanya, dalam perspektif tertentu, politik biasa disebut “siasat.” Dan dalam siasat, semua orang akan selalu bersiasat dengan yang lain dalam mencapai keinginannya. Itulah mengapa politik biasa disebut sebagai hal yang kotor,” ujar Arief.
Dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad menilai jika begal atau semacamnya menjadi sebuah keniscayaan. “Bukan jegal atau begal, tapi strategi dalam kontestasi politik untuk mendapatkan kekuasaan yang terkadang baririsan dengan keluarga sendiri,” jelasnya. (ita/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top