Headline

Pilwali Mengarah Head to Head

MAKASSAR, BKM — Kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Makassar yang akan dihelat 27 Juni 2018 mendatang, sangat dimungkinkan hanya diikuti dua pasangan calon. Yakni sang petahana Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto dengan Munafri Arifuddin alias Appi.
Dari sejumlah diskusi yang digelar di beberapa tempat, hampir semuanya mengungkapkan bila pertarungan akan berlangsung head to head alias satu lawan satu.
Supervisor Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, peluang head to head di pilwali Makassar sangat terbuka lebar. Alasannya, calon penantang petahana Danny, selama dua bulan terakhir mengintensifkan komunikasi untuk mendorong satu pasangan saja. Gerbong ini dimotori koalisi Partai Golkar dan Nasdem.
“Pilkada Makassar saat ini sudah mengarah ke head to head. Satu pasangan hampir pasti itu Danny dan calon wakilnya. Sisa penantangnya, menunggu finalisasi siapa yang akhirnya didorong oleh koalisi Golkar-Nasdem,” ujar Arif, pekan lalu.
Menurut dia, penentuan pasangan yang bakal menjadi penantang Danny, dianggap bukan hal mudah untuk ditetapkan. Mengingat, beberapa nama yang disiapkan untuk didorong maju berpasangan, sejauh ini terkesan masih tarik-menarik.
Seperti, apakah duet None-Appi atau sebaliknya, Rudal-Cicu, None-Cicu. Begitu pun wacana Appi-Cicu.
“Nama-nama yang disimulasikan ini, masing-masing punya peluang menjadi calon wali kota. Terutama None, Rudal dan Appi. Sehingga tentu bukan perkara mudah kalau dari tiga nama tersebut dipasangkan. Kecuali kalau satu diantaranya diduetkan dengan Cicu, itu lebih realistis. Sebab ada kecenderungan Cicu tidak ingin memaksakan di posisi 01,” papar Arif.
Lalu seberapa besar peluang jika terjadi head to head? Arif yang lembaganya sukses memenangkan sekitar 50-an pilkada di Indonesia selama 7 tahun terakhir, mengurai ada fenomena di pilkada selama ini, jika petahana lebih memungkinkan ditaklukkan jika head to head, ketimbang di atas dua pasangan.
Ia kemudian mengambil contoh dari pilkada Luwu Utara di tahun 2015. Kala itu, petahana dikalahkan oleh Indah Putri Indriana. Begitu juga duet petahana Takalar, harus mengakui keunggulan penantangnya.
Contoh lain di pilgub Banten dan DKI Jakarta belum lama ini. Incumbentnya juga kalah dari para penantangnya.
Meski demikian, mengalahkan Danny di Makassar bukan hal mudah. Selain per hari ini masih punya modal tingkat elektabilitas yang mumpuni untuk ukuran incumbent, tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya juga tergolong tinggi. Termasuk persepsi tentang keberhasilannya memimpin Makassar.
Direktur Eksekutif PT Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, menilai jika peluang head to head antara Danny versus Appi sudah di angka 90 persen. “Menurut pantauan kami sudah berada pada angka 90 persen. Sebab pergerakan parpol hanya mengarah ke Danny dan Appi,” ujar Suwadi.
Meski demikian, yang ditunggu adalah pergerakan politik Partai Demokrat yang cenderung diam. “Apakah Demokrat ke Danny atau tidak. Jika Demokrat ke Danny, maka hampir pasti head to head. Namun jika tidak ke Danny, maka potensi tiga pasangan terbuka, dimana Deng Ical jadi figur alternatif,” ucapnya.
Sekretaris DPC PDIP Makassar, Mesakh Raymond Rantepadang mengatakan potensi terjadinya head to head di Makassar bisa saja terjadi. Sebab hingga kini pertarungan dan kondisi di parpol masih dalam keadaan cair.
“Kemungkinan besar memang bisa terjadi. Sifatnya kan sekarang ini semua masih cair,” ungkapnya di DPRD Makassar, pekan lalu.
Namun ia belum dapat mempresentasikan atau membeberkan peluang terjadinya head to head tersebut. Sebab kondisi menjelang pilwali masih dinamis dan bisa berubah.
“Bisa tiga sampai empat orang penantang Danny. Itu saya katakan karena masih belum ada keputusan,” ujarnya.
Politisi Golkar Rahman Pina menuturkan, besar kemungkinan terjadinya head to head dengan calon lain. Terlebih lagi kondisi di sejumlah parpol semakin mengerucut dan terkonsolidasi.
“Ini sifatnya masih dinamis, masih bisa berubah-ubah. Head to head saya katakan bisa saja terjadi, mengingat ke arah sini sudah mengerucut sejumlah parpol. Golkar sendiri masih menunggu putusan DPP,” jelasnya.
Appi sendiri yang dimintai tanggapannya mengaku sangat siap jika dirinya head to head dengan wali kota petahana. ‘Saya sudah sangat siap 100 persen,” tulis Appi via WhatsAppnya.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Luhur A Prianto, mengemukakan bila salah satu formula untuk mengalahkan petahana adalah dengan mengkonsolidasi kekuatan penantang dan menciptakan kompetisi head to head.
“Saya kira model ini kurang lebih sama juga terjadi di pilkada Takalar dan Luwu Utara sebelumnya,” ujar Luhur.
Sepertinya, menurut Luhur, arah polarisasi kekuatan pilwali semakin terbelah menjadi dua kutub kekuatan, petahana Danny dan penantang Appi. “Tidak ada lagi kandidat lain yang punya pergerakan progresif. Tantangannya secara internal adalah komitmen dan pembagian tanggung jawab yang proporsional,” terangnya.
Menurutnya, ada banyak kandidat dan partai politik besar yang bersedia ‘mengubur mimpi-mimpi kontestasi’ mereka. Oleh karena itu, komitmen yang saling menguntungkan pada pihak yang diusung harus terukur. Sementara sharing tanggung jawab secara proporsional, lebih pada upaya menghindari monopoli atau dominasi salah satu pihak dalam kerja-kerja elektoral koalisi penantang.
Analisasi sedikit berbeda dikemukakan dosen politik Unibos 45 Arief Wicaksono. “Saya kira peluangnya bisa dikreasikan. Artinya, itulah yang sekarang sedang digagas dan dimulai dengan koalisi Golkar-Nasdem. Situasi itulah yang akhir-akhir ini menghasilkan banyaknya surat tugas partai yang keluar. Partai cenderung hati-hati dan tidak gegabah memberikan rekomendasi kepada figur, hingga figur tersebut memenuhi persyaratan yang ada di dalam surat tugas,” jelas Arief.
Dosen politik UIN Alauddin Firdaus Muhammad menilai jika peluang head to head memang ada, namun semuanya tergantung partai politik. “Tergantung dukungan partai politik. Jadi memang kecenderungan partai mengarah pada head to head,” pungkas Firdaus. (ita/rus)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top