Headline

Calo Kios Gentayangan di Makassar Mall

MAKASSAR, BKM — Bangunan baru Pasar Sentral (Makassar Mall) telah lama difungsikan. Namun, hingga saat ini masih banyak pedagang yang belum masuk menempati lods dan kiosnya untuk berjualan.
Kondisi inipun dimanfaatkan oleh mereka yang hendak meraup keuntungan pribadi. Calo bergentayangan, menawarkan kios dan lods yang hendak dijual kembali.
BKM membuktikan praktik percaloan itu ketika berkunjung ke Makassar Mall, Jumat (6/10). Cukup mudah menemukan mereka yang mengaku sebagai pedagang dan memiliki banyak kios dan lods yang siap dijual.
Salah satunya HS. Lelaki tua yang sering duduk di lantai dasar Makassar Mall dekat dari eskalator ini mengaku memiliki banyak tempat berupa kios atau lods untuk dijual. Soal harga, ia menyebut angka yang lebih mahal dari yang diberlakukan PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) selaku pengembang.
“Saya jual ada Rp2,2 miliar untuk ukuran lebar 4,7 meter dan panjang ke belakang 2,5 meter. Nanti surat-suratnya saya urus di PT MTIR,” ujarnya enteng.
Tidak banyak yang bersedia ia jelaskan. Termasuk tentang bagaimana caranya mendapat banyak kios dan lods dalam gedung baru Pasar Sentral, sementara masih banyak pedagang lama sampai sekarang masih berada di penampungan dan belum mendapat tempat berjualan.
“Janganmi tanya berapa kios dan lodsku. Bagaimana saya dapat banyak tempat. Pokoknya, kalau ada uang disitu dan berapa banyak, saya bisa kasikan tempat. Dimana yang dimaui dan disuka. Kalau tanya-tanya, tidak usahmi,” cetusnya.
Terpisah, salah seorang yang mengaku sebagai orang di PT MTIR dan tidak mau menyebut namanya, berkata kepada BKM agar sebaiknya ketika ingin sewa atau mengambil lods atau kios, langsung saja datang mengurus ke MTIR.
Dia mengakui, memang ada beberapa pedagang yang sekarang ini memiliki banyak tempat untuk jual. Bahkan ada yang bertindak sebagai penjual tempat milik pedagang lain. Tentunya mereka saling bekerja sama dan menawarkan harga yang lebih jauh dan tidak sesuai standar.
“Biasanya, yang jual tempatnya pedagang lain, tapi mereka kerjasamaji. Dia jual dengan harga tinggi dan tidak sesuai standar. Jadi baiknya kalau mau beli tempat langsung ke PT MTIR saja. Jadi bisa dijelaskan mana tempat yang sudah ada pemiliknya, dan mana yang belum. Harganya juga pasti standar. Kalau dari pedagang, pasti mau juga dapat untung,” terangnya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Sentral Makassar (APPSM) Andi Parenrengi, menjelaskan sebenarnya para pedagang, khususnya yang lama atau korban kebakaran telah lama ingin pindah dan masuk berjualan dalam bangunan baru. Hal itu ditandai dengan kuatnya desakan mereka terhadap pihak pengembang merampungkan pembangunan.
Namun setelah pembangunannya rampung, pihak MTIR tidak bisa memberikan kemudahan bagi para pedagang untuk masuk. Kemudahan yang dimaksud Andi Parenrengi, adalah pedagang diberikan kepercayaan untuk lebih dulu masuk mengisi lods dan kios tempat berjualan. Barulah setelah itu dilaksanakan akad kredit.
“Dari dulu pedagang sudah mau pindah masuk, tapi tidak ada kemudahan yang diberikan dari PT MTIR. Maunya pedagang, masuk dulu baru akad kredit. Masuknya juga harus secara bersamaan. Sementara PT MTIR tidak mau seperti itu. Maunya, akad kredit dulu baru tempati lods dan kios,” jelas Parenrengi, kemarin.
Jika keinginan PT MTIR harus diikuti, menurut Parenrengi, akan sulit terealisasi. Apalagi masih banyak yang belum masuk berjualan di dalam bangunan baru Makassar Mall. Situasi ini dinilai sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan, sekaligus berdampak pada pembayaran kredit lods dan kios.
“Mengenai harga kios dan lods, semua disetujui pedagang yaitu harga Rp65 juta per meter. Tergentung lokasinya. Tapi yang menjadi beban pikiran pedagang saat ini, kalau mereka akad kredit sebelum masuk berjualan, bagaimana pembayaran lods dan kios nantinya. Karena masih banyak pedagang yang berjualan di luar. Pasti mereka yang menjual di dalam akan sepi pengunjung. Jadi apa yang mau dipakai untuk bayar angsurannya,” terangnya.
Untuk pengambilan lods ataupun kios, Parenrengi menyarankan kepada pedagang untuk melakukannya melalui asosiasi pedagang ataupun langsung ke kantor MTIR. Bahkan melalui pedagang yang memiliki tempat yang banyak dan mau dijualnya, juga diperbolehkan.
“Memang ada juga pedagang yang punya banyak tempat di dalam pasar. Itu dibenarkan, karena kios dan lods milik pedagang yang jual itu kan ada LHU-nya juga. Jadi sama LHU-nya yang dia jual. Tetapi harga tetap masuk dan sesuai dengan harga dari PT MTIR,” jelasnya.
Menurutnya, Lembaran Hasil Undian (LHU) adalah pengganti sertifikat. Sehingga pedagang yang memiliki banyak kios dan lods dalam gedung baru dan ingin menjualnya harus disertai dengan LHU.
“Jadi kalau mau menjual kios dan lods sama sertifikat bisa saja. Siapa yang mau larang. Kalau mekanisme seharusnya, yang diprioritaskan adalah pedagang yang kena musibah dulu. Jumlahnya ada 1.860. Kalau semuanya sudah dapat tempat, maka bisa kios dan lods dijual ke umum,” tandasnya.
Ketua Ombudsman RI Sulsel Subhan Djoer tidak menampik adanya praktik percaloan penjualan kios dan lods di Makassar Mall. Bahkan menurut dia, hampir semua harga lods dipermainkan oleh oknum yang mengatasnamakan pengelola.
“Modus begini selalu terjadi hampir di semua pasar yang ada di Sulsel. Kami menangani beberapa laporan serupa. Khusus Makassar Mall ini sudah lama terdengar,” ungkap Subhan, Jumat (6/10).
Dalam hal ini, Subhan memastikan adanya praktik yang mengakali aturan. “Sudah pasti ini ada praktek yang mengakali aturan, yang pasti melibatkan banyak pihak yang berkompeten untuk mendapatkan keuntungan lebih. Nah, kalau kalau ini dibiarkan tentu melanggar rasa keadilan para pembeli. Apalagi pembeli tangan kedua pasti harganya jauh lebih mahal. Kalau ada unsur pidana, sebaiknya pihak berwajib turun tangan,” imbuhnya. (arf-jun/rus/c)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top