Berita Kota Makassar | Wakil Danny 'Bukan' Politisi
Headline

Wakil Danny ‘Bukan’ Politisi

MAKASSAR, BKM — Teka-teki siapa pendamping Wali Kota Makassar petahana Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto jelang Pemilihan Wali Kota (Pilwali) mendatang, memang masih teka teki. Kendati demikian, sejumlah figur mulai dikaitkan dengan sang arsitek.
Santer terwacanakan adalah figur yang berasal dari kalangan politisi. Khususnya kader partai politik yang bakal menjadi koalisi pengusungnya di hajatan demokrasi lokal lima tahunan tersebut.
Di samping itu, tidak sedikit yang memprediksi jika pasangan Danny berasal dari birokrat senior. Alasannya, dia butuh pendamping yang paham tentang struktur pemerintahan.
Lantas, sejauh mana plus-minus jika Danny berpasangan dengan politisi atau birokrat? Jaringan Suara Indonesia (JSI) punya penilaian tersendiri mengenai pendamping mantan dosen arsitek di Unhas Makassar tersebut.
Supervisor Strategi Pemenangan JSI Arif Saleh menuturkan, Danny bakal selektif dalam menentukan pendamping. Alasannya, posisi petahana tersebut sangat berbeda saat maju di pilwali 2013.
“Danny sudah punya modal tingkat keterpilihan yang tergolong bagus. Sangat beda dengan pencalonannya di pilwali 2013, yang memulai dari nol atau di bawah beberapa kandidat saat itu,” kata Arif, Selasa (19/9).
Atas dasar tersebut, Danny tentu bisa sedikit leluasa dalam menentukan pendamping. Apalagi jika sejumlah parpol cenderung tidak memaksakan lagi siapa pasangannya.
Menurut Arif, Danny sudah punya pengalaman berpasangan dengan politisi. Sehingga ia sudah bisa merasakan sendiri, apa kelebihan dan kelemahan jika berduet kembali dengan figur dari kalangan politisi. “Ia berusaha tidak lagi di bawah telunjuk parpol dalam menentukan pendampingnya. Lebih leluasa menyeleksi, meskipun tetap beberapa partai mengusulkan juga kadernya. Hak prerogatif Danny sekarang yang paling menentukan. Tidak lagi diaturkan,” kata Arif.
Fakta Danny yang begitu leluasa, memungkinkan figur dari kalangan birokrat punya kans lebih untuk menjadi pendampingnya. Apalagi jika di koalisi yang dibangunnya terdiri banyak partai politik.
“Sebenarnya Danny sisa mencari pendamping yang benar-benar bisa diajak kerja sama, dan mampu menerjemahkan keinginannya. Dan sepertinya Danny cenderung menginginkan figur birokrat yang dianggap nyaman dalam menjalankan pemerintahan,” papar Arif yang lembaganya sukses “merajai” kemenangan pilkada di Indonesia selama delapan tahun terakhir.
Apalagi, lanjut Arif, dengan koalisi yang tergolong gemuk diluar Golkar-Nasdem, Danny tentu harus menjaga hubungan dengan partai pengusung. Untuk itu, salah satu jalan agar tidak ada parpol yang kecewa, yakni memilih pendamping bukan dari kalangan politisi.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, menilai jika Danny ingin wakil yang bukan dari kalangan politisi, maka sosok Yusuf Sommeng paling tepat. “Sebab, selain sarat pengalaman, juga dekat dengan gerbong Syahrul Yasin Limpo,” ujar Suwadi.
Menurutnya, Danny memang perlu selektif betul memilih calon pendamping, agar wakilnya berperang menambah electoral, dan membantu pemerintahan saat terpilih.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Luhur A Prianto, menyebut posisi elektabilitas Danny sebagai petahana masih leading dibanding kandidat lain. “Posisi ini sebenarnya membuat Danny punya banyak opsi dalam memilih wakil. Kalau pertimbangan ingin melengkapi kinerja pemerintahannya, terutama di bidang pengawasan dan koordinasi serta akselerasi program-program strategisnya, maka Danny bisa saja memilih birokrat sebagai wakil. Tentu dengan persyaratan-persyaratan elektoral,” ujar Luhur.
Luhur melanjutkan, birokrat yang dipilih harus punya kontribusi elektoral untuk pasangannya. Di samping itu, sang birokrat juga memiliki daya terima (akseptabilitas) pada parpol pengusung.
Untuk menutupi backup politik Danny yang relatif rendah, maka sebaiknya mengambil partai-partai besar sebagai pengusung. Terutama Danny harus bisa menjadikan partai-partai besar dengan infrastruktur yang mapan sebagai pendukung. Seperti Demokrat, Golkar atau Gerindra.
“Kalau syarat minimal itu bisa dipenuhi, saya kira opsi memilih wakil dari kalangan birokrat bisa menguntungkan Danny,” ucapnya.
Dosen politik Unibos 45 Arief Wicaksono, berpendapat bahwa sebaiknya wakil Danny memang bukan diambil dari kalangan politisi atau elit politik. “Karena sebenarnya yang Danny butuhkan adalah wakil yang bisa mengimbangi dia, dalam melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik di dalam, sementara dia tetap melakukan pencitraan positif ke luar,” ujar Arief.
Akademisi dari UIN Alauddin Firdaus Muhammad memiliki analisis yang sedikit berbeda. Menurut dia, berisiko bagi Danny jika mengabaikan kader partai untuk mewakilinya, kecuali figur wakil disestui partai pengusung. (rif)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top