Berita Kota Makassar | Tak Tega Ibu Dianiaya, Satpol PP Kalap Bunuh Bapak
Headline

Tak Tega Ibu Dianiaya, Satpol PP Kalap Bunuh Bapak

BKM/MUH SYAHIDIN BUNUH-Sudirman alias Issong (baju hitam) menjalani pemeriksaan di Mapolres Sinjai.

SINJAI, BKM — Mengenakan baju kaos hitam dan celana warna senada, Sudirman berada di dalam ruang penyidik Satuan Reskrim Polres Sinjai, Jumat (15/9). Ia duduk di kursi sambil memegang kertas.
Pria ini telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Yang jadi korbannya bukanlah orang lain. Tapi bapaknya sendiri.
Kejadiannya berlangsung pada hari Sabtu (9/9) lalu. Lokasinya di Desa Tellulimpoe, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai.
Saat itu korban bernama Sangka bin Maddi ditemukan tewas dalam posisi tengkurap bersimbah darah. Disebutkan, mayat Sangka pertama kali ditemukan oleh istrinya Cae.
Melihat suaminya sudah tak bernyawa, Cae selanjutnya meminta tolong ke warga untuk mengevakuasinya. Kala itu, Cae menyampaikan kepada warga dan aparat kepolisian setempat, bahwa suaminya meninggal karena jatuh dari tangga sekitar pukul 18.30 Wita.
Namun sebagian warga tidak mempercayainya. Karena saat kejadian, korban dan anaknya sempat terlibat cekcok. Kematian Sangka pun langsung mengundang teka teki.
Apalagi, di dekat jasad korban berserakan batu sebesar kepala. Darah juga menggenang di sekitar jasad korban yang ditemukan di belakang rumah.
Kepala Desa Tellulimpoe yang juga adik korban menaruh curiga dalam kejadian ini. Diapun lalu memberi informasi kepada pihak Polsek Tellulimpoe, bahwa kuat dugaan Sangka dibunuh oleh anaknya sendiri, yakni Sudirman. Alasannya, sebelum korban meninggal, dia terlibat cekcok. Hal itu berdasarkan keterangan warga sekitar.
Aparat Polsek Tellulimpoe menindaklanjuti informasi tersebut. Sejumlah saksi dimintai keterangannya. Termasuk istri dan anak korban.
Hasil penyelidikan sampai pada temuan indikasi korban meregang nyawa diduga karena dibunuh. Pelaku mengarah Sudirman alias Issong, putra Sangka. Polsek Tellulimpoe lalu berkoordinasi dengan Polres Sinjai.
Setelah enam hari sepeninggal korban, Rabu (13/9) sekitar pukul 10.00 Wita, aparat Polres Sinjai langsung mengamankan terduga pelaku Sudirman. Ia kemudian digiring ke mapolres untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Dihadapan polisi, Sudirman mengakui perbuatannya. Ia membunuh bapaknya sendiri, lantaran tidak tega melihat ibunya yang selalu dizalimi dan dianiaya. Kemarahan sang ayah biasanya dilampiskan seusai dia menenggak minuman keras jenis ballo.
”Setiap bapak pulang dalam keadaan mabuk setelah minum ballo, hal yang biasa dilakukan adalah menganiaya ibuku walau tanpa sebab. Mamakku dipukuli di sekujur tubuhnya menggunakan kayu. Saya tidak tega melihatnya,” tutur Sudirman yang ditemui di Mapolres Sinjai, kemarin.
Kejadian seperti ini, kata dia, sudah berlangsung sejak lama. ”Terakhir saya lihat mamakku menangis di luar rumah. Saya masuk ke dalam memberitahukan sekaligus menasihati bapak. Saya mau tanya kenapa ibu dipukul lagi. Tapi dia tidak ada di rumah. Saya cari lagi, ternyata ada di belakang rumah,” terang Sudirman lagi.
Begitu bertemu, Sudirman lalu bertanya ke bapaknya. Namun bukan jawaban yang didapatkannya. ”Magailo ko usyalllai emmannu. Ikotopa kitu elotokko kuhuno. Eha memenno. Ko tania iko mpunoa, iyya mpunoko,” kata Sudirman dalam bahasa Bugis menirukan perkataan bapaknya. Artinya kurang lebih; kenapa kalau saya pukuli ibumu. Kamu mau juga saya bunuh. Melawan memang. Kalau bukan saya yang bunuh kamu, kamu yang bunuh saya.
Disitulah Sudirman kapal. Begitu bapaknya berbalik, dari arah belakang ia langsung memukul Sangka dengan menggunakan batu. Korban pun jatuh tersungkur. Setelah itu, pelaku langsung meninggalkan bapaknya yang tak berdaya.
Sementara Cae, kepada polisi menuturkan perlakuan suami terhadap dirinya. Ketika jadi sasaran pemukulan, ia selalu berusaha melepaskan diri dan lari menjauh dari suaminya.
”Napukulka, Pak pakai kayu. Juga biasa napukulka pakai kursi. Saya tidak tahan sakitnya. Jadi saya lari. Setelah merasa aman, baru saya berhenti dan duduk merintih kesakitan. Tiba-tiba anakku datang dan bertanya, kenapaki menangis bu? Kubilang, saya dipukuli lagi bapakmu. Saya minta anakku supaya tidak masuk rumah. Tapi dia tetap masuk. Selanjutnya, saya tidak tahu lagi kejadiannya,” terang Cae.
Informasi yang diperoleh dari lokasi kejadian, almarhum Sangka sebelumnya pernah dipenjara dalam kasus pembunuhan. Ia menghabisi nyawa menantunya sekitar tahun 2004 lalu. Hukuman penjara tujuh tahun menjeratnya. Setelah bebas, ia kembali ke kampungnya.
Bagaimana dengan Sudirman? Melalui Asdar, teman sekolahnya di SMP dulu, diperoleh keterangan bahwa Sudirman orangnya baik. Tidak pernah membuat onar ketika bersekolah. Bahkan termasuk anak yang cerdas. ”Sudirman itu anggota Satuan Polisi Pamong Praja Sinjai,” kata Asdar.
Iccang, teman Sudirman di Satpol PP Sinjai pun mengungkap hal senada. ”Keseharian (Sudirman) di kantor dia baik sekali. Tidak pernah cekcok. Dia orangnya pendiam, sabar dan pandai bergaul,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Sinjai AKP Sardan membenarkan kejadian tersebut. ”Kepala Desa Tellulimpoe yang datang menyampaikan ke polisi, bahwa kematian salah seorang warganya diduga kuat karena dianiaya anaknya sendiri,” jelas AKP Sardan, kemarin.
Pelaku dijerat Pasal 338 tentang pembunuhan dan penganiaayaan berat yang mengakibatkan seseorang meninggal dunia. Ancaman hukumannya 20 tahun.
”Untuk sementara, motif pembunuhan karena pelaku kasihan melihat ibunya dianiaya sehingga sekujur tubuhnya lebam. Bahkan muntah darah. Korban diketahui pernah terlibat kasus pembunuhan tahun 2004 lalu dan dihukum tujuh tahun penjara. Ini sudah kita konfirmasi ke Polsek Tellulimpoe, dan kapolseknya membenarkan hal itu,” terang Kasat Reskrim. (din/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top