Headline

Kasus Narkoba Tertinggi di Makassar, Sidrap dan Palopo

BKM/CHAIRIL KASUS NARKOBA-Kepala BNNP Sulsel Brigjen Pol Mardi Rukmianto (kiri) memaparkan capaian kegiatan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kantornya, Rabu (13/9).

MAKASSAR, BKM — Tiga daerah di Sulsel menempati posisi tertinggi kasus narkoba yang ditangani pihak kepolisian pada tahun 2016. Berada di urutan pertama adalah Makassar dengan 646 kasus. Disusul Kabupaten Sidrap 93 kasus, dan ketiga Kota Palopo dengan 77 kasus.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel Brigjen Pol Mardi Rukmianto dalam keterangan pers di kantornya, Rabu (13/9). Ia memaparkan capaian kegiatan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Dalam penjelasannya, Mardi menerangkan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia makin lama makin bertambah.
Buktinya, di tahun 2014 tercatat 1,5 persen jumlah penduduk yang menyalahgunakan narkoba.
Setahun kemudian, pada tahun 2015 telah mencapai angka 2,8 persen. Rinciannya, penyalahguna di kalangan pelajar sebanyak 27,32 persen, pekerja 50,34 persen, dan kalangan yang tidak bekerja sebanyak 23,34 persen.
Sulsel sendiri menjadi provinsi dengan tingkat prevalensi terbesar ke sembilan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, dengan 2,27 persen di tahun 2015. Sedangkan provinsi dengan prevalensi tertinggi penyalagunaan narkoba adalah DKI Jakarta sebesar 5,08 persen. Disusul Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Maluku, DI Yogyakarta, lalu Sulsel.
Ada beberapa faktor yang menyababkan semakin tingginya penyalahguaan narkoba di Indonesia. Salah satunya adalah dukungan modal yang besar dari jaringan narkoba berskala internasional yang beroperasi di Indonesia.
Jaringan ini berasal dari Afrika Barat, Iran, Tiongkok, Pakistan, Malaysia, dan negara-negara Eropa. Jalur masuknya pun melalui laut dan pelabuhan-pelabihan tidak resmi (jalur tikus).
Selain itu, para narapidana kasus narkoba yang masih mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara membuat jalur penyalahgunaan ini masih terus ada. Penegakan hukum terhadap mereka ternyata belum memberikan efek jera.
Terungkap, ada 60 jaringan narkoba yang dikendalikan narapidana di 22 lapas. Peredaran narkoba di Indonesia juga diindikasi kuat sebagai instrumen proxy war oleh negara-negara asing.
Di Sulsel sendiri, nilai prevelensi penyalahgunaan narkoba untuk yang pernah memakai narkoba mencapai 4,5 persen. Sedangkan prevelensi untuk yang telah menggunakan narkoba selama setahun sebanyak 2,1 persen.
Dengan tingginya kasus narkoba ini, BNNP Sulsel siap menerapkan beberapa strategi untuk mengantisipasinya. Antara lain akan meningkatkan kelompok penggiat anti narkoba sampai di desa-desa di setiap wilayah. Penggiat ini yang nantinya akan difungsikan sebagai konselor adiksi. (nug/rus/c)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top