Sulselbar

Sambangi Transmigran, Ciptakan Polisi Kamtibmas

FOTO BERSAMA -- Rombongan Bhatac Polres Sidrap berfose di halaman masjid Dusun Langgara Tungga, Desa Tanatoro Kecamatan Pitu Riawa.

PETUALANGAN wisata sambil bekerja dengan menggelar safari keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang digagas Kapolres Sidrap AKBP Wistarsa Aji, SIk, SHMH terus melibatkan masyarakat membantu tugas-tugas Polri dalam menjaga keutuhan NKRI.

Sebagai langkah awal menciptakan 3.000 orang masyarakat ‘Polisi Kamtibmas’ yang tersebar di 11 kecamatan yang ada di Sidrap. Witarsa Aji, intens mengunjungi setiap desa-desa hingga pegunungan.
Tur wisata rombongan Bhayangkara Trail Adventuring Communitas(Bhatac) selama dua hari Sabtu-Minggu (9-10) September 2017, para rider yang berjumlah 70 orang ini akhirnya menjelajahi alam pegunungan Sidrap.
Hanya dalam waktu sehari, rombongan yang dipimpin Kapolres Sidrap berhasil menaklukkan jalur paling ekstrim Desa Betao Riase dan Tanatoro kecamatan Pitu Riase. Luas wilayahnya disebutkan 37 kilometer bujur sangkar dengan berada di titik koordinat S 03 39 060, E 120 02 330 dengan ketinggian 2.160 meter diatas permukaan laut.
Di desa terpencil ini memiliki 7 dusun yang kesemuanya berjarak antara 6 hingga 15 kilometer yakni dusun Tanatoro, Langgara Tungga, Matajang, Lemo, Tabaro, Lariu dan Cillellang yang kesemuanya itu berbatasan langsung dengan kabupaten Enrekang, Luwu dan Wajo.
Total jarak tempuh perjalanan ke desa mencapai 70 kilometer dari star Kota Pangkajene.
Tanatoro terkenal dengan penghasil gula merah aren, merica, kopi dan cengkeh. Dengan jumlah penduduk 2.600 yang didominasi warga transmigrasi asal Jawa yang rata-rata adalah berkebun, bertani dan beternak.
“Serasa saya pulang kampung ini. Ketemu saudara-saudara asal Jawa ini,”ungkap Witarsa saat bertemu warga transmigrasi yang punya Paguyuban Kerukunan Keluarga asal Jawa ini.
Menurut Kapolres potensi wisata yang dimiliki Sidrap cukup menjanjikan. Salah satunya Masjid tertua di dusun Langgara Tungga.
Konon sejarahnya, Mesjid ini didirikan sekitar abad ke-17 (tahun 1603) masehi. Namun sudah beberapa kali mengalami pemugaran oleh pemerintah setempat.
Di Masjid itupula, peradaban islam tersebar ke wilayah Addatuang Sidrap bermula dari Masjid ini. Secara etimiloginya, Langgara berarti Langgar atau panggung yang dinaiki, sedangkan Tungga adalah satu atau tunggal.
Menurut cerita dari Imam desa dan tokoh masyarakat yang dibenarkan kepala Desa Tanatoro Abdullah, langgar ini didirikan oleh Sando Batu yang bernama Aceh yang keturunannya sudah mencapai 12 susun generasi.
Bangunannya berupa rumah panggung yang sekarang sudah berata Seng besi ini, kemudian di renovasi serabut ijuk dan memiliki 12 jendela, dan sebuah tangga. Kondisi bangunan tersebut sampai sekarang masih terawat dengan baik oleh masyarakat.
Kalau disimak sejarahnya, mesjid tersebut sudah berumur 414 tahun dan yang pertama di Sidrap.
(ady/C)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top