Metro

Rektor: Buku Sejarah Arianisme Patut Didalami

MAKASSAR, BKM– Mempelajari sejarah di Inggris dan arianisme dikaji dalam Seminar dan bedah buku Warisan Sejarah Arianisme, di Gedung Rektorat lantai 4, Selasa (12/9).
Buku dari Maurice Wiles, Regius Professor of Divinity di Universitas Oxford yang diterjemahkan kembali oleh Zaenal Muttaqin dalam versi Indonesia.
Rektor UIN Alauddin, Prof Musafir Pababari, yang membuka bedah buku tersebut mengatakan, buku Warisan Sejarah Arianisme karya Maurice Wiles patut dipelajari dan didalami.
“Bedah buku ini saya kira patut kita dalami dalam membacanya sebab banyak sejarah perkembangan perbandingan agama lain yang perlu kita pelajari, yang nanti dapat mengembangkan pemikiran kita terkait beberapa mazhab,” ungkap Musafir.
Adapun yang menarik untuk diketahui bersama, jelas Musafir, dengan pesatnya perkembangan agama Kristen yang membidatkan ajaran arianisme yang diamalkaan Newton, membuat agama Kristen bangkit di Inggris pada Abad Ke-18 dan melibatkan tokoh-tokoh besar.
“Saya membaca warisan arianisme ini adalah konsistensi dari pemikiran teologis, buku ini menceritakan berbagai macam sekte seperti ajaran dari Ibrahim. Buku ini bisa dipahami dalam berbagai segi. Inilah pentingnya diskusi seperti ini agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa terjawab,” jelasnya.
Sementara itu, antusiasme peserta yang hadir juga terlihat sebanyak 250 peserta mendapat doorprize berupa satu buku sejarah warisan arianisme. Acara ini juga di sponsori Perhimpunan Islam Paramartha Kadisiyah (PIPK), UIN Alauddin dan Pemkab Bantaeng dan Berita Kota Makassar.
Narasumber yang hadir diantaranya Zaenal Muttaqin, penerjemah buku Warisan Sejarah Arianisme dari Pustaka Matahari Bandung, Dr Mohammad Sabri AR, dosen Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang juga mendalami kajian-kajian irfani dan budayawan, serta kolumnis dan dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intim, Ishak Ngeljaratan.
“Saya membutuhkan 10 orang menerjemahkan buku ini dan hanya dua yang mampu memahaminya sebab versi Inggris dan diterjemahkan amatlah sulit,” beber Zaenal Muttaqin.
Selain itu, ia juga menuturkan bahwa kebanyakan masyarakat kurang mempelajari Islam secara terstruktur yang dimulai awal perkembangannya. “Saat ini saja kita kurang mengetahui Islam secara mendalam, sama halnya dengan warisan sejarah arianisme,” tambahnya.
Polemik paham Arian atau Arianisme, menceritakan tentang Kaisar Constantine mengadakan Konsili Nicea pada 325 M yang memutuskan bahwa ajaran Arian adalah bidat (bid’ah), yang kemudian bangkit di tahun 1400 tahun di Tanah Inggris, dan melibatkan orang-orang hebat dan memiliki reputasi baik seperti Sir Isaac Newton, William Whiston, dan Samuel Clarke.(ita)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top