Headline

Pengguna Narkoba di Sulsel Meningkat, Buwas ke Makassar

MAKASSAR, BKM — Kasus penyalahgunaan dan peredaran narkotika di Sulawesi Selatan terus meningkat. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), di daerah ini tercatat ada 131 ribu lebih pengguna narkoba di tahun 2016. Sementara pada tahun 2015 berada di angka 128 ribu.
Tak hanya itu, hasil rapat koordinasi terakhir yang dilakukan oleh BNN, ternyata diketahui jika Provinsi Sulsel jadi daerah strategis untuk mengedarkan dan mendistribusikan narkoba ke Kawasan Timur Indonesia (KTI).
“Hasil rapat kemarin, BNNP Maluku, Maluku Utara, Papua dan Sulbar menyampaikan hasil penyelidikan mereka atas narkoba yang beredar di wilayahnya, berasal dari Sulsel,” kata Kepala BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) Sulsel Brigjen Pol Mardi Rukmianto saat menemui Gubernur Sulsel, Selasa (12/9).
Menurut Mardi, posisi Sulsel sebagai pintu gerbang KTI memang memungkinkan sebagai tempat transit. Belum lagi wilayah Sulsel yang sebagian besar pesisir, memudahkan pengedar mengirimkan barang ilegal ini.
Terkait penyalahgunaan narkoba di Sulsel, dari 131 ribu yang tercatat, sebanyak 40 persen diantaranya merupakan pecandu berat. Sementara 15 persen menggunakan narkoba jenis suntik.
“Sulsel masih rawan peredaran narkoba. Yang kita rehabilitasi saja baru sekitar 1.428 orang. Sementara yang kita tangkap atau tindaki bersama pihak kepolisian hanya 1.621 orang di tahun lalu,” terangnya.
Kendala utama penanganan masalah narkoba, menurut pengganti Brigjen Pol Andi Taqdir Tiro ini, adalah masalah keterbatasan SDM. Termasuk modus peredarannya yang saat ini semakin canggih.
Karena itu, Mardi berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk pembentukan BNK. “Memang terkendala di anggaran, terutama di Bapennas, Kemenpan RB dan Kementerian Keuangan,” sebutnya.
Dalam kesempatan itu, Brigjen Mardi juga menyampaikan rencana kedatangan Kepala BNN RI Komjen Pol Budi Waseso. Buwas diagendakan melakukan kunjungan kerja ke Makassar bulan depan. Ia akan meninjau lokasi pusat laboratorium narkotika KTI yang akan dimulai pembangunannya tahun depan.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang mendengar laporan dari Kepala BNNP mengaku kaget. “Saya tidak mau ada kenaikan lagi (pengguna narkoba). Kita usahakan turun,” tandasnya.
Syahrul menjelaskan, posisi Sulsel memang menjadi daerah transit untuk barang/jasa ke KTI. Untuk itu, pihaknya berharap kepolisian, TNI dan BNN bisa bekerja sama untuk mencegah peredaran narkoba di wilayah ini.
Selain itu, untuk menekan angka peredaran narkoba perlu dilakukan upaya preventif yang masif. Karenanya, ia mengusulkan BNNP bekerja sama dengan Kesbangpol Sulsel membentuk penyuluh sampai tingkat desa.
“BNNK mutlak harus ada, mesti ada persiapan personel yang dilakukan untuk mengisi ini. Apalagi peran langkah preventif terdapat di kabupaten,” pungkasnya.
Ketua Granat (Gerakan Nasional Anti Narkotika) Makassar Arman Mannahau, mengiyakan jika Sulsel menjadi transit narkoba yang akan diedarkan di Kawasan Timur Indonesia. Beberapa kabupaten/kota menjadi daerah strategis. Salah satunya adalah Makassar.
Mengingat posisinya yang cukup strategis dengan berbagai sarana dan fasilitas yang dimiliki. Ada pelabuhan dan bandara besar.
Namun, kata Arman, perlu pula diwaspadai daerah-daerah yang selama ini tidak terdeteksi. Karena jejaring narkoba selalu berinovasi dalam melakukan aksinya.
Jaringan yang ada, saat ini tidak hanya memasukkan barang haram tersebut melalui bandara dan pelabuhan besar. Tapi juga di dermaga-dermaga kecil yang ada di kabupaten/kota.
Selain itu, katanya, perlu juga diwaspadai metode pengedarannya seperti apa. Jangan sampai modus sudah seperti yang terjadi di Jakarta.
Awalnya, ibukota negara RI itu hanya menjadi pusat distribusi narkoba khususnya sabu dan ekstasi untuk wilayah Indonesia. Barang haram yang berasal dari luar negeri itu dikirim dalam bentuk sudah jadi.
Namun saat ini, Jakarta sudah menjadi tempat untuk memproduksi narkoba. Hanya bahan baku yang dikirim dari luar negeri.
“Itu juga yang perlu diantisipasi di Sulsel, khususnya Makassar. Jika saat ini dalam bentuk narkoba yang langsung edar, jangan sampai nanti tiba-tiba ditemukan ada pabrik narkoba di sini, ” jelasnya kepada BKM, Selasa (12/9).
Kepada BNN, dia juga mengingatkan jangan sampai semua agenda operasi, rencana aksi, maupun data-data terkait narkoba dibuka ke publik secara vulgar. Alasannya, pergerakan BNN dalam memberantas narkoba bisa terbaca. Sementara aksi-aksi para bandar maupun pengedar akan lebih ditingkatkan sehingga sulit terdeteksi.
Saat ini, Granat cukup intens melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait dahsyatnya bahaya narkoba dalam merusak sendi-sendi kehidupan. Elemen pemerintah juga harus lebih proaktif melakukan langkah preventif dan antisipatif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat secara umum. Dia juga mengimbau seluruh masyarakat untuk menjaga keluarga masing-masing.
“Kalau kita semua kompak menjaga keluarga masing-masing, kita bisa mengeliminir zona peredaran narkoba. Memang harus fokus turun ke masyarakat, ” pungkasnya. (rhm/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top