Bisnis

Bank Mandiri Dorong Transaksi Non Tunai

BKM/AMIRUDDIN NUR TRANSAKSI NON TUNAI -- Kepala Bank Indonesia Sulampua, Bambang Kusmiarso (berdiri), sedang memberi penjelasan terkait Gerakan Nasional Non Tunai kepada peserta diskusi publik yang berlangsung di Jade Room Hotel Grand Clarion Makassar, kemarin.

MAKASSAR, BKM — Saat ini transaksi non tunai di Makassar khususnya dan Sulsel pada umumnya, masih terbilang cukup rendah. Jumlahnya masih dikisaran 50 persen lebih. Angka ini masih jauh dari transaksi non tunai yang terjadi di Malaysia dan Thailand yang mencapai 80 persen.
Bahkan, masih jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 90 persen. Untuk itu, seluruh stakeholder baik itu dari kalangan lembaga perbankan maupun media cukup memiliki peran penting dalam mendorong masyarakat untuk lebih menggunakan non tunai dalam melakukan berbagai transaksi dibandingkan transaksi secara tunai.
”Sebenarnya, Bank Mandiri dengan produk e-Money maupun e-Toll sudah secara intens mendorong masyarakat untuk bertransaksi secana non tunai. Khusus untuk e-Toll sendiri, hingga Agustus 2017, sudah terjual sebanyak 8.500 sampai 9.000 keping kartu e-Toll. Kami menargetkan, hingga akhir tahun 2017 ini bisa terjual sebanyak 35.000 sampai 40.000 keping. Untuk itu, kami akan terus mensosialisasikan berbagai keuntungan yang bakal diperoleh masyarakat atau konsumen saat bertransaksi non tunai dengan menggunakan e-Money maupun e-Toll,” kata Tonggo Marbun, Operation Head Bank Mandiri Region X Sulawesi dan Maluku, pada diskusi publik bertajuk ‘Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) Wujudkan Cashless Society yang berlangsung di Jade Hall Hotel Grand Clarion Makassar, Selasa (12/9). Diskusi ini digelar Pengda Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel bekerjasama Bank Mandiri Region X Sulawesi dan Maluku.
Diskusi yang dibuka Asisten Bidang Adminstrasi Pemprov Sulsel, Ruslan Abu mewakili gubernur Sulsel ini, menampilkan sejumlah narasumber, masing-masing Kepala Bandi Indonesia Sulampua, Bambang Kusmiarso, pengamat ekonomi, Prof Marzuki DEA, wakil dari OJK Regional 6, dan wakil dari PT Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) Makassar.
Sementara Ketua Pengda PJI Sulsel, Abdullah Rattingan, menjelaskan, program transaksi non tunai ini perlu disosialisasi secara massif di seluruh Indonesia. Termasuk di Makassar, kta metropolitan yang merupakan hub di Indonesia Timur. Dimana, transaksi cukup besar baik peruntukkan bisnis maupun rumahtangga.
”Sosialisasi ini harus meluas dan menyasar semua kalangan. Serta infomasi dipupuk sedini mungkin. Kalangan muda adalah future costumer. Untuk menggaet kalangan muda membudayakan transaksi tanpa uang kes dalam kehidupannya, agar kedepannya mereka terbiasa. Karenanya, kami mengundang mahasiswa dan civitas akademika untuk menjadi peserta,” katanya.
Untuk diketahui GNNT telah dicanangkan oleh Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014, tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen nontunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang bertransaksi nontunai dengan menggunakan instrumen nontunai (Less Cash Society/LCS) dalam kegiatan ekonominya. (mir)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top