Gojentakmapan

Sekolah Siap Terima Kembali AR

MAROS, BKM — Isu pemberhentian seorang murid berkebutuhan khusus berinisial AR dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres 110 Galaggara, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros yang sempat viral di media sosial, akhirnya ditanggapi pihak sekolah.
Ditemui di kantor Dinas Pendidikan Maros, Senin (11/9), Kepala SD Inpres 110 Galaggara, Suaeba, enggan berbicara banyak. Ia malah mempersilahkan beberapa wartawan untuk bersama dirinya berkunjung ke rumah murid yang dikabarkan telah dikeluarkan dari sekolahnya.
”Saya tidak mau terkesan membela diri. Mendingan kita sama-sama ke rumah bersangkutan. Biar semua jelas. Cukup sudah pemberitaan tidak berimbang dari salah satu media yang saya anggap tidak profesional,” ujarnya.
Ditemui di rumahnya di Lingkungan Galaggara, Kelurahan Mattirodeng, Kecamatan Lau, orangtua AR (6), Gaffar, menyambut baik kedatangan rombongan kepala sekolah bersama beberapa guru.
”Kami memang pernah dipanggil pihak sekolah dan menyarankan agar putri kami disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, karena agak susah antarnya, makanya belum terlaksana,” katanya.
Menurut Gaffar, putrinya memang terlihat baik-baik saja. Namun, ia akui anak bungsunya agak sulit berkomunikasi seperti anak seusianya. Ia juga mengaku jika anaknya belum bisa membaca meski sudah lulus Taman Kanak-kanak (TK).
”Kami tidak pernah menyalahkan pihak sekolah yang menyarankan itu ke kami. Memang karena persoalan waktu saja kami belum bisa membawa anak kami ke SLB,” tambanya.
Gaffar mengaku kaget dengan pemberitaan di salah satu media yang mempermasalahkan kebijakan sekolah terhadap anaknya itu. Pihaknya selama ini menganggap kebijakan itu sudah diterima dengan lapang dada, namun terkesan dibesar-besarkan.
”Kami anggap biasa saja. Makanya, saya kaget juga kalau memang ada berita yang seolah-olah membesar-besakannya,” ujarnya.
Sementara itu, wali kelas satu SDN Inpres Galaggara, Nurlia, mengatakan, AR pernah diajar olehnya selama lebih dari satu bulan. Selama dalam pengamatannya, AR memang berbeda dengan murid lainnya. Selain sulit berkomunikasi, pelajaran baca tulis juga tertinggal jauh dari murid lain.
”Berdasarkan pengamatan inilah, kami akhirnya menyarankan kepada orangtuanya untuk di sekolahkan ke SLB. Pertimbangan ini murni karena kami juga ingin anak ini bisa mendapatkan perhatian khusus oleh orang yang memang ahli,” katanya.
Nurlia menegaskan, di sekolahnya itu sudah menerapkan Kurikulum 13 yang memang agak sedikit sulit dari kurikulum lain. Jika AR dipaksakan untuk tetap sekolah disitu, ia kuatir akan sangat tertinggal dan bisa jadi bisa tinggal kelas.
”Kalau seperti itu kan pastinya akan berdampak juga kepada anaknya. Kita tidak mau mentalnya juga tertekan dengan pembelajaran yang sulit dicerna. Saya pribadi bukannya menyerah, tapi ini demi perkembangannya ke depan,” paparnya.
Setelah beberapa saat berbicara, pihak sekolah dan pihak orangtua bersepakat, AR akan disekolahkan ke SDLB. Jika suatu saat AR sudah dianggap mampu, pihak sekolah juga berjanji akan menerimanya kembali di sekolah itu. (ari/mir/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top