Metro

Hari Ini Bedah Buku ‘Warisan Sejarah Arianisme’ di UIN

MAKASSAR, BKM–Pustaka Matahari Bandung, menerbitkan buku Warisan Sejarah Arianisme, yang merupakan karya Maurice Wiles yang merupakan regius professor of divinity di Unibersitas Oxford.
Tema buku yang langkah dipasaran dan cukup unik serta sarat dengan makna untuk memahami kehidupan yang lebih baik, akan dibedah, Selasa (12/9) di Gedung Rektorat UIN Alaudin, Makassar.
Adapun nara sumber yang akan hadir diantaranya, Zaenal Muttaqin penerjemah buku Warisan Sejarah Ariansme dari Pustaka Matahari Bandung, Dr Mohammad Sabri AR, Dosen Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang juga mendalami kajian-kajian irfani, dan budayawan, serta kolumnis dan dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intim, Ishak Ngeljaratan.
Peserta seminar dan bedah buku ini dibatasi hanya sebanyak 250 orang, dan setiap peserta akan mendapatkan seminar kit, sertifikat, snack, dan diikut sertakan dalam pengundian doorprize. Yang lebih penting acara ini semuanya gratis karena telah disupport oleh Berita Kota Makassar dan Pustaka Matahari Bandung.
Diketahui, Kajian Arianisme, merupakan kajian tentang sebuah aliran dalam Kristen yang menempatkan Yesus Kristus sebagai manusia biasa, dan mendapat kemuliaan di sisi Tuhan pasca Kenaikan Almasih.
Polemik paham Arian atau Arianisme, mulai mencuat pada Abad Keempat, dan telah memaksa Kaisar Constantine mengadakan Konsili Nicea pada 325 M.
Hasil dari Konsili Nicea memutuskan bahwa ajaran Arian adalah bidat (bid’ah). Namun, 1.400 tahun kemudian “Arianisme” mendadak bangkit di Tanah Inggris, dan melibatkan orang-orang hebat dan memiliki reputasi baik seperti Sir Isaac Newton, William Whiston, dan Samuel Clarke.
Newton adalah seorang ilmuwan yang penemuannya telah merubah wajah sains modern. Tetapi perlu pembaca buku Warisan Sejarah Arianisme ini pahami bahwa Newton, bukanlah sekedar seorang ilmuwan saja, dia juga adalah seorang yang sangat religius dan menguasai Alkitab.
Kredibilitas Newton dalam pemahaman tentang wacana religi dan penguasaan Alkitab diakui oleh sahabat sekaligus mentor Newton yang bernama John Locke. Locke memberikan kesaksian: “Pengetahuan Isaac Newton atas Alkitab sungguh luar biasa, sehingga apa yang aku ketahui tidak sebanding dengannya”.
Newton melihat dirinya sendiri sebagai pengikut setia agama Kristen primitif, agama yang diajarkan oleh Kitab Suci dan, hingga tahap tertentu, yang juga diajarkan oleh gereja-gereja pada abad ke-2 dan abad ke-3.
Selain mentor Newton, William Whiston yang juga junior Newton di Universitas Cambridge, mengamati tentang Kristen primitif yang diamalkan Newton, “bagi Isaac Newton apa yang disebut sebagai ajaran Kristen primitif itu tidak jauh berbeda dengan apa yang selama berabad-abad diberi label Arianisme: “What has long been called Arianism is no other than old uncorrupt Christianity”.
Menarik untuk diketahui bersama, dengan pesatnya perkembangan agama kristen saat ini yang membidatkan ajaran Arianisme yang diamalkaan Newton, bisa bangkit di Inggris pada Abad Ke-18 dan melibatkan tokoh-tokoh besar.(rls)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top