Headline

Tak Punya Tempat, Jalan Kaki dari Kost ke Kampus

Wiwin Marina, Pemilik Usaha Hortigarden (1)

DARI hari ke hari, lahan pertanian di Kota Makassar kian tergerus. Tempat yang tadinya bisa ditanami aneka macam sayuran dan jenisnya, telah berubah menjadi kompleks perumahan. Tak sedikit diantaranya jadi kawasan industri. Masihkan warga kota ini bisa bercocok tanam?

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BERKURANGNYA lahan pertanian di kota-kota besar seperti Makassar, sudah seharusnya mendapat perhatian serius. Baik oleh pemerintah maupun masyarakat umum.
Banyaknya areal yang beralih fungsi telah membawa berbagai dampak. Salah satunya banjir yang kian sering terjadi. Resapan air juga menjadi berkurang.
Akibat lainnya, warga yang dulunya menggantungkan hidup dari bertani, kini harus beralih profesi. Mencari pekerjaan lain menjadi sesuatu yang cukup berat bagi mereka.
Pasokan bahan makanan pun akan lebih sulit diperoleh dibanding dulu. Karena lahan pertanian penghasil kebutuhan masyarakat sudah semakin jauh dari kota.
Dalam kondisi seperti ini, inovasi pun diperlukan. Salah satunya yang dilakukan Wiwin Marina.
Menyadari jika lahan pertanian di Makassar sudah semakin sempit, perempuan muda ini mencoba melakukan hal berbeda dalam hal bercocok tanam. Ia mendirikan usaha hortigarden yang bergerak di budidaya tanaman. Ia memanfaatkan sebaik-baiknya kekurangan yang terjadi, supaya ia bisa tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.
BKM menemui Wiwin di tempat usahanya yang ada di Perumahan Griya Tamalate Asri, Jalan Skarda N3 blok C37. Tampak deretan tanaman hias yang telah tertata rapi di bagian depan.
Tak lama berselang, Wiwin pun datang. Mengenakan hijab panjang warna putih, dengan ramahnya ia menyuguhkan es teh dan berbagai kue kering.
Ia lalu bercerita tentang usaha hortigarden yang digelutinya kini. Kata Wiwin, ia fokus pada tanaman hidroponik dan tanaman hias. Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah, dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.
“Hidroponik itu medianya pakai air, tidak menggunakan tanah, dan masa panennya juga lebih cepat. Makanya, cara ini sangat cocok diterapkan di kota-kota besar seperti Makassar,” kata Wiwin memulai penjelasannya.
Dari usahanya ini, Wiwin mengaku telah mendapat keuntungan. Apalagi dengan metode hidroponik yang masih jarang dikembangkan di Makassar. Kini ia memiliki omzet bisa mencapai Rp50 juta dalam sebulan.
Wiwin yang lahir di Kota Palu, 4 Juni 1992 ini ternyata menggeluti usahanya tersebut dari nol. Ia mengatakan jika dirinya dulu bukanlah siapa-siapa. Bahkan tergolong hidup ‘susah’.
Anak dari pasangan Abdul Halik dan Haningsih ini bercerita jika saat ia kecil, perekonomian keluarganya terbilang pas-pasan. Ayahnya adalah seorang PNS golongan rendah yang harus menghidupi serta menyekolahkan tiga anaknya sekaligus kala itu. Alhasil, sejak dulu Wiwin terbiasa dengan hidup penuh kesederhanaan.
Wiwin dibesarkan di Kabupaten Wajo. Sejak SD hingga SMA, ia bersekolah di Sengkang.
Wiwin kembali mengenang masa-masa kecilnya dulu. Saat bersekolah di SD 3 Madukelleng, kebiasaannya sehari-hari adalah berjalan kaki menuju sekolahnya. Terik ataupun hujan, ia tetap harus bersekolah. Bila hujan turun, Wiwin berangkat sekolah dengan membungkus sepatunya menggunakan kantong plastik.
“Kalau hujan saya jalan kaki ke sekolah. Sepatu dibungkus pakai plastik. Kalau sudah sampai di sekolah, kita ke got besar. Disitu dicuci sepatuta,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengalamannya berjalan kaki bukan itu saja. Saat di awal karirnya membangun usaha, ia juga kerap berjalan kaki dari kostnya di Jalan Talasalapang, sampai kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Parangtambung.
“Saya dulu mulai ini usaha dari yang tidak punya tempat. Untung saat itu saya diizinkan pakai fasilitas di kampus. Jadi saya harus pulang-balik dari kost ke kampus jalan kaki. Biar hujan, jalan kaki juga. Pakai payung iya, tapi biasa tetap kehujanan. Karena ini tanaman, jadi tidak bisa ditinggal lama,” jelasnya.
Segelintir pengalama hidup telah dilakoni Wiwin sebelum sampai pada kondisinya saat ini. Kerja keras serta pantang menyerah menjadi kunci utama dalam membangun kehidupannya sendiri.
Kini, ia telah memiliki brand yang cukup baik di masyarakat. Bahkan beberapa orang pun mulai menitipkan tanaman hiasnya di hortigarden miliki Wiwin. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top