Kriminal

Polda Periksa Ulang Kakanwil Kemenag

MAKASSAR, BKM — Kasus dugaan korupsi pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa kini masih berkutat pada peneriksaan saksi-saksi.
Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel berencana akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap saksi dari Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek tersebut. KPA dalam proyek ini adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sulsel Abdul Wahid Thahir.
Rencana pemeriksaan itu disampaikan Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Sulsel AKBP Leonardo. Menurutnya, Abdul Wahid akan diperiksa sebagai saksi dalam waktu dekat.
“Dalam waktu dekat KPA-nya akan kita mintai keterangannya lagi,” ujar Leonardo yang dihubungi, Minggu (10/9).
Hanya saja, Leonardo belum bisa menyebut secara pasti kapan saksi tersebut akan dipanggil. “Nanti akan kami sampaikan kapan waktunya,” imbuhnya.
Ketika disinggung soal penetapan tersangka dalam kasus ini, Leonardo berdalih, pihaknya belum menemukan serta mendapatkan alat bukti kuat untuk menyeret tersangka. Tim penyidik masih melakukan pengungumpulan bukti serta fakta-fakta yang mengarah pada tersangka.
Sejauh ini sudah ada beberapa nama yang menjadi target penyidik. Hanya saja pihaknya belum bisa mengekspose terlebih dahulu karena masih prematur.
“Alat bukti serta faktanya masih minim. Jadi kita masih butuh menggali serta mendalami lagi, siapa-siapa saja yang dianggap serta berpotensi untuk dijadikan tersangka dalam kasus ini. Termasuk KPA,” pungkasnya.
Wakil Direktur Anti Corruption Committe Kadir Wokanubun, menanggapi secara terpisah terkait penanganan kasus yang hingga kini belum ada satupun yang ditetapkan sebagai tersangka.
Proyek tersebut diketahui telah menggunakan anggaran APBN tahun 2015 sebesar Rp9 miliar melalui Kementerian Agama RI. Namun faktanya, sekolah yang harusnya sudah bisa difungsikan sebagai sarana belajar mengajar, hingga saat ini belum rampung pengerjaannya. Bahkan proyek telah terhenti dan bangunannya terbengkalai.
Mirisnya lagi, bangunan tersebut terkesan dikerja secara asal-asalan oleh rekanan pemenang tender. Parahnya, struktur yang terbentuk sebagai pelaksana program tidak memantau laporan.
”Mestinya kan sudah ada yang ditetapka tersangka. Apalagi telah ditingkatkan ke penyidikan,” tandas Kadir, kemarin.
Menurut dia, tidak alasan bagi penyidik untuk mengulur-mengulur penetapan tersangka dalam kasus ini. Apalagi sampai penyidik bersikap tebang pilih.
Kadir mengatakan, dalam kasus ini sebenarnya penyidik sudah punya gambaran siapa pihak yang paling bertanggungjawab. Dari hasil proses penyidikan sebelumnya, juga telah dijelaskan oleh penyidik bahwa dalam pelaksanaan pengerjaan terjadi pengurangan kualitas. Hal itu dikuatkan dari hasil pemeriksaan fisik terhadap pengerjaan pembangunan yang sudah ada oleh tim ahli konstruksi dari Unhas Makassar yang diturunkan penyidik tertanggal 16 Juli 2017.
Temuan itu menyebutkan, kualitas beton pada pekerjaan yang sudah ada tidak memenuhi syarat sebagaimana yang dituangkan dalam kontrak pekerjaan. Seharusnya menggunakan kualitas beton K-225, namun yang teralisasi di lapangan hanya kualitas beton antara K-102 hingga K-122, sehingga dikategorikan sebagai gagal konstruksi. (mat/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top