Headline

Hati-hati, Daging tak Layak Konsumsi Diperjualbelikan

MAKASSAR, BKM — Indikasi beredarnya daging tak layak konsumsi di pasaran, ternyata bukan isapan jempol belaka. Masyarakat Kota Makassar pun harus waspada ketika hendak membelinya.
Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel melalui Subdit I Indag Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), bekerja sama Dinas Perikanan dan Peternakan Kota Makassar berhasil membongkar praktik ilegal tersebut. Sedikitnya 376 kg daging busuk diamankan.
Pengungkapan kasus ini disampaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, Kamis (7/9). Keterangan pers dihadiri Kasubdit I Indag Ditreskrimum Polda Sulsel AKBP Amiruddin.
Berawal pada hari Selasa (5/9) sekitar pukul 10.45 Wita. Diperoleh informasi dari masyarakat tentang dugaan adanya praktik ilegal penjualan daging di Pasar Pa’baeng-baeng. Kasubdit I Indag Ditreskrimum Polda Sulsel bersama anggota turun ke lokasi.
Polisi berpakaian preman ini menyamar sebagai pembeli. Selanjutnya mereka melakukan transaksi jual beli. Dari situ berhasil didapatkan daging yang tidak layak konsumsi yang telah diletakkan di tempat pajangan untuk ditawarkan ke konsumen. Sedikitnya 176 kg daging diamankan saat itu.
Petugas juga mendapatkan identitas dan alamat pemasok daging busuk tersebut. Inisialnya AP, beralamat di Jalan Inspeksi Kanal nomor 12 Pa’baeng-baeng, Kecamatan Tamalate, Makassar.
Sehari kemudian, pada Rabu (6/9) pukul 10.00 Wita, penyidik dari Subdit I Indag Ditreskrimum Polda Sulsel melakukan pemeriksaan dan mendatangi rumah AP. Polisi menemukan lima lemari pendingin yang berisi daging tak layak konsumsi kurang lebih 200 kg.
”Atas temuan itu, kami berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sulsel serta Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar. Bersama-sama kita turun ke lapangan melihat dan memeriksa daging tidak layak konsumsi yang beredar di Pasar Pa’baeng-baeng,” jelas AKBP Amiruddin.
Hasil pemeriksaan dokter hewan serta Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar di TKP, dipastikan bahwa daging tersebut sudah busuk dan tidak layak dikonsumsi. Sebagian lainnya terdapat daging oplosan.
”Barang bukti daging tersebut langsung diamankan. Selanjutnya pelaku usaha yang ada di TKP diinterogasi. Juga dilakukan uji lab Dinas Peternakan Kota Makassar,” tambah Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani.
Berdasarkan hasil tes yang dilakukan Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, daging tersebut memilihi Ph 7.74. Padahal seharusnya untuk daging normal dan layak konsumsi, kandungan PH-nya 5-6.
Saat dijual, daging busuk serta oplosan ini dibanderol dengan harga murah, yakni Rp30.000 per kilogram. Polisi menyebut, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, daging tersebut berasal dari daerah di Sulsel yang sering menggelar pesta adat dan diperdagangkan di Kota Makassar.
“Pelaku mengaku hampir enam tahun menjual daging seperti ini. Harganya Rp30 ribu. Rata-rata dijual ke penjual coto dan bakso. Untuk saat ini kasusnya masih dalam penyelidikan dan pengembangan. Kita juga mencari tahu penjual coto dan bakso yang membeli daging busuk ini,” jelas Dicky Sondani.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 62 ayat 1 pasal 8 ayat 2 atau 3 Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan pasal 135 junto pasal 71 ayat 2 atau pasal 140 junto pasal 86 ayat 2 Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.
Ancaman hukumannya paling lama 5 tahun pidana, denda senilai Rp2 miliar untuk pidana UU Konsumen. Dua tahun dan pidana denda paling banyak Rp4 miliar untuk UU Pangan.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar Abd Rahman Bando, membenarkan jika pihaknya dilibatkan dalam pengungkapan kasus daging tak layak konsumsi di Pasar Pa’baeng-baeng. Pemeriksaan sampel daging dilakukan di atas mobil meat care milik instansi yang dipimpinnya.
”Dari hasil pemeriksaan, kandungan PH daging itu di atas 7. Semua jenis daging, baik daging sapi, kerbau, ayam ataupun ikan, jika PHnya di atas 7 sudah tidak layak konsumsi. Maka diputuskan daging tersebut harus disita dan dimusnahkan, karena berbahaya bagi kesehatan masyarakat,” terang Rahman Bando melalui sambungan telepon selular, kemarin.
Adik kandung Bupati Enrekang Muslimin Bando ini mengakui, pelaku yang menjual daging tak layak konsumsi tersebut sudah kedua kalinya tertangkap. Namun sepertinya ia tak jera, dan tetap melakukan perbuatan ilegalnya.
Sebenarnya, menurut Rahman, pihaknya intens turun ke lapangan melakukan pemeriksaan terhadap daging yang dijual di pasaran. Namun tetap saja ada pedagang yang membandel demi meraup keuntungan.
”Kita selalu mewaspadai praktik-praktik seperti ini. Tapi ini kan perdagangan. Kalau kita turun dan tidak menemukan daging tak layak konsumsinya, besoknya dapat lagi pasokan baru. Disitulah biasanya muncul daging oplosan dan semacamnya,” terang Rahman Bando.
Persoalan krusial yang dihadapi Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, menurut Rahman, bahwa data yang diperoleh di lapangan menyebutkan daging bermasalah tersebut berasal dari luar daerah. Daging kerbau itu dipasok ke Makassar dengan diangkut menggunakan mobil bus.
Hal ini merepotkan petugas pengawasan Dinas Perikanan dan Pertanian. Sebab mereka tidak punya kewenangan untuk menghentikan dan memeriksa mobil bus tersebut.
”Yang bisa kita periksa adalah armada angkutan ternak. Kalau untuk sapi yang masih hidup, diangkut menggunakan bak terbuka. Sementara daging, seharusnya dibawa memakai mobil boks berpendingin. Tapi yang terjadi sekarang, daging dari luar daerah dan dalam jumlah banyak diangkut menggunakan bus. Padahal seharusnya bus hanya untuk angkutan orang,” beber Rahman Bando.
Sebelum mengungkap temuan daging busuk dan oplosan di Pasar Pa’baeng-baeng, Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar pernah melakukan hal serupa di Pasar Terong beberapa waktu lalu. Rahman Bando berharap, sinergitas antara TNI, Polri dan OPD lainnya bisa terus terjalin untuk mengantisipasi peredaran daging tak layak konsumsi agar masyarakat tidak resah.
Ia juga mengimbau konsumen agar lebih teliti saat hendak membeli daging. Jika memang sudah ada aroma yang tidak segar dan mulai berbau, agar menghindarinya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top