Sulselbar

Menag Apresiasi Budaya Sayyang Pattuqdu Masih Terjaga

BKM/ALALUDDIN KUDA PATTUQDU -- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin dan Bupati Mamuju, Habsi Wahid saat menunggangi kuda Pattuqdu dalam acara khataman Al Quran secara massal yang berlangsung di anjungan Pantai Manakarra Mamuju.

MAMUJU, BKM — Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI), Lukman Hakim Saifuddin bersama penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag RI, Trisna Willy Lukman Hakim Saifuddin, bertandang ke Kabupaten Mamuju, Selasa (25/7). Kedatangannya untuk menghadiri Festival Budaya Islami yang digelar Pemerintah Kabupaten Mamuju, di Anjungan Pantai Manakarra. Di momen festival tersebut, Lukman Hakim menyaksikan pertunjukan Sayyang Pattuqdu atau Kuda Menari.
Bahkan, Lukman sempat menungganginya dari pelataran Hotel d’Maleo sampai ke anjungan Pantai Manakarra. Wakil Gubernur Sulbar, Hj Enny Anggraeni Anwar, menyampaikan pertunjukan Sayyang Pattuqdu merupakan tradisi yang sering dirangkaikan dengan kegiatan khatam Al Quran.
”Khatam Al Quran dengan sayyang pattuqdu ini sebuah tradisi yang dilaksanakan setiap tahunnya. Biasanya digelar saat momentum Maulid Nabi,” terang Enny.
Menteri Agama, Lukman Hakim mengapresiasi tradisi Sayyang Pattuqdu yang masih terjaga tersebut. Saat sambutan di Festival Budaya Islami, Menag mengatakan, penting untuk menjaga, memelihara, dan merawat tradisi warisan leluhur. Namun, sebagai generasi penerus, untuk tetap berkreasi, berinovasi dan melahirkan karya-karya yang lebih bermanfaat.
Sehubungan dengan budaya yang masih terjaga, Lukman mengingatkan, agama Islam hadir di Nusantara karena budaya. Dan terbukti di Sulawesi Barat masih terjaga momentum khatam Al Quran yang menyatu dengan Sayyang Pattuqdu.
”Mengapa melalui budaya nilai-nilai agama itu disebarluaskan, sekali lagi karena inilah bukti kearifan, bukti kealiman ulama-ulama terdahulu. Mereka menggunakan rasa dalam menebarkan nilai-nilai agama dan sejarah membuktikan bahwa agama, nilai-nilai kebajikan itu tidak hanya semata bisa mampu untuk dijaga melalui kekuatan nalar atau logika saja. Tapi seringkali budaya bagaimana olah rasa itu lebih dikembangkan. Inilah tantangannya bagi kita sekarang bagaimana tradisi yang baik-baik ini tetap mampu kita jaga, kita pelihara,” terangnya.
Oleh karena itu, Lukman berpesan, rasa perlu dilibatkan dalam beragama, tidak semata sepengetahuan. Tapi juga bagaimana agama yang hakekatnya untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta, betul-betul mampu menjaga, melindungi, menghormati dan menghargai harkat derajat sesama umat manusia, meskipun berbeda. Sebab, perbedaan itu sendiri merupakan kehendak sang pencipta. (ala/mir/c)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top