Metro

Alarm KWH Pascabayar Resahkan Warga

MAKASSAR, BKM–Kenaikan tarif dasar listrik akhir-akhir ini menjadi sorotan sejumlah kalangan, baik dari kalangan pengusaha, rakyat biasa hingga ke mahasiswa.

Terhitung 1 januari hingga juli 2017 terjadi tiga kali kenaikan pembayaran, karena dicabutnya subsidi dari pemerintah. Beban yang harus dibayar Rp1.352/KWH bagi pengguna daya 900 watt non subsidi.
Kenaikan ini paling dirasakan oleh pengguna listrik prabayar, termasuk para mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang kebanyakan sudah menggunakan listrik jenis prabayar ini.
Salah satunya dirasakan di pondok Mardiyah di Jalan Sultan Alaudin. Pondok ini memiliki sekitar 60 kamar yang keseluruhan telah menggunakan meteran listrik jenis prabayar.
Menurut Irma Iriani, Rabu (26/7) tarif listrik belakangan ini memang dirasa sangat mahal, jika bulan-bulan sebelumnya ia membeli voucher listrik Rp20.000 itu bisa digunakan sekitar 2 minggu, namun belakangan ini ketika ia membeli voucher Rp20.000 hanya cukup untuk seminggu lalu alarm KWH berbunyi lagi, ucapnya.
Mahasiswi yang sudah menghuni pondok tersebut selama 11 bulan ini menambahkan, “yah kita mami hemat-hemat uang belanja, daripada bunyi terus alarm KWH,” jelasnya.
Hal serupa dirasakan Wana, yang juga tinggal di pondok tersebut. Sejak kenaikan listrik dia berhemat dengan cara tidak megaktifkan lemari pendingin lagi.
Berbagai upaya hemat terpaksa dilakukan para mahasiswi ini agar kebutuhan listrik bisa terpenuhi.
Kenaikan tarif dasar listrik dalam beberapa bulan ini, sangat besar dampaknya di rasakan khususnya bagi penghuni kos-kosan di jln. Emi saelan karena kenaikan tarif dasar listrik ini hampir mencapai 50%.
Salah seorang penghuni kos-kosan lainnya, Muh Imam Nasrullah juga mengatakan, bahwa semenjak adanya kenaikan tarif listrik dia harus membayar listrik perbulannya sebesar Rp75.000, dari biasanya dia hanya membayar sebesar 50.000 rb/bulan.
Selain mahasiswa, salah satu warga di Kelurahan Buntusu, Suprio mengatakan, kenaikan TDL telah dirasakannya sejak beberapa bulan terakhir.
“Awalnya, tarif listrik di rumah ini tidak sampai Rp200 ribuan, tapi di bulan april naik hingga Rp600ribuan per bulan,” ucapnya sambil menunjukkan struk pembayaran listriknya.
Keluhan yang sama dirasakan salah seorang warga di Jalan Batua Raya, Laily. Ia mengeluhkan dengan tindakan pemerintah yang sedikit sedikit mengambil keputusan menaikkan tarif listrik.
“Saya juga pusing apa maunya pemerintah, listrik naik per kwh, saya tidak mengergi bagaimana hitungannya, apa apa naik, rakyat kalau tidak pintar cari cari tambahan, pasti tambah utang, stres saya hadapi listrik, bisa bayar sampai Rp700 ribu,” keluh Laily.
Menyikapi hal itu, anggota DPRD Makassar lagi-lagi mempertanyakan dasar dari kenaikan tarif listrik.
Anggota Komisi B DPRD Makassar, Hasanuddin Leo mgengatakan, sebaiknya sebelum menaikkan harga tarif listrik dianjurkan melakukan pertemuan dengan pihak manajemen Perusahaan Listrik Nasional (PLN) Sulselrabar, untuk membicarakan dampaknya ke warga.
“Pasti warga mengeluh kenaikan tarif listrik, termasukmempertanyakan dasarnya apa manikkannya,” ungkap Hasanuddin, kemarin.
Anggota Komisi B DPRD Makassar lainnya, Irwan Djafar menuturkan, pemerintah harusnya melihat kondisi masyarakatnya saat ini. “Seharusnya sebelum menaikkan tarif harus melihat apakahkebijakan ini bisa menambah angka kemiskinan,” ucapnya.
Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dinilai oleh Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel, Yudi Raharjo, sangat memberatkan warga di kondisi saat ini dimana daya beli masyarakat belum pulih benar.
Seharusnya, pemerintah, dalam hal ini PLN harus menentukan momen yang pas untuk memberlakukan TDL baru. Itupun jangan sampai kenaikannya beberapa kali dalam sebulan karena akan membuat masyarakat jadi shock.
“Untuk menaikkan TDL, pemerintah seharusnya harus melihat momen apakah kondisi ekonomi masyarakat sudah baik atau tidak,” ungkapnya kepada BKM, kemarin.
Kalau karena alasan efisiensi anggaran, sebenarnya banyak pos lain yang bisa dilakukan PLN dibanding menaikkan TDL secara sporadis. Diantaranya, bagaimana PLN melakukan sosialisasi untuk penghematan listrik. Dan yang cukup penting adalah meminimalisir terjadinya pencurian listrik dengan melakukan pemeriksaan. Bukan hanya skala rumah tangga namun juga di perusahaan-perusahaan yang membutuhkan daya listrik cukup besar.
Selain itu, lanjut Yudi, seharusnya PLN intens melakukan sosialisasi sebelum menaikkan TDL. Jangan terkesan tiba-tiba.
Kenaikan TDL juga harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan. Dengan meminimalisir pemadaman bergilir hingga merespon cepat keluhan masyarakat yang masuk.
“Intinya itu efisiensi penggunaan listrik. Berapa yang bisa dihemat jika PLN bisa memberantas pencurian listrik dan lainnya. Ketimbang menaikkan TDL secara spontan beberapa kali yang sudah pasti memberatkan masyarakat,” pungkasnya. ((jun-ita-rhm-ppl/war/b)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top