Berita Kota Makassar | Sempat Depresi saat Ayahnya Meninggal Dunia
Headline

Sempat Depresi saat Ayahnya Meninggal Dunia

BKM/IST DEPRESI - Sebelum merintis usaha, Ahmad Fadli Taufik sempat depresi lantaran ayahnya meninggal dunia.

Sukses itu tak mengenal usia. Siapapun, jika bekerja keras dan bersungguh-sungguh pasti bisa mewujudkan keinginannya. Entah, ia berumur belasan tahun atau bahkan umur 50-an tahun.

Laporan: Nugroho

Seperti itulah yang dialami pemuda Ahmad Fadli Taufik. Dari orang yang hidup pas-pasan, yang kini menjadi pengusaha di usianya yang masih relatif muda. Sementara, di saat yang sama banyak anak muda di kota ini yang seusianya yang hidupnya masih bergantung ke orang tuanya.

Fadli termasuk pekerja keras. Lulusan Teknik Elektro Universitas Negeri Makassar (UNM) sejak mahasiswa telah merintis usaha percetakan. Awalnya, ia hanya melayani pesanan orang-orang terdekatnya. Namun, lambat laun, pelanggannya semakin banyak. Selain kualitas cetak yang baik, juga desainnya banyak disenangi.
Bahkan, percetakan Padaidi Indonesia yang ia rintis kini telah melayani konsumen hingga ke provinsi lain. Tidak sedikit permintaan dari Maluku, Papua dan provinsi lain di Indonesia.
Ternyata, motivasi Fadli merintis usaha percetakannya ini bermula pada tahun 2014 lalu. Pada tahun itu, lelaki yang mulai kuliah di UNM pada 2011 ini, ditinggal mati sang ayah. Sementara, dalam keluarga, ayahnya lah satu-satunya pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
Fadli sempat depresi dan frustasi. Sebagai anak tertua, ia punya beban yang berat. Ia harus mampu mengganti peran ayahnya dalam keluarga. Mau tidak mau, dua adiknya yang juga masih sekolah harus ia tanggung.
Ayahnya bernama Taufik adalah seorang pekerja proyek yang tidak tetap pekerjaannya. Sedangkan ibunya bernama Musriati adalah Ibu Rumah Tangga. Masa-masa sebelum ayahnya meninggal, Fadli adalah seorang aktivis kampus. Ia terbilang aktif di BEM Fakultas Teknik UNM yang kerap menyuarakan aspirasi dari masyarakat.
Namun aktivitasnya tersebut tidak terlalu didukung oleh ayahnya kala itu. Ayahnya selalu menyarankan kepadanya untuk lebih fokus ke penyelesaian studi dan mencari pekerjaan. Namun dengan jiwa mudanya kala itu, Fadli lebih memilih untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang aktivis kampus daripada saran ayahnya.
Hingga pada akhirnya pada 2014 ayahnya meninggal dengan penyakit jantung yang telah lama dideritanya. Fadlipun benar-benar merasa sangat depresi. Ia dirundung kesedihan, Ia tak tahu harus berbuat apa.
Selama dua bulan lamanya hidupnya terkatung-katung. Penghasilan orang tuanya tak ada lagi. Kondisi ekonominya benar-benar kacau. Terlebih, ia harus berpikir pula untuk menyekolahkan adik-adiknya.
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan salah satu seniornya yang telah lama berkecimpung di dunia kewirausahaan. Fadlipun terus-menerus merenungkan masa depannya setelah diberikan banyak pelajaran oleh seniornya tentang kewirausahaan. Sedikit demi sedikit, ia mulai membangun hidupnya kembali.
Fadlipun membuktikan bahwa tekad yang kuat akan membawa seseorang pada sebuah keberhasilan. “Mulai sedini mungkin. Mari kita coba untuk meninggalkan zona nyaman kita bagaimanapun bentuknya. Kalau kita ingin bahagia, ingin sejahtera, jadilah pengusaha dan kerja keraslah,” kata Fadli. (b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top