Headline

Kader Golkar-Nasdem Saling Gembosi di Pilgub

MAKASSAR, BKM — Kader dari dua partai, yakni Golkar dan Nasdem dipastikan terbelah di kontestasi pemilihan gubernur (pilgub) Juni 2018 mendatang. Perpecahan itu dipicu lantaran sejumlah tokoh dari kedua partai itu tidak satu dukungan terhadap bakal calon.
Ketua Golkar Sulsel, HAM Nurdin Halid (NH) telah resmi menyatakan dirinya maju sebagai calon gubernur. Bahkan dia sudah menetapkan bakal calon wakilnya, yakni Aziz Qahhar Mudzakkar. Demikian pula mantan bendahara Golkar Sulsel, Ichsan Yasin Limpo juga maju sebagai calon gubernur.
Tak hanya itu, pengurus DPP Golkar Ahmad Tanribali Lamo juga mengincar posisi calon wakil gubenrur mendampingi Nurdin Abdullah. Belum lagi mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Gowa Adnan Purichta Ichsan, Andi Ian Latanro, serta Andi Mudzakkar yang baru saja mundur dari jabatan ketua Golkar Luwu lantaran lebih mendukung Ichsan di pilgub Sulsel.
Jika NH mendapat rekomendasi Golkar dengan dukungan 18 kursi di parlemen Sulsel, maka Ichsan dan Cakka –panggilan akrab Andi Mudzakkar– memiliki dukungan KTP. Ichsan mendapat dukungan 1, 6 juta dukungan KTP. Sementara Cakka sudah mendapat dukungan 700 ribu KTP.
“Dukungan KTP yang saya terima itu rill sebanyak 700 ribu” ujar Cakka, Minggu (9/7).
Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Partai Nasdem. Hal tersebut lantaran adanya penegasan dari Ketua DPW Nasdem Sulsel Rusdi Masse (RMS) yang mendukung Ichsan di pilgub, apapun konsekwensinya. Padahal belum ada keputusan dari DPP Nasdem siapa yang didukungnya pada pilgub nanti.
“Saya tetap mendukung Pak Ichsan, apakah sebagai wakil, ketua Tim atau posisi apapun,” ujar RMS usai peresmian posko pemenangan ‘Rumah Kita’ baru-baru ini.
Jika RMS mendukung Ichsan, maka anggota DPR RI dari Nasdem Luthfy A Mutti bersikap beda. Bahkan Luthfi yang juga mantan Ketua DPW Nasdem Sulsel lebih mendukung Agus Aridin Nu’mang (AAN).
“Kalau RMS batinnya ke IYL, akal sehat dan karakter saya ke Agus Arifin Nu’mang,” ujar Luthfi melalui pesan di WhatsApp.
Mantan bupati Luwu Utara dua periode ini, mengaku bila sebagai seorang politisi adalah konsistensi dan komitmen yang diperlukan. Ketika itu hilang maka akan menjadi pragmatisme.
“Dan pragmatisme itu yang jadi akar kerusakan bangsa ini. Karena pragmatisme membuat orang jadi munafik, yakni jika bicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, jika dipercaya dia hianat,” ungkap Luthfi.
Orang semacam ini, kata Luthfi, menjadikan uang sebagai patokan bertindaknya. Maka ketika dia mendapat kekuaasaan, dia akan memanfaatkan kekuasaan itu untuk merampok negara.
“Kenapa saya ke Agus? Alasannya karena di mata saya, Agus adalah salah satu dari sedikit politisi langka di republik ini. Maksud saya, ketika politisi “identik” dengan korupsi, dinasti dan pencitraan, maka AAN justru jauh dari semua itu,” tandasnya.
Oleh karena itu, kata Luthfi, jika nantinya Agus tidak memilih dirinya sebagai wakil, maka ia memastikan akan tetap mendukung dan membantu memenangkan Agus di pilgub Sulsel mendatang.
“Saya akan tetap membantu kemenangan beliau (Agus) di pilgub meski tidak berpasangan dengan saya, sebagai komitmen dalam keberpihakan politik. Karena sejatinya politisi sejati adalah konsisten dalam komitmen,” terangnya.
Dosen politik UIN Alauddin, Dr Firdaus Muhammad menilai, perpecahan sejak awal terjadi lantaran perbedaan dukungan, baik partai politik maupun orang sebagai calon kepala daerah. “Kader Golkar dan Nasdem bakal terbelah karena perbedaan dukungan partai. Hal ini bisa mengganggu proses kemenangan kandidat, karena jaringan politiknya saling mengembosi di internal partai,” ujar Firdaus, kemarin. (alp-ita/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top