Gojentakmapan

Mendikbud Serahkan ke Sekolah

GOWA, BKM — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia akan menerapkan program belajar delapan jam per hari dengan memendekkan hari sekolah dari enam hari menjadi lima hari saja.
Kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan dan belajar delapan jam per hari yang saat ini tengah digodok untuk diterapkan secara nasional tersebut, ditanggapi serius jajaran dinas pendidikan dan dewan pendidikan Kabupaten Gowa.
Kedua lembaga penyelenggara pendidikan di kabupaten ini sama-sama menilai bakal terapan itu belum bisa dilakukan di wilayah Gowa. Pasalnya, seperti dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Gowa, Dr Salam, di Gowa pembelajaran semua sekolah mulai tingkat SD hingga SMP termasuk juga tingkat SMA rata-rata hanya menerapkan enam sampai tujuh jam saja dalam setiap harinya. Itupun pembelajaran dilakukan enam hari kerja mulai hari Senin hingga Sabtu.
“Selama ini belajar enam jam.sehari saja, anak-anak pulangnya sudah jam dua siang, apalagi kalau dilakukan delapan jam belajar maka tentu anak-anak bisa pulang lebih petang lagi, ” jelas Kadis.
Namun demikian, Kadis juga mengaku salut dengan pernyataan dari Mendikbud pada penyelenggaraan rapat koordinasi yang berlangsung pada Selasa (13/6). Dimana, pihak Mendikbud memberi kewenangan kepada pihak sekolah untuk penerapannya.
“Saya sangat salut karena pak menteri sangat bijak karena tetap memberikan kewenangan penuh kepada pihak sekolah untuk penerapanya. Artinya, selama belum memahami dan belum sanggup maka tidak mesti dipaksakan. Dan bagi yang sudah siap disilahkan terapkan sambil yang belum siap akan membenahi keterbatasan masing-masing sehingga pada akhirnya bisa menjadi siap,” kata Dr Salam melalui WhatsApp, Rabu (14/6) pagi.
Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Gowa, Dr Mappaujung menilai, Mendikbud harusnya mempertimbangkan dengan matang terkait dampak atas kebijakan ini. “Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Utamanya jadual belajar. Apalagi di daerah dataran tinggi yang sekolahnya jauh. Di sekolah belajar seharian dari pagi sampai sore. Pulang sekolah juga harus menguras tenaga. Jadi sampai di rumah capek. Satu dua hari mungkin tak masalah, tapi kalau setiap hari pasti akan ada kejenuhan dan anak-anak. Mereka akan malas ke sekolah. Jadi saya cenderung tidak setuju,” kata Mappaujung. (sar/mir)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top