Headline

Nelayan Miskin Sewa Perahu Rp2 Juta Pulangkan Jasad Putrinya

BKM/MUH SYAHIDIN PAKAI PERAHU-Jenazah Fitri dibaringkan oleh keluarganya di atas palka perahu kecil yang akan membawanya dari Kota Sinjai ke rumah duka di Desa Pulau Harapan.

SINJAI, BKM — Ini kisah miris yang dialami warga Desa Pulau Harapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai. Zainuddin yang sehari-harinya beprofesi sebagai nelayan harus kehilangan putri semata wayangnya, Fitri (25) karena sakit.
Tapi bukan itu penyebabnya Zainuddin menjerit. Melainkan karena anaknya terlambat mendapat pertolongan medis hingga mengembuskan nafas terakhirnya.
Tak sampai disitu. Iapun harus merogoh kantong cukup dalam untuk memulangkan jenazah anaknya ke rumah duka di Desa Pulau Harapan. Uang Rp2 juta mesti dikeluarkannya guna membayar sewa perahu. Sebagai nelayan pesisir yang tergolong miskin, biaya tersebut sangat memberatkannya. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Jasad Fitri dipulangkan dengan cara dibaringkan di atas palka perahu berukuran kecil, Rabu (7/6) sore. Dengan menggunakan perahu jenis ini, perjalanan dari Kota Sinjai menuju Desa Pulau Harapan membutuhkan waktu kira-kira setengah jam.
Jauh sebelum terbentuk menjadi Kecamatan Pulau Sembilan, warga setempat sudah terbiasa menanggung biaya transportasi guna menyeberangkan jenazah kerabatnya yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai ke masing-masing pulau. Saat ini ada empat desa di empat pulau yang berpenghuni kurang lebih wajib pilih 3.500 jiwa.
Kisah sedih Zainuddin bermula ketika anaknya, Fitri sakit. Ia kemudian dibawa ke Puskesmas Pulau Sembilan guna mendapat perawatan medis.
Beberapa jam Fitri berada di pusat kesehatan masyarakat itu. Hanya saja, ia tak kunjung mendapat penanganan dokter. Akhirnya, Fitri kemudian dibawa ke RSUD Sinjai.
Fitri dirawat di Puskesmas Pulau Sembilan pada Minggu (3/6). Kurang lebih 10 jam berada di tempat tersebut, Fitri tak kunjung ditangani dokter.
”Dokter yang seharusnya mengambil tindakan medis tidak ada di tempat. Hanya ada beberapa perawat honorer yang tidak berani mengambil risiko,” kata Murlan (30), salah seorang kerabat Fitri, kemarin.
Diakui Murlan, apa yang menimpa sepupunya ini sudah sering terjadi di Puskesmas Pulau Sembilan. ”Yang lalu-lalu sudah banyak pasien yang tidak dapat penanganan dokter di puskesmas, terpaksa dilarikan ke RSUD Sinjai. Lucunya, di puskesmas sudah disiapkan rumah dinas dokter dan perawat yang dibangun pemerintah,” terang Murlan.
Sejatinya, Puskesmas Kecamatan Pulau Sembilan memiliki rawat inap 24 jam. Bahkan bangunan dan fasilitasnya tergolong memadai. Mempunyai dua unit speed boat. Termasuk petepete (perahu) yang sehari-harinya diperuntukkan mengantar jemput dokter, bidan dan perawat.
”Setiap tahun bangunan puskesmas selalu dipoles. Mobiler hingga rumah dinas dokter, perawata dan bidan tertata rapi. Namun, kinerja tim medis jauh dari memuaskan. Bahkan sejak adanya petepete (perahu), jam kerjanya seakan berkurang,” beber Murlan.
Ironisnya, tambah dia, ketika delapan kecamatan di Sinjai mendapatkan mobil ambulance dari pemerintah, masyarakat Kecamatan Pulau Sembilan seakan tak dilirik oleh Pemkab Sinjai. Tak ada bantuan mobil ambulance untuk daerah ini.
Warga Pulau Harapan sudah menganggap lumrah jika harus mengeluarkan biaya cukup besar guna memulangkan jenazah dari RSUD Sinjai ke desanya. Mereka yang tak memiliki perahu pribadi, seperti Zainuddin, harus menanggung biaya transportasi penyeberangan jenazah meskipun tergolong kurang mampu.
”Biasanya, kalau ada warga miskin yang berduka, kami saling bantu untuk meringankan beban transportasi jenazah,” jelas Murlan yang merupakan keponakan Zainuddin.
Kepala Puskesmas Pulau Sembilan, Muh Asri mencoba berkelit ketika dihubungi BKM via handphone, kemarin. Khususnya soal bangunan perumahan dinas yang disiapkan untuk dokter, bidan dan perawat puskesmas.
”Sedikit gambaran saya sampaikan, sekarang di Puskesmas Pulau Sembilan memang ada dokter PNS yang bertugas. Tapi tidak tinggal menetap, karena gajinya sama dengan dokter yang bertugas di kota. Tidak ada tunjangan daerah terpencil. Selain itu, kondisi rumah dinas juga tidak layak huni,” terangnya.
Meski begitu, dia mengklaim jika dokter dan petugas media lainnya tetap siap dihubungi jika ada pasien yang hendak ditangani.
”Untuk pasien bernama Fitri, memang harus dirujuk ke RSUD Sinjai. Makanya diberikan rujukan,” ujarnya.
Dia berharap, Puskesmas Pulau Sembilan mendapat perhatian. Terutama pengadaan ambulance rujukan, ambulance mayat serta perumahan dokter, bidan dan perawat yang bertugas.
”Terus terang, Puskesmas Pulau Sembilan tidak diminati karena kondisinya yang tidak layak huni. Untuk itu saya berharap kepada pemerintah kabupaten, dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk memperhatikan daerah terpencil seperti Pulau Sembilan,” imbuh Asri.
Terpisah, Kepala Desa Pulau Harapan, Ambo Sakka mengatakan, usulan pengadaan transportasi jenazah sudah seringkali disampaikannya dalam musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan). Mulai dari tingkat desa hingga kecamatan. Namun tak mendapat respons.
”Saya selalu suarakan di musrenbang tingkat desa maupun kecamatan. Transportasi jenazah itu sangat dibutuhkan untuk meringankan beban warga Kecamatan Pulau Sembilan yang sedang berduka. Namun tidak pernah ditanggapi sampai sekarang,” keluhnya.
Pengakuan Asri diamini Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, Andi Suryanto Asapa. Kata dia, tahun ini Dinkes sudah merencanakan untuk membenahi fasilitas di Puskesmas Pulau Sembilan.
Terkait ambulance jenazah, Suryanto menegaskan bahwa itu bukan kewenangannya. Melainkan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
”Kalau dokternya yang bertugas di sana, waktu kejadian dia sedang sakit. Jadi tidak datang bertugas di Pulau Sembilan. Insya Allah, ke depan kami dari Dinas Kesehatan akan memperhatikan fasilitas dan pelayanan di sana agar lebih baik lagi,” tandasnya. (din/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top