Berita Kota Makassar | Agus tak Ingin Strateginya Diketahui Lawan
Politik

Agus tak Ingin Strateginya Diketahui Lawan

MAKASSAR, BKM–Bakal calon (Balon) Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengaku tidak ingin strateginya diketahui balon lain jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel Juni 2018 nanti.
Hal tersebut dilontarkan Agus Arifin Nu’mang usai menghadiri rapat paripurna istimewa DPRD Sulsel, Senin (29/5). “Soal partai maupun strategi pemenangan tak bisa dikemukakan, sebab nanti diketahui lawan,”ujar Agus ketika ditanya papol apa saja yang berpeluang mengusungnya di Pilgub nanti.
Informasi yang dikumpulkan koran ini, Agus tetap yakin akan diusung Partai Gerindra yang mengontrol 11 kursi di parlemen, PDIP dengan 5 kursi, PKB 3 kursi, PKPI dan PBB masing-masing 1 kursi.
Kemarin, Wakil Gubernur Sulsel ini juga menerima kunjungan pengurus DPD PDIP Sulsel dirumah jabatan Wagub, Senin petang. Pengurus DPD PDIP yang datang yakni Andi Ansyari Mangkona, Husain Junaid, Iqbal Arifin, Made Merada, Abdullah Tappareng, Nicolaus Beny, Iin Manaba dan pengurus lainnya. Agus menilai kedekatannya dengan PDIP sangat baik, bahkan diusung bersama SYL dalam dua kali Pilgub. “Saya yakin PDIP tetap bersama di Pilgub nanti,”ujar mantan ketua DPRD Sulsel ini.
Sementara itu, paslon HAM Nurdin Halid-Abd Azis Qahhar Mudzakkar (NH-Azis) bakal kehilangan pendukungnya bilamana nantinya Ketua Fraksi Golkar DPRD Sulsel Andi Yagkin Padjalangi serta Ketua DPD II Golkar Luwu Andi Mudzakkar bergabung dengan Ichsan Yasin Limpo. Jika kedua kader ini bergabung dengan Ichsan yang pernah tercatat sebagai bendahara Golkar Sulsel, maka beringin diprediksi akan rapuh. Apalagi, Ahmad Tanribali Lamo yang sudah berbaju Golkar selama satu tahun terakhir, juga hampir pasti berpasangan dengan Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah (NA).
Guru besar politik hukum Unhas, Prof Dr Armin Arsyad mengemukakan bahwa manakala Andi Yagkin dan Andi Cakka bergabung ke Ichsan, maka menjadi pesan kuat bilamana Mantan Bupati Gowa dua periode itu masih cukup kuat di Golkar. “Apalagi Pak SYL dan IYL itu tidak bisa dipisahkan. Sementara, banyak di antara kader Golkar yang sangat dekat dengan kedua tokoh itu,”ucap Armin, Senin (29/5).
Armin menjelaskan, dalam konteks Pilgub, hubungan emosional dan pertemanan, masih menjadi indikator utama seseorang untuk menentukan pilihan. Meski, diakuinya, dalam aturan main partai, kader mesti memilih kandidat usungan partainya. “Tapi siapa yang tahu kalau di bilik suara. Karena tidak mungkin orang digugat kalau pilihannya tidak sama dengan yang lainnya. Karena setiap orang itu punya hak pilih, bukan dipaksa memilih,” tuturnya.
Ia juga beranggapan, sebaiknya sejumlah kader partai seyogyanya tidak memaksakan kehendak untuk diusung oleh partainya, maju di kontestasi politik. Sebab, masyarakat bisa saja menolak pilihan partai, jika figur yang diusung dianggap tidak layak. “Karena ada yang disebut itu teori ‘Oligarki Politik’. Hanya karena dia ketua partai, atau yang mengambil keputusan tertinggi di partai, dia memaksakan dirinya untuk ikut di kontes politik,” jelas Armin. (jun/rif/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top