Berita Kota Makassar | Ia Rela Berpisah Dengan Istri dan Anaknya
Metro

Ia Rela Berpisah Dengan Istri dan Anaknya

Mujibul Rahman Juru Kunci di Makam Syekh Yusuf Al-Maqassari(1)

MENJELANG datangnya Bulan Ramadan, nuansa islami kerap menghiasi di negara kita ini. Mulai dari berbagai iklan di beberapa media, pernak-pernik rumah dan perhiasan, sampai intensnya seseorang dalam beribadah. Khusus bagi umat islam sendiri, moment ini menjadi berkah tersendiri. Tak terkecuali bagi para penjual jasa zikir dan doa di makam.

Laporan: Nugroho

Beberapa orang terkadang menyewa jasa pembaca zikir dan doa untuk mendoakan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia. Beberapa diantara mereka datang ke makam beberapa ulama besar untuk berziarah atau hanya sekedar berwisata. Menyewa pembaca zikir dan doa menjadi cara yang praktis untuk memperoleh sebuah pahala berlipat di bulan suci nanti.
Salah satu pembaca zikir dan doa yang memperoleh rezeki berlipat menjelang datangnya Bulan Ramadan adalah Mujibul Rahman Bin Abdul Jalil, atau yang akrab disapa Mujib. Mujib adalah pembaca Zikir dan doa sekaligus juru kunci Makam Syekh Yusuf Al-Maqassari. Selama delapan tahun sudah ia menjali profesinya. Selama itu juga, ia mendapatkan banyak rezeki saat Ramadan tiba.
Sebagai seorang juru kunci, Mujib tinggal di makam tersebut. Saat ini, Mujib memiliki istri bernama Habibah dan tujuh orang anak yang tinggal di Jalan Syekh Yusuf. Ia harus rela tinggal berpisah dengan istri dan anaknya karena amanah dan sewaktu-waktu orang membutuhkan jasanya di makam.
Selama ia bekerja, Mujib tidak pernah memasang tarif kepada para peziarah yang memakai jasanya. Ia mengatakan jika tujuannya karena Allah, seikhlasnya ia menerima berapapun yang diberikan peziarah. Bahkan jika ada peziarah yang tidak memberikan apapun, ia tetap ikhlas. “Saya tidak pernah memasang tarif, semuanya tergantung keikhlasan karena Allah,” kata Mujib.
Uniknya, para peziarah yang mengunjungi makam tersebut bukan hanya dari kalangan muslim saja. Melainkan ada juga beberapa kalangan non-muslim yang turut berziarah. Mujib mengatakan jika selama ini niat peziarah non-muslim niatnya cukup baik, yaitu ingin mendpatkan berkah berupa ilmu seperti ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf sendiri. “Hindu dan Budha datang, selama niatnya baik karena Allah, tidak masalah,” kata Mujib.
Sebagai juru kunci, ia bertanggungjawab atas makam tersebut. Sedekah yang diberikan para peziarah kepada dirinya ia gunakan untuk perawatan makam. Mulai dari kebersihan, keamanan, sampai renovasi terhadap kompleks makam tersebut.(nug/war/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top