Headline

Diabetes-Vertigo, Terdakwa Kasus Bandara Meninggal di Lapas

MAKASSAR, BKM — Seorang terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pembebasan lahan Bandara Sultan Hasanuddin meninggal dunia. Raba Nur (58) mengembuskan nafasnya yang terakhir, Senin dinihari (22/5) pukul 01.30 Wita.
Mantan kepala Desa Baji Mangai, Kabupaten Maros dua periode itu berpulang kala menghuni sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan Klas I Makassar. Raba Nur dikabarkan meninggal setelah sempat dirawat di klinik Lapas, Baharuddin Suryobroto sejak bulan Maret lalu.
Salah seorang keluarga almarhum, H Sattu menuturkan, kabar meninggalnya Raba Nur ia peroleh dari petugas Lapas. ”Informasinya, dia jatuh di kamar mandi. Saat terjatuh ia muntah darah dan langsung dirujuk ke klinik lapas untuk mendapat perawatan medis,” ujarnya, kemarin.
Diakuinya, almarhum menderita penyakit diabetes. Ditambah lagi stres setelah dirinya tersangkut kasus korupsi. Jenazah almarhum tiba di rumah duka pukul 03.00 Wita, Senin dinihari.
Kepala Lapas Klas I Makassar, Marasidin Siregar, membenarkan jika Raba Nur meninggal dunia pada pukul 01.30 dinihari. Ia telah menghuni sel tahanan Tipikor sejak Agustus lalu, saat berstatus sebagai tahanan penyidik Kejati Sulsel.
Ketika meninggal dunia, Raba masih berstatus sebagai seorang terdakwa pada kasus ripikor tersebut, dan kini menjadi tahanan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
“Dia sudah lama sakit. Makanya kami beri kebijakan bahwa keluarganya boleh menemani terdakwa dari pagi sampai jam delapan malam,” ujar Marasidin Siregar di ruang kerjanya, kemarin.
Marasidin menjelaskan, sejak malam sebelum meninggal dunia, keluarga Raba Nur sudah datang ke lapas. Mereka melihat langsung Raba dirawat dengan maksimal.
Selama ditahan di Lapas Makassar, Raba Nur menghuni sel di blok 1 khusus Tipikor. Menurut Maradisin, Raba tak pernah memiliki masalah, baik dengan penjaga lapas maupun tahanan lainnya.
Sementara, dokter yang menangani Raba Nur, Vonny mengaku bila Raba Nur memang sudah memiliki riwayat penyakit diabetes melitus dan vertigo. Penyakit tersebut sudah diderita selama lima tahun lalu, sebelum ia masuk lapas.
“Awalnya dia tidak konsumsi obat dokter. Cuma obat herbal. 10 September baru mulai berobat ke klinik, karena demam,” bebernya.
Sebelum meninggal, kata Vonny, kondisi Raba Nur memang terlihat lemas. Selanjutnya dirawat sejak 10 Maret di bangsal lapas. Raba Nur juga sering mengeluhkan batuk dan pusing.
“Kondisi terakhirnya pada hari Sabtu kemarin, tekanan darahnya 110/180. Pihak keluarga sendiri yang membawanya untuk mendapatkan perawatan dokter usai sidang di PN Makassar setiap minggunya,” tandasnya.
Humas Pengadilan Tipikor Makassar, Ansar Madjid mengaku telah menerima laporan terkait meninggalnya Raba Nur dari pihak Lapas pada Senin pagi.
Menurut Ansar, Raba Nur memang sempat mengajukan penangguhan penahanan kepada pihak Pengadilan Tipikor ketika telah berstatus sebagai terdakwa.
“Memang ada permintaan penangguhan. Tapi yang kami kabulkan untuk izin berobat saja,” tandasnya.
Karena, kata Ansar, untuk penangguhan penahanan memang butuh pertimbangan. Apalagi bagi terdakwa kasus ripikor. ”Kami sangat hati-hati untuk mempertimbangkan,” terangnya.
Sesuai ketentuan, ia melanjutkan, meninggalnya Raba Nur secara otomatis akan menggugurkan pertanggungjawaban pidananya secara hukum.Hal tersebut dimungkinkan karena diatur dalam pada pasal 77 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang meninggalnya terdakwa.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Siti Rabiah, terdakwa yang bersamaan diadili di PN Tipikor Makassar
“Sesuai ketentuan, dengan meninggalnya terdakwa, perkara tersebut dianggap gugur khusus Raba Nur. Kalau perkaranya Siti Rabiah, tetap kita lanjutkan pekan depan,” tegasnya.
Kepala Kejaksaan Negeri Maros, Eko Suwarni mengatakan status terdakwa adalah tahanan pengadilan. Olehnya itu dia masih menunggu putusan dari pengadilan. Meski diakuinya dalam aturan status terdakwa gugur karena meninggal dunia.
Salah satu tim penasihat hukum terdakwa, Budi Minzathu mengatajak, status hukum kliennya setelah meninggal dunia diatur dalam Pasal 77 KUHP. Dimana dinyatakan oleh majelis hakim, sehingga tidak ada lagi tuntutan.
Mengenai aset yang sempat disita, dia mengatakan itu kembali ke majelis hakim. “Seharusnya aset yang disita harus dikembalikan ke ahli waris. Karena aset yang disita bukan milik terdakwa, melainkan milik anak terdakwa dan sudah lama dikuasai,” jelasnya.
Rencananya, kata dia, sidang kliennya dilaksanakan kemarin dengan agenda pemeriksaan terdakwa. “Jadwal sidangnya hari ini (kemarin). Rencananya, pemeriksaan terdakwa. Kita perkirakan sisa tiga kali sidang setelah pemeriksaan terdakwa dilanjutkan pledoi, tuntutan dan putusan,” terangnya.
Budi juga menyoroti perlakuan pihak lapas. Dimana kliennya sejak beberapa bulan terakhir dalam kondisi sakit. Dia sudah mengajukan permohonan untuk dilakukan pengobatan luar, tapi tidak pernah disetujui.
“Makanya hanya dirawat di klinik. Padahal di klinik itu terbatas peralatannya. Belum lagi perlakuan antara tahanan yang statusnya titipan dengan bukan, itu sangat berbeda,” tandasnya.
Dia menambahkan, biasanya setiap ada jadwal sidang dan sebelum sidang dimukai, kliennya selalu berkumpul bersama. Namun sejak dua kali sidang, ia terlihat menyendiri. (mat-ari/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top