Headline

Jual Jalangkote Keliling untuk Biayai Sekolah

Samsu Niang, Anggota DPR RI dan Pendiri Yayasan Laniang (1)

BANYAK orang yang melihat kesuksesan kala berbuah hasil. Jarang diantaranya berusaha melihat ke belakang, seperti apa perjalanan panjang guna meraih sukses itu. Padahal ada banyak hikmah serta pelajaran yang dipetik dari sana.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DI sebuah kawasan pendidikan dalam wilayah perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar, Sabtu (20/5). Di lokasi yang cukup luas ini berdiri sejumlah bangunan sekolah. Mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMK. Ada pula Sekolah Luar Biasa (SLB).
Sekolah ini dikelola Yayasan Pendidikan (YP) Laniang. Pendirinya adalah Samsu Niang. Saat ini ia menjadi anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) periode 2014-2019.
Sosok peramah itu menyambut langsung BKM ketika memasuki area YP Laniang. Tidak ada rasa canggung sama sekali. Sebagai seorang pendiri yayasan sekaligus wakil rakyat di Senayan, Samsu Niang begitu terbuka.
Melihat kedudukannya sebagai legislator pusat dan pendiri sebuah yayasan pendidikan, banyak diantara kita yang langsung menerka bahwa kehidupan sosial ekonomi Samsu Niang saat ini begitu mapan. Itu betul dan sangatlah wajar.
Tapi, percayakah kita kalau politikus yang karib disapa Ancu memiliki masa kecil dan remaja yang begitu miris. Ya, perjuangan berat nan berliku ia jalani untuk bisa seperti saat ini.
Ancu menghabiskan masa kecilnya di Desa Pising, Kecamatan Donri-donri, Kabupaten Soppeng. Ayahnya seorang petani. Sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana membuatnya harus terbiasa mandiri.
Setelah menikmati santap siang di Cafe Laniang yang baru saja ia resmikan, Samsu bercerita banyak tentang kehidupannya. Dari mulai menjual jalangkote keliling, sampai hampir tidak naik kelas karena tidak mampu membayar uang SPP.
Pantaslah jika kemudian Samsu Niang dipercaya menjadi wakil rakyat di DPR RI. Sebab hidup susah telah ia rasakan. Ia mengerti betul bagaimana harapan masyarakat menengah ke bawah terhadap pemerintah dan dewan.
Awalnya, ia tidak menyangka bisa terpilih menjabat anggota DPR RI. Demikian pula orang-orang di sekitarnya. Rasa heran bahkan melingkupi. Pertanyaannya kala itu; kenapa Samsu Niang bisa terpilih sementara latar belakang ekonominya terbilang rendah. Tidak seperti kebanyakan anggota dewan lainnya yang hampir semuanya memiliki kehidupan ekonomi sangat layak.
Ketika duduk di bangku SD, Ancu kecil harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Orang tua tidak mampu membiayai sekolahnya. Alhasil, Samsu harus berjualan jalangkote dan es lilin setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Ia melakukan pekerjaan ini setiap harinya agar bisa tetap melanjutkan sekolah.
Jalangkote yang ia jual dibuat oleh kakaknya. Kemudian Samsu lah yang berkeliling untuk menjajakannya. Ketika ia berhasil menjual 10 jalangkote, Samsu mendapat keuntungan satu. Jika 20 berhasil dijual, maka keuntungannya dua. Paling banyak ia jual setiap harinya sebanyak 30 jalangkota. Artinya ia mendapat keuntungan tiga tiap hari.
Rutinitas itu ia lakoni hingga duduk di bangku SMP. Setelah itu, Samsu mulai beralih memelihara ulat sutera. Ulat sutera itulah yang kemudian ia jual kembali. Lagi-lagi demi membiayai sekolah.
Saat SMA, Samsu tak lagi tinggal bersama orang tuanya. Ia diasuh oleh kakaknya yang berprofesi sebagai penjahit. Kakaknya inilah yang berjasa besar menyekolahkan Samsu dari SMA hingga sarjana.
Di rumah kakaknya, ia juga harus tetap bekerja keras. Jikalau ada waklu luang, Samsu menpergunakannya untuk membantu kakaknya menjahit. Hal ini terus ia lakukan sampai menginjak bangku perkuliahan.
Samsu berhasil masuk di jurusan Ilmu Keolahragaan IKIP Ujung Pandang kala itu. Saat kuliahpun Samsu masih harus membantu kakaknya. Namun, biaya kuliahnya agak sedikit ringan, karena Samsu berhasil mendapatkan beasiswa dari kampus.
Samsu juga menyentil kisah tentang dirinya yang hampir tidak naik kelas. Bukan karena prestasi akademiknya yang buruk. Namun karena pada saat itu Samsu tidak mampu membayar uang SPP. Beruntung, ada keluarganya yang berniat membantu membayarkan uang SPP sehingga ia bisa naik kelas.
“Saat itu naik kelas 2. Saya pulang menangis karena tidak naik kelas. Saya tidak bisa bayar SPP. Untung, saat itu ada keluarga yang seorang pegawai melihat saya. Alhamdulillah, ia terketuk hatinya untuk membantu supaya saya membayar SPP hingga saay bisa naik kelas,” kenang Samsu.
Saat itu juga ia berjanji kepada dirinya sendiri, jika suatu saat menjadi orang besar, ia akan membangun sekolah untuk orang-orang miskin. Inilah yang menjadi cikal-bakal Samsu Niang mendirikan Yayasan Pendidikan Laniang.
“Di sekolah ini, dari tingkat SD, SLB, dan SMP, semuanya gratis. Karena saya tahu, mereka yang bersekolah di sini adalah orang-orang yang tidak mampu,” jelas Samsu.
Biaya renovasi sekolah dan gaji guru di YP Laniang murni subsidi dari gajinya sendiri sebagai anggota DPR RI. (*/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top