Kapan Kami Bangkit? – Berita Kota Makassar
Headline

Kapan Kami Bangkit?

SUDAHKAN kita memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati pada setiap 20 Mei? Apakah seluruh lapisan masyarakat di negeri ini telah mampu bangkit dari keterpurukan? Atau Harkitnas hanya dijadikan seremonial sejauh ini?
Di Makassar, kota dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di Indonesia timur harusnya menjadi daerah sentral dan percontohan jika semua masyarakatnya telah bangkit. Bangkit dari penjajahan klasik maupun penjajahan modern.
Bangsa ini telah merdeka. Makassar juga telah bebas dari penjajahan bangsa lain. Namun masih saja ada sebagian masyarakat yang ternyata masih harus dibangkitkan. Terutama dibangkitkan dari penjajahan modern.
Penjajahan modern bisa datang dari mana saja. Salah satunya dari sektor ekonomi. Karena terjajah dari segi ekonomi, akhirnya mereka tidak memiliki kebebasan bertempat tinggal secara permanen. Masih banyak masyarakat di kota ini yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Tempat tinggal yang sangat tidak layak pun dihuninya.
Salah satunya adalah Samsuddin. Pria 53 tahun yang berprofesi sebagai tukang parkir ini benar-benar tidak memiliki tempat yang layak. Rumahnya yang beralamat di Jalan Nuri Lama Lorong 300 No. 118 ini lebih layak dikatakan sebuah gubuk. Terbuat dari setengah batu bata, seng, dan kayu yang beberapa bagiannya telah lapuk. Atapnya bocor dan terlihat sangat berantakan.
Di usia yang sudah kepala lima, ia hidup sendirian. Tidak memiliki anak dan istri. Semua saudaranya seakan sudah tidak mau memperdulikannya lagi.
Karena kondisi rumahnya yang begitu tidak layak ditempati, Samsuddin sehari-harinya tidur di sebuah pos penjagaan di dekat rumahnya. Hal ini telah ia lakukan selama empat bulan belakangan. Baginya, tidur di pos tersebut lebih nyaman dibanding di rumahnya sendiri.
“Saya kalau tidur di pos ini, lebih enak karena ada televisi,” kata Samsuddin.
Sehari-harinya, Samsuddin menjadi tukang parkir di depan SMA Katolik Cendrawasih. Perghasilan per harinya hanya sekitar Rp30 ribu. Hasil tersebut ia gunakan untuk makan sehari-hari.
Yang paling memiriskan, selama hidupnya ia belum sekalipun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Terkadang, ia hanya mendapatkan bantuan berupa makanan dari para tetangganya saja. “Seumur hidup, sedikitpun saya belum pernah dapat bantuan dari pemerintah kasihan,” cetus Samsuddin.
Sebagai masyarakat Makassar, ia sangat berharap bisa mendapatkan bantuan, terutama dari pemerintah kota. Bantuan berupa apapun sangat berarti bagi dirinya. “Saya berharap sekali kodong dapat bantuan. Terutama itu rumahku maumi diperbaiki,” keluhnya.
Sedikit lebih beruntung dari Samsuddin, Ical yang merupakan warga Rusunawa Lette bisa tinggal di rumah susun tersebut bersama istrinya. Namun ia juga memiliki masa kelam dengan tempat tinggal yang pernah dihuninya.
Ical sebelumnya tinggal di Kampung Mandar. Karena bukan merupakan tanah miliknya, ia dipaksa pindah oleh pemerintah ke rusunawa dengan syarat mengontrak salah satu kamar di tempat tersebut. Dengan berat hati karena ia sadar bahwa tiap bulannya harus membayar retribusi, ia dan istrinya pun pindah.
Ical sehari-harinya berprofesi sebagai pengrajin anyaman rotan. Melalui pekerjaannya, ia biasa menghasilkan Rp800 ribu per bulannya. Hasil yang dirasa cukup kecil jika melihat dari kebutuhan dan jumlah retribusi yang harus dibayarkan ke pengelola rusunawa.
Di rusunawa tersebut, Ical pernah sekali diusir oleh pengelola rusunawa. Hal ini karena Ical menunggak biaya sewa kamar, listrik, dan air yang mencapai Rp1,2 juta.
Saat itu ical bersama warga rusunawa lainnya sedang melakukan kerja bakti di halaman rusunawa. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan dan tanpa mediasi terlebih dahulu kamarnya di bongkar oleh petugas pengelola. Semua perabot rumahnya dikeluarkan paksa dan pintu kamarnya dirantai.
“Saat itu saya mau bayar dulu Rp500 ribu kepada pengelola, namun ditolak karena mereka menganggap terlalu sedikit. Padahal bagi saya itu sudah sangat besar,” jelas Ical.
Akhirnya, karena merasa tidak menerima keadilan, Ical menggergaji sendiri rantai di pintu kamarnya untuk membawa masuk kembali barang-barangnya. Ical sangat menyayangkan tidak adanya mediasi terlebih dahulu dengannya saat pembongkaran. Padahal dirinya ada di sekitar rusunawa saat itu.
Ia juga takut jika ada barang-barangnya yang akan hilang jika terus dibiarkan di luar kamar. Karena hal itulah Ical membongkar sendiri rantai yang mengikat pintu kamarnya.
Akhirnya beberapa saat setelah itu, Ical membayar biaya tunggakannya menjadi Rp800 ribu yang kemudian diterima oleh pengelola.
Ical mengaku jika selama ini tidak ada bantuan sama sekali yang diberikan oleh pemerintah. Selama ini ia mendapatkan bantuan berupa cat untuk merenovasi rusunawa dari para tetangganya yang tinggal tidak jauh dari rusunawa.
Harapannya sagat besar kepada pemerintah. Ia bisa mendapatkan fasilitas yang lebih layak lagi di rusunawa. Pemerintah juga hendaknya rutin mengecek rusunawa dan mendengar keluhan para penghuni. Bagi (nug/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top