Headline

Dicibir Keluarga Kala Memulai Beternak Lele

BKM/ANDI RUSTAN INDUKAN-Dg Gani memperlihatkan satu dari puluhan ekor ikan lele indukan yang dipeliharanya.

TAK ada keberhasilan yang diraih dengan mudah. Butuh perjuangan panjang nan berliku. Terkadang, keluarga sendiri tak mendukung. Bahkan mencibir.

SEBUAH rumah bercat hijau di Dusun Bukkang Mata, Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Lokasinya tidak jauh dari lapangan sepak bola kompleks perumahan Mangga Tiga, Daya belok kanan.
Ini adalah rumah Abd Gani, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bukkang Mata. Kediamannya tidak masuk dalam kompleks perumahan Mangga Tiga. Melainkan pemukiman penduduk yang sudah lama ada sebelum perumahan dibangun.
”Asalamualaikum,” kata BKM memberi salam kepada tuan rumah. ”Waalaikumsalam,” jawab seorang lelaki dari dalam.
Hari masih pagi. Kira-kira pukul 09.00 Wita. Abd Gani yang karib disapa Daeng Gani mempersilakan BKM masuk. Seorang anak perempuan berumur sekitar dua tahun mengikut di belakangnya.
Sebelum memulai perbincangan, Dg Gani memeriksa handphonenya. Ternyata belum aktif. Diapun kemudian memencet tombol untuk mengaktifkannya.
Bungsu dari sembilan bersaudara ini mulai bertutur tentang kisah pilu merintis usaha budidaya ikan ikan lele. Mulai dari awal hanya sekadar memelihara, hingga kemudian memutuskan untuk melakukan pembibitan sendiri.
Sebenarnya, Dg Gani dulunya adalah peternak ayam. Berbagai jenis ayam diperliharanya. Seperti ayam kampung, ayam ketawa hingga ayam Filipina. Ia bahkan sudah mengecap hasil dari usahanya itu. Bahkan, salat satu kamar di rumahnya dijadikan kandang ayam.
Namun, rasa kecewa datang melanda. Ayam peliharaannya terserang penyakit flu burung. Hanya satu ekor yang tersisa.
Padahal, waktu itu Dg Gani yang juga berjualan bambu dekat SMA 18 baru saja membeli butiran berupa pakan untuk ayam-ayamnya. Harganya tidak tanggung-tanggung. Mencapai Rp5 juta.
Makanan ayam itupun kemudian ia bagi-bagikan ke tetangga. Kalimat frustrasi pun meluncur dari mulutnya. Ia tak akan pernah memelihara ayam lagi.
Tak punya pekerjaan serta penghasilan, sejak saat itu ia kemudian beralih ke memancing. Dua kali seminggu Dg Gassing dan temannya memancing hingga ke Pangkep.
Pada saat bersamaan, keluarga di rumah mulai gelisah. Karena uang belanjanya selalu digunakan Dg Gassing untuk operasional memancingnya.
Di suatu masa, saat hendak mengambil uang di bank, ia bertemu dengan temannya yang sama-sama pernah merantau di Malaysia. Dari perbincangan diantara mereka, diketahui jika sang teman tengah menggeluti pekerjaan memelihara ikan lele. Dg Gani sempat bertanya-tanya ke temannya itu tentang budidaya ikan lele.
Karena penasaran, sesampainya di rumah diapun langsung berselancar di dunia maya. Dg Gani berusaha mencari tahu tentang teknik memelihara ikan lele. Alhasil, diapun mendapatkan informasi yang dicarinya.
Dicobalah memulai beternak lele. Diawali dengan membuat kolam. Tapi bukan kolam yang lazim ditemukan, seperti terbuat dari batu bata dan campuran semen. Melainkan dibuat dari terpal kedap air. Kolam ini diposisikan di rumah kakaknya bernama Dg Gassing. Jarak rumah dua bersaudara ini tidaklah terlalu jauh di Bukkang Mata.
Ternyata, usaha yang dirintis tidaklah berjalan mulus. Keluarga Dg Gani hampir seluruhnya mencibir dan meremehkan. ”Bagaimana ikan bisa hidup di darat. Di laut saja mati,” ujar Dg Gani menirukan pernyataan keluarganya saat itu.
Meski begitu, ia tetap nekat melanjutkan usahanya. Dg Gani kemudian mencari bibit ikan lele. Lagi-lagi kendala ditemui. Sebab penjual bibit ikan lele ketika itu masih langka.
Internet pun kemudian jadi solusinya. Dari sini didapat penjual bibit ikan lele yang berlokasi di Jawa. Maka dipesanlah 10 ribu ekor bibit. Pengirimannya dilakukan melalui udara.
Sebagai seorang pemula dan modal nekat, Dg Gani harus mencicipi sebuah kegagalan. Bibit yang dibelinya seharga Rp3,5 juta itu tak berbuah hasil. Hanya dalam tempo tiga hari, ikan-ikan berukuran kecil tersebut mati seluruhnya.
Penyebabnya karena suhu air. Bibit yang tiba itu langsung dituang ke dalam kolam terpal bersuhu air hangat. Kontan saja ikan tersebut berubah warna menjadi putih dan mengapung. Mati!
Kenyataan lain harus didapat Dg Gani. Keluarga yang sedari awal tak mendukungnya, kembali melontarkan hal senada. Akhirnya, Dg Gani memilih untuk beristirahat. Kira-kira dua minggu lamanya. Tapi kolam terpal yang sudah ada tetap diisi air.
Usai rehat sejenak pascagagal, Dg Gani kembali memesan bibit ikan lele sebanyak 20 ribu ekor. Kali ini dari Surabaya. Uang yang dipakai untuk membeli merupakan pinjaman dari seorang ponakannya. Jumlahnya Rp5 juta.
Untuk tahap awal pemeliharaan, Dg Gani sudah berhasil melaluinya. Karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Bibit ikan mampu bertahan.
Namun persoalan baru muncul. Yaitu pakannya. Dg Gani belum tahu makanan yang cocok untuk ternaknya. Dia kemudian mencari sendiri siput lalu diberikan ke ikan lele.
Usahanya kali ini sudah bisa mendapatkan hasil. Ikan lele berhasil dibesarkan. Hanya saja jauh dari harapan. Seharusnya yang bisa dipanen 2,5 hingga 3 ton. Namun kenyataannya, cuma 75 kilogram.
”Ternyata, kalau ikan lele lapar mereka saling memakan satu sama lain. Siput sulit didapat,” tutur Dg Gani memberi argumen.
Tapi, dengan hasil ini setidaknya telah memberi semangat bagi Dg Gani untuk melanjutkan usaha ternak ikannya.
Iapun kemudian mencari lagi bibit ikan untuk diternakkan. Tidak lagi didatangkan dari Jawa. Melainkan produksi lokal.
Pertemuannya dengan Iccang yang tinggal di Bumi Tamalanrea Permai (BTP) memberinya harapan baru. Sebab Iccang telah mampu menghasilkan bibit sendiri. Hanya saja harus menunggu dua minggu agar bibitnya siap.
Pembayarannya juga bisa diangsur, dengan pertimbangan kedekatan lokasi tempat tinggal. Awalnya dibayar setengah. Dua minggu kemudian baru dilunasi.
Usai mendapatkan hasil, Dg Gani kemudian memutuskan untuk menambah dua kolam baru. Kebun yang sebelumnya tidak produktif, kemudian dibersihkan dari pepohonan dan rerumputan. Hingga akhirnya menjadi 12 kolam.
Empat kolam diantaranya dipakai untuk ujicoba. Ukurannya 2×3 meter. Kolam kemudian diisi dengan material berbeda. Masing-masing satu kolam berisi kotoran kerbau, jerami, tanah dari sawah serta arang kayu. Hasilnya, ikan lele mampu hidup di empat kolam yang berbeda isinya itu.
Sebagai seorang pemula, Dg Gani masih terus bereksperimen dengan usahanya. Anjuran agar kolam diatapi agar tidak kena hujan, coba dimentahkannya. Dia membuat kolam yang tak beratap. Hasilnya, ikan lele tetap hidup dan besar.
Seiring keberhasilannya beternak lele, usaha serupa juga ramai dilakoni orang lain. ‘Perebutan’ makanan khusus ikan lele berupa usus ayam potong pun terjadi. Bagian dalam ayam yang sebelumnya bisa didapat secara gratis, sudah punya harga jual.
”Butiran untuk pakan ikan lele cukup mahal. Setiap bulan naik,” kata Dg Gani.
Diapun kembali memutar otak untuk mencari pakan bagi ternak ikannya. Dipilihlah ubi kayu lalu dimasak. Benar saja, pakan jenis ini dimakan oleh ikan. Hanya saja pertumbuhannya lambat. Karena ikan merupakan hewan pemakan daging.
Dalam situasi tertekan, muncul ‘temuan’ pakan baru Dg Bani. Yaitu pohon pisang. Bagian dalam pohon pisang itu dicampur dengan terasi lalu diaduk dalam baskom. Ikan pun memangsanya dengan lahap. Hanya saja tidak ada kandungan proteinnya.
Karena kesulitan pakan, Dg Gani mengambil keputusan yang tak biasa. Ia berinisiatif menjual paksa satu kolam ikan yang dipeliharanya. Satu kolam isinya 20 ribu ekor. Hasil penjualannya Rp7 juta.
”Rp7 juta itu hanya kembali modal dari pembelian bibit. Saya rugi pakan dan pemeliharaan. Tapi mau diapa, terpaksa dijual gelondongan begitu untuk mendapatkan uang,” terangnya.
Lalu diapakan uang Rp7 juta itu? Bagaimana cara Dg Gassing mendapatkan pakan yang pas untuk ikan lelenya? Baca edisi besok. (rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top