Pernah Jadi Agen Properti tak Terima Komisi – Berita Kota Makassar
Headline

Pernah Jadi Agen Properti tak Terima Komisi

ORANG yang telah merengkuh sukses kebanyakan merintisnya dari nol. Kerja keras, keuletan yang dibalut kesabaran dan tanpa kenal lelah menjadi kunci utamanya. Jangan lupa, yakinlah bahwa Tuhan tak akan pernah membiarkan mereka yang ikhlas dalam bekerja.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

ROHMAT Tri Prasetiyo tak menafikan semua itu. Tidaklah mengherankan jika kini ia pun mengecap buah dari perjuangannya yang penuh duka serta tantangan berat.
Kala Rohmat duduk di bangku SMP, ayahnya yang sedari awal menjadi tulang punggung keluarga, pindah ke Makassar. Pekerjaannya pada sebuah pabrik di Surabaya ia tinggalkan. Rohmat kemudian iktu hijrah bersama orang tuanya ke Kota Daeng.
Di Makassar, ayah Rohmat tidak lagi bekerja di pabrik. Hanya mengerjakan interior jika ada orang yang memesan. Hal itu dilakukan dengan peralatan seadanya. Penghasilan ayahnya menjadi tak menentu.
Rohmat juga kerap kali membantu ayahnya memasang furniture dinding di beberapa rumah. Pernah suatu hari ayahnya mendapat pesanan untuk memasang interior dinding di salah satu hotel di Makassar. Untuk turut membantu, Rohmat harus bersepeda dari rumahnya menuju hotel tersebut.
“Waktu itu saya bantu bapak pasang tripleks di dindingnya. Saya bantu pegangkan, terus bawa-bawa makanan dan minumannya bapak,” kenang Rohmat.
Setelah dewasa, Rohmat sebenarnya pernah bekerja di salah satu agen properti. Tugasnya adalah mencari pembeli rumah yang akan dijual. Saat itu penghasilannya didapat dari komisi hasil penjualan rumah yang ia pasarkan.
Namun, setelah kurang lebih setahun bekerja, Rohmat mengatakan jika ia tidak pernah mendapatkan komisi yang maksimal. Bahkan pernah suatu hari, selama dua bulan ia tidak memperoleh komisi.
Sadar bahwa dengan begitu akan sulit meningkatkan perekonomian keluarga, Rohmat memilih berhenti. Ia kemudian kembali membantu ayahnya membuat berbagai interior.
Di sinilah ia melihat ada peluang yang bagus dari pekerjaan ayahnya tersebut. Modal marketing dan manajeman yang ia pelajari selama sekolah dan bekerja, membuat ia berpikir untuk mengelola pekerjaan ayahnya secara baik.
Bermodal peralatan seadanya milik sang ayah, sedikit-sedikit Rohmat menabung untuk membeli peralatan yang lebih lengkap lagi. Dari tempat usaha, sempat Rohmat menumpang di depan rumah milik rekan ayahnya ketika itu.
Karena tempatnya lumayan luas untuk menyimpan peralatan usaha, ia dan ayahnya menumpang untuk beberapa waktu. Hasilnya, Rohmat kembali menabung untuk membeli sebuah rumah di Paccinongang sebagai tempat usahanya.
Sedikit demi sedikit, ia menabung dan terus menabung sehingga usahanya kini telah menjadi besar. Kehidupannya telah jauh berbeda dari masa kecilnya.
Banyak suka dan duka yang dilalui Rohmat dalam membesarkan usahanya. Yang paling ia rasakan adalah saat proyek lagi sepi. Rohmat mengetahui betul jika bisnisnya adalah bisnis musiman. Terkadang, di bulan-bulan tertentu bahkan Rohmat tidak mendapat satupun pesanan. Kondisi seperti itulah yang harus ia antisipasi.
“Kadang kalau lagi ndak ada proyek, kita harus benar-benar putar otak. Bagaimana caranya saya menghidupi keluarga hingga membayar gaji karyawan,” katanya.
Berbeda ketika lagi musim pembangunan. Rohmat bahkan biasa sampai kewalahan menerima pesanan yang ada.
“Di tempat kita, harga furniturnya relatif terjangkau dibanding yang lainnya dengan kualitas sama. Jadi banyak yang pesan kalau lagi ada proyek. Sukanya di situ,” tambah Rohmat.
Rohmat berpesan kepada mereka yang ingin sukses, khususnya di bidang wirausaha. Harus punya semangat dan mental yang kuat, karena cukup banyak ujiannya.
“Membangun sebuah usaha itu tidak langsung berjalan normal. Di awal pasti akan jatuh bangun. Tidak sesuai dengan harapan. Orang biasanya berpikir kalau jadi pengusaha itu banyak uang. Kenyataannya, di awal-awal kita menjalankan usaha justru kita tidak punya uang sama sekali. Namun jika sabar, kita akan nikmati sendiri hasilnya,” kunci Rohmat. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top