BMKG Prediksi Sepanjang Ramadan Kemarau – Berita Kota Makassar
Metro

BMKG Prediksi Sepanjang Ramadan Kemarau

MAKASSAR, BKM–Umat Islam akan menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan 1438 hijriah pada 27 Mei mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memperkirakan akhir Mei sudah memasuki musim kemarau.

Datangnya musim kemarau di bulan Ramadan menjadi ujian tersendiri bagi Umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa.
Menurut Prakirawan BMKG Wilayah Makassar, Siswanto, Selasa (9/5), selama Ramadan, sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan telah mengalami musim kemarau. Terkhusus wilayah Sulsel bagian barat dan bahkan sebelum Ramadan telah memasuki musim kemarau.
Berbeda dengan wilayah Sulsel bagian utara yang meliputi Luwu, Luwu Utara, Luwu, Palopo, Tana Toraja, Toraja Utara, dan Enrekang yang masih memiliki curah hujan sedang saat Ramadan nanti.
Begitupun kata Siswanto, wilayah Sulsel bagian barat yang meliputi Makassar, Maros, Pangkep, dan sekitarnya memang mengalami kemarau saat Ramadan nanti. Namun hal itu bukan berarti wilayah tersebut tidak akan turun hujan sama sekali. Kemungkinan hujan ada, namun dalam curah hujan yang sangat rendah. “Analisis kami beberapa hari yang lalu tetap terjadi hujan di pesisir bagian barat, disebabkan massa udara di laut pasifik bertekanan rendah. Sehingga hujan bisa saja terjadi karena arah anginnya pun diikuti dari arah tenggara ke barat daya,” jelas Siswanto.
Untuk wilayah Sulsel bagian utara sendiri, tambah Siswanto, adalah merupakan daerah penghujan. Artinya wilayah tersebut masih akan diguyur hujan meskipun kemarau. “Sulsel bagian utara itu adalah daerah penghujan, artinya walaupun Ramadan sebagian besar wilayah Sulsel telah memasuki musim kemarau, tetapi wilayah bagian utara tetap turun hujan,” kata Siswanto.
Oleh sebab itu, Siswanto mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada meskipun curah hujan sangat rendah. Karena bisa saja hujan turun dengan tiba-tiba.
” Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai harus tetap waspada terhadap gelombang laut. Begitupun dengan masyarakat yang tinggal di lereng-lereng gunung yang harus tetap waspada terhadap tanah longsor,” imbaunya.
Dampak lain dari datangnya musim kemarau bagi masyarakat adalah perubahan iklim. Di peralihan musim ini, kata Siswanto, kondisi suhu tubuh akan menyesuaikan cuaca. Suhu cuaca dari dingin ke panas sangat berdampak bagi kesehatan, jadi masyarakat juga diimbau untuk menjaga selalu kesehatannya.
Selain itu, di musim kemarau juga sangat rawan terjadi kebakaran. Hal tersebut karena suhu yang panas yang memudahkan material kayu bisa terbakar.
Terpisah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Makassar Imran Samad meminta kepada masyarakat di kota ini untuk tidak lalai, dan selalu waspada terhadap potensi dan ancaman kebakaran yang dapat sewaktu-waktu terjadi.
Menurut Imran, kebakaran yang biasa terjadi di Kota Makassar, khususnya di musim kemarau tidak dapat dikatakan sebagai bencana. Sebab peristiwa yang kerap terjadi kebanyakan karena kelalaian masyarakat sendiri. Seperti dengan meninggalkan kompor yang sedang menyala dan mencuri aliran listrik hingga menyebabkan terjadinya arus pendek.
“Potensi terjadinya kebakaran ada dalam kehidupan keseharian kita. Seperti dengan meninggalkan kompor yang sedang menyala, membakar sampah dan ditinggalkan. Kelalaian dalam penggunaan listrik yang dapat memicu terjadinya arus pendek. Untuk itu saya meminta kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada terhadap ancaman dan potensi terjadinya kebakaran,” kata Imran.(nug/war/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top