Berita Kota Makassar | SYL: Bahaya kalau Saya Komentari
Headline

SYL: Bahaya kalau Saya Komentari

MAKASSAR, BKM — Dua adik kandung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengincar untuk ikut berkompetisi di pemilihan wali kota Makassar, Juni 2018 mendatang. Mereka adalah Haris Yasin Limpo dan Irman Yasin Limpo.
Haris yang saat ini menjabat Direktur Utama PDAM Kota Makassar dan pernah tercatat sebagai legislator Golkar Makassar, telah mengambil formulir di tim desk pilkada Partai Gerindra serta Partai Amanat Nasional (PAN) Makassar. Pria yang biasa disapa Nyanyang itu mengambil formulir diwakili timnya, Andi Sugeng Mappanyompa. “Saya mewakili Pak Haris karena beliau sedang menunaikan ibadah umrah,” ujar Sugeng, kemarin.
Hal sama dilakukan Irman Yasin Limpo. None -sapaan akrabnya– saat ini menduduki posisi sebagai kepala Dinas Pendidikan Sulsel. Ia juga telah mengambil formulir. Putra bungsu pasangan HM Jasin Limpo (almarhum) dan Hj Nurhayati ini mengambil formulir meski diwakili oleh LOnya bernama Ismail Baso.
None bahkan terus membangun komunikasi dengan sejumlah tokoh lintas partai, seperti Andi Muhammad Irfan AB dari PAN, Amar Bustanul dari Gerindra serta M Iqbal Jalil dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam sebuah tempat. Bahkan None diwacanakan akan maju dan berpaket dengan Ketua DPD Partai Nasdem Makassar Andi Rahmatika Dewi.
Sekadar diketahui pada Pilwal 2013 lalu, None berpasangan dengan Busrah Abdullah kalah dari pasangan Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rijal. Dari sepuluh pasangan, None menjadi peraih suara terbanyak kedua.
Soal keinginan dua bersaudara yang ingin bertarung di pilwali Makassar, SYL sebagai kakak tidak memberikan jawaban tegas ataupun dukungan. Mantan ketua DPD I Golkar Sulsel ini enggan berkomentar terkait rencana maju dua adiknya jelang Pilwali Makassar nanti.
“Wah, bahaya kalau dikomentari itu, “ujar SYL dengan kalimat sangat singkat sesaat sebelum naik ke mobilnya, Rabu (3/5).
Pengamat politik dari Unibos Dr Arif Wicaksono, menilai sikap SYL menunjukkan dirinya berusaha berada pada sisi yang netral. “Saya kira pada poin itu, SYL benar-benar normatif. Berusaha menempatkan dirinya pada sisi yang netral. Itu bagus buat pembelajaran politik masyarakat. Artinya, SYL ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah pamong yang senantiasa tidak boleh berpihak,” ujar Arief, kemarin.
Di sisi yang lain, tambahnya, secara pragmatis, jika SYL berkomentar atas fenomena tersebut, maka sangat mungkin masyarakat akan dengan mudah menjustifikasinya dengan atribut klan politik.
“Sikap tersebut sekaligus merupakan upaya kenegarawanan SYL dalam merespons hal tersebut (mendaftarnya Pak Haris YL dan Pak Irman YL di parpol dalam rangka maju di Pilwali Makassar), yang mungkin saja merupakan strategi keluarga YL dalam menghadapi tahun politik,” pungkas Arief. (rhm/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top