Headline

Rintis Usaha dari Pinjaman Kakak di Koperasi

SEBELUM menjadi sukses seperti sekarang, hidupnya serba pas-pasan. Banyak pelajaran hidup yang ia timba guna melatih mentalnya menjadi lebih kuat. Yang menjadi utama dan tentunya sangat penting dalam membentuk dirinya adalah ilmu. Pelajaran itulah yang bisa kita petik dari seorang Mahfud Baso.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

TIDAK hanya jauh dari fasilitas mewah, makanan sehari-hari yang ia kecap terkesan seadanya. Mahfud bercerita jika semasa kecilnya dulu, ia tiap harinya sarapan pagi hanya dengan menggunakan nasi dan terasi yang dibakar. Terkadang, memang hanya itulah yang bisa ia nikmati bersama keluarganya.
Walaupun terkesan makanan yang sangat sederhana, namun Mahfud mengaku sangat menikmatinya kala itu. Ia seakan tak pernah lupa aroma makanan yang setiap pagi disajikan oleh ibunya tersebut. “Sampai sekarang itu aromanya tidak bisa kulupa. Nikmat sekali saat itu,” kenangnya.
Saat Mahfud beranjak SMP, beruntung bagi keluarganya karena pemerintah daerah setempat memberikan sedikit perhatian kepada para petani. Pemerintah memberikan bantuan berupa sapi dan kambing untuk dikelola para petani di desa tempat Mahfud tinggal. Keluarga Mahfud mendapatkan seekor kambing dan sapi untuk diternakkan.
Inilah yang kemudian menjadi rutinitas keseharian Mahfud saat SMP. Setiap pulang dari sekolah, tak lupa ia membawa sapi dan kambingnya ke ladang untuk digembalakan.
Mahfud melakukan itu karena orang tuanya yang kadang seharian bertani dan tidak memiliki waktu untuk menjaga ternaknya. Jadilah Mahfud yang melakukannya, karena ia juga sadar bahwa hasil dari ternak ini yang juga bisa menopang perekonomian keluarganya.
Saat beranjak dewasa, ia benar-benar sadar jika ilmu amatlah penting. Oleh karena itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Makassar dengan modal nekat. Dengan biaya pas-pasan dari orang tuanya, ia tetap ingin menuntut ilmu.
Demi menopang kebutuhannya saat kuliah, Mahfud harus bekerja paruh waktu. Ia saat itu memilih bekerja di sebuah percetakan milik kenalannya bernama Arham Bunyamin. Nah, dari sini jugalah kisah sukses Mahfud dimulai.
Bekerja selama setahun di percetakan tersebut, membuat Mahfud belajar banyak dari cara mengelola usaha. Diakui Mahfud, Arham yang menjadi mentor bisnisnya saat itu sangat mndukung dirinya untuk terus berkembang.
Setahun bekerja, Mahfud berniat mendirikan usaha sendiri. Keinginan inipun terbilang nekat. Hal itu karena ia tidak memiliki modal sama sekali.
Saat itu ia berpikir untuk membeli sebuah toko terlebih dahulu. Kendala pun datang. Ada dua orang yang hendak membeli toko yang dimaksud. “Siapa yang duluan ada uangnya, dia yang tempati. Begitu nabilang yang punya toko,” tutur Mahfud.
Beruntung, saat itu kakak Mahfud bersedia untuk membantunya. Sang kakak meminjamkan uang dari koperasi, yang kemudian dipinjamkan kepada Mahfud. Alhasil, Mahfud berhasil membeli sebuah toko dengan uang hasil pinjaman. Nekat, karena kesuksesan Mahfud belum tentu datang dan ia berani meminjam uang yang cukup besar kala itu.
Namun perlahan tapi pasti, dengan modal sebuah printer dan laptop miliknya, ia memulai usaha. Butuh waktu yang tidak singkat, sekitar tiga tahun baru usaha Mahfud bisa seperti saat ini.
Sekarang Percetakan Sulapappa berubah menjadi usaha yang sangat menguntungkan. Omzet Rp50 juta tiap bulannya selalu Mahfud dapatkan. Utangnya saat akan membeli toko, kini telah ia lunasi.
Banyak suka duka yang dirasakan Mahfud saat mengelola usahanya. Ia mengakui, tidak mudah mengelola usaha baru yang akan dibesarkan. “Saat ini semua pelanggan inginnya cepat, sedangkan dalam sehari banyak sekali yang mau dikerjakan. Kalau ada pesanan orang yang terlambat sedikit, biasa langsung marah-marah,” jelas Mahfud.
Namun di sisi lain, Mahfud sangat bahagia mengelola usahanya. “Kita kerja tiap hari, tapi santai. Tiap hari juga bisa kumpul sama keluarga,” kata Mahfud dengan nada bahagia.
Saat ini Mahfud tinggal bersama istri dan seorang anaknya. Ia menikah tahun 2014 lalu ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, sekaligus sedang merintis usahanya. Istrinya, Ratna Nila Sari menjadi salah satu sosok yang membuat Mahfud menjadi sukses seperti saat ini.
Tak lupa Mahfud berpesan kepada semua orang yang hendak menjalankan usaha. Menurutnya, semua orang dibekali potensi yang besar untuk mengelola apapun. Tinggal bagaimana orang tersebut melihat peluang yang ada.
Peluang yang dimaksud itu hanya bisa dimaksimalkan ketika ilmu pada bidang tersebut dikuasai. “Sebelum terjun, ilmu yang harus utama. Karena ilmu itu ibarat penerang,” kunci Mahfud. (*/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top