Headline

Jualan Jeruk dan Beternak Demi Bertahan Hidup

Mahfud Baso, Pemilik Percetakan Sulapappa (1)

“Kata gagal itu tidak ada, selama kita masih berusaha.” Kutipan kalimat dari Habibie inilah yang membuat Mahfud Baso tak henti berusaha untuk memperbaiki hidupnya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

LAHIR dari keluarga petani, Mahfud Baso benar-benar merasakan hidup yang jauh dari kemewahan. Sejak kecil, anak keenam dari delapan bersaudara ini tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya di rumah sederhana di Desa Lare-lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.
Orang tuanya yang hanya petani kecil, membuat Mahfud dan saudaranya hidup dana kondisi memprihatinkan. Hingga akhirnya, sebuah proses panjang mengakhiri masa sulitnya itu.
Sejak SD, tiap pulang dari sekolah Mahfud tak boleh tinggal diam melihat orang tuanya bertani. Ia selalu menyempatkan diri ke sawah membantu orang tuanya demi memenuhi kebutuhan hidup. Baginya, cucuran keringat dari mencangkul dan membajak sawah itulah yang akan memberinya makan.
Selain membantu orang tuanya bertani, sejak SD Mahfud juga sering berjualan jeruk. Mahfud mengenang, orang tuanya memiliki sebuah pohon jeruk di dekat rumah. “Daripada saya makan sendiri, lebih baik dijual. Lebih ada manfaatnya,” katanya memberi alasan.
Setiap harinya, ada kira-kira satu kantong plastik jeruk yang bisa ia petik. Kemudian dijualnya di sekolah seharga Rp5.000.
“Sambil sekolah saya jual itu jeruk. Lumayan, dapat Rp5.000 setiap jual jeruk. Uang itu lalu saya kasih ke orang tua,” tuturnya.
Beranjak SMP, Mahfud masih harus bekerja membantu keluarganya. Sepulang sekolah, kesibukannya adalah beternak sapi dan kambing. Tak ada waktu bermain seperti anak pada umumnya. Mahfud lebih memilih rutinitas beternak tiap harinya. Lagi-lagi, semua karena orang tuanya.
Kehidupan ekonomi Mahfud mulai membaik saat ia nekad mendirikan usaha. Saat itu, Mahfud yang masih kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) nekat meminjam uang ke koperasi atas bantuan kakaknya. Menurutnya, inilah jalan supaya perekonomian keluarganya semakin membaik.
Ia berkesimpulan bahwa pendidikan bisa mengubah hidupnya. Itulah sebabnya Mahfud kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Makassar dengan keyakinan yang sangat tinggi.
Ketika kuliah, Mahfud juga aktif di organisasi. Ia sempat menjadi Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Raya (IPMIL) dan Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) Luwu.
Keyakinan yang membangun dirinya tersebut ternyata benar. Alhasil, ia buktikan dengan sebuah usaha yang benar-benar mengubah hidupnya.
Dulunya yang harus bertani, berjualan jeruk, sampai beternak supaya bisa terus hidup, sekarang hanya bersantai di rumahnya, uang sudah datang sendiri.
Ya, Mahfud kini telah menggapai sukses di usaha percetakan. Ia adalah pemilik Percetakan Sulapappa yang berada di Jalan Raya Pendidikan samping kampus UNM Gunung Sari.
Dengan lima karyawannya kini, omzetnya bisa mencapai minimal Rp50 juta tiap bulan. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan masa kecilnya.
Walaupun saat ini kehidupannya sudah jauh berbeda dari waktu kecil, Mahfud tetap berharap jika usahanya bisa terus berkembang. Ia akan terus berusaha lagi, supaya anak-anaknya kelak tidak hidup seperti dirinya. “Kita hidup harus terus berkembang,” kata Mahfud. (*/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top