Headline

Sulsel Bagian Utara Masih Rawan Bencana

BKM/IRWAN MUSA TERTIMBUN LONGSOR-Gedung SDN 632 Saronda di Dusun Salumbu, Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat tertimbun longsor.

MAKASSAR, BKM — Bulan April menjadi periode terakhir musim hujan di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya bagian barat dan selatan. Curah hujan di sebagian besar daerah di Sulsel saat ini telah mengalami penurunan yang cukup besar.
Namun, berbeda untuk wilayah Sulawesi Selatan bagian utara. Di daerah Luwu dan sekitarnya, Toraja, dan Enrekang curah hujannya masih sedang.
Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Djarwo mengatakan sebagian besar wilayah Sulses, khususnya bagian barat dan selatan akan memasuki musim kemarau pada awal Mei. Namun bukan berarti tidak ada hujan pada Mei dan seterusnya.
“Tetap ada hujan, tapi intensitasnya kecil. Musim kemarau nanti curah hujannya kurang dari 50 mm kubik per-bulan. Itu sudah dikategorikan kemarau,” kata Djarwo, Rabu (26/4).
Walaupun intensitas hujan menurun drastis, bukan berarti tidak ada ancaman bencana. Djarwo mengingatkan jika angin kencang bisa saja sewaktu-waktu terjadi, walaupun pada curah hujan yang rendah.
Berbeda dengan sebagian besar daerah lainnya, wilayah Sulsel bagian utara yang meliputi Palopo, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja, Toraja Utara, dan Enrekang curah hujannya saat ini masih sedang. Curah hujan di wilayah tersebut berkisar 20-30 mm kubik per-hari.
Bagian utara Sulsel ini memang dikenal dengan wilayah yang hampir tiap bulan hujan. Namun Djarwo mengatakan, ada periode dimana curah hujannya di wilayah tersebut rendah. Curah hujan rendah di wilayah tersebut biasanya terjadi pada sekitar Juli dan Agustus.
Curah hujan yang mulai menurun di sebagian besar wilayah Sulsel membuat potensi bencana juga berkurang. Untuk beberapa bulan ini Sulsel bisa dikatakan relatif aman dari bencana. Namun yang tetap perlu diwaspadai adalah angin kencang yang kapan saja bisa terjadi. Terutama di wilayah Sulsel bagian utara yang saat ini curah hujannya masih dalam kisaran sedang.
Salah satu daerah di wilayah Utara Sulsel yang kini tengan dilanda bencana adalah Kabupaten Luwu. Curah hujan yang tinggi telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah pedesaan. Juga merusak sejumlah fasilitas infrastruktur berupa jalan dan jembatan.
Di Desa Balutan, Kecamatan Bupon misalnya. Sebuah jembatan permanen dan rumah warga rubuh usai dihantam luapan air sungai Salutepa. Padahal, jembatan ini merupakan satu-satunya akses penghubung dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Bupon.
Hujan deras juga menyebabkan musibah tanah longsor di Desa Bone Lemo, Kecamatan Bajo Barat. Ruas jalan di desa tersebut tertutup material tanah dan bebatuan akibat longsor susulan di wilayah kecataman pegunungan itu.
Longsor susulan di Bone Lemo menyebabkan satu buah jembatan yang menjadi akses utama warga setempat, putus akibat tak mampu menahan derasnya air sungai. Selain itu, beberapa rumah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Di Dusun Salumbu, Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 632 Saronda sebagian tertimbun material longsoran. Kepala sekolah Hijerah menuturkan, sekolah yang dipimpinnya ini sudah ketiga kalinya terkena longsor.
Pantauan BKM di sekolah ini, Rabu (26/4), nampak tumpukan material longsoran berupa lumpur dan air sudah mencapai jendela ruang kelas. Akibatnya, air dan material longsor lainnya masuk ke dalam ruangan.
Polres Luwu telah mengerahkan Bhabinkamtibas di jajaran polsek untuk memantau situasi di lapangan. Sekaligus memastikan keamanan masyarakat yang wilayahnya tertimpa musibah.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu ke BPBD Privonsi Sulsel, bencana longsor di Kabupaten Luwu sudah tertangani dengan baik. Longsor yang mengakibatkan 1.000-an lebih kepala keluarga terisolasi dan menutup akses jalan, sudah bisa dilalui oleh beberapa kendaraan. Hal ini setelah dilakukan pembersihan jalur dengan alat berat.
Kepala BPBD Sulsel Syamsibar, mengatakan Pemkab Luwu melalui BPBD mampu menangani bencana ini. Termasuk mengerahkan alat berat untuk membuka kembali akses jalan.
“Kita hanya lakukan monitoring. Sejauh ini masih bisa ditangani oleh daerah. Belum ada permintaan bantuan dari Pemkab Luwu ke kami. Kalau memang ada, akan kita tindaklanjuti,” katanya, kemarin.
Menurut Syamsibar, setiap bencana atau musibah yang terjadi di daerah ada tahapan penanganannya. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai pusat.
“Sebanyak tiga titik longsor menutup akses jalan di Desa Soronda. Sekarang sudah bisa dilalui kendaraan,” tambahnya.
Terkait bencana di Kabupaten Enrekang, pihaknya masih terus melakukan koordinasi dan mengumpulkan data. (nug-wan-rhm/rus/c)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top