Headline

Wakil Danny Sebaiknya Bukan dari Parpol

MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar petahana Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto dinilai tidak begitu sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi pendampingnya, jika kelak bertarung di pemilihan wali kota (pilwali) Juni 2018 mendatang.
Danny dipastikan akan merujuk pada hasil survei serta masukan dari berbagai pihak. Terutama partai yang akan menjadi pengusung dan pendukungnya kelak.
“Tidak sulit bagi Pak Danny untuk menentukan calon wakilnya. Dengan hasil survei simulasi, setidaknya ada beberapa nama yang didapat. Baik dari kalangan birokrat, akademisi maupun politisi. Nama-nama itu nantinya akan mengerucut untuk diputuskan satu nama calon,” ujar pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, Selasa (25/4).
Menurut Suwadi, ada sejumlah politisi yang banyak disebut pas berpasangan dengan Danny. Diantaranya Mudzakkir Ali Jamil dan Jafar Sodding dari PKS. Ashabul Kahfi dan Hamzah Hamid dari PAN. Busranuddin Baso Tika dan HM Aras dari PPP. Rudi Pieter Goni dan Bahar Mahmud dari PDIP dan Edward Horas dari Gerindra. Dari Golkar ada nama Farouk M Betta, dan Adi Rasyid Ali dari Demokrat.
Untuk bakal calon dari birokrat, diantaranya Asisten I Pemkot Makassar M Sabri dan Kepala Badan Pendapatan Daerah Pemkot Makassar Irwan AR. Adapun dari praktisi dan akademisi seperti Agus Dwikarna, Andi Mustaman dan Husein Abdullah.
“Tanpa meremehkan peluang politisi, saya melihat Pak Danny lebih cenderung memilih birokrat senior sebagai calon wakilnya nanti. Pak Danny ingin fokus menata birokrasinya dengan sebaik-baiknya,” ucap Suwadi.
Dosen politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono juga berpendapat sama soal peluang birokrat lebih besar dibanding politisi, akademisi maupun praktisi. “Saya pikir jika Pak Danny akan maju kembali dalam pilwalkot Makassar 2018, sebaiknya memilih calon wakil yang tidak berasal dari partai politik. Seperti yang ditunjukkan oleh sikapnya selama ini, menjaga jarak dengan partai,” ujar Arief, kemarin.
Menurut Arief, berdasarkan pengalaman yang lalu, Danny sebaiknya berusaha mencari calon wakilnya yang berasal dari kalangan birokrasi. Karena dia punya keterbatasan pada persoalan eksekusi dan harmonisasi kebijakan yang telah diintegrasikan dengan RPJMD.
“Ada sekian banyak program yang telah diluncurkan melalui kebijakan di DPRD. Namun belum semua program dapat dioptimalkan untuk masyarakat Makassar. Nah, untuk bisa mengejar dan bahkan mempermantap program berikutnya, maka Danny memerlukan sentuhan orang yang memahami betul seluk-beluk birokrasi,” jelasnya. Selain itu, jika mencermati komunikasi politik Danny dengan parpol sudah cukup baik, tinggal bagaimana komunikasi politik itu ditingkatkan kualitasnya.
Hal berbeda dilontarkan pengamat politik dari Unhas Dr Azwar Hasan. Menurut Azwar, saat ini masih sulit untuk menebak siapa yang berpeluang menjadi calon wakil dari petahana Danny Pomanto kalau lawannya banyak.
“Kalau lawannya banyak, maka tentu masih sulit untuk menebak siapa yang lebih berpeluang,” ujar Azwar, kemarin.
Soal nama-nama yang selama ini mencuat, Azwar mengakui bila semuanya memungkinkan. Termasuk nama Agus Dwikarna, Abraham Samad dan Andi Mustaman.
Pengamat politik lainnya, Dr Adi Suryadi Culla memprediksi jika pendamping Danny bisa berasal dari politisi, tapi bisa juga birokrat. “Saat ini memang dari sejumlah nama yang mencuat, figut berlatar kedua unsur beredar. Tapi masih sulit diprediksi. Hal ini juga akan menyangkut prediksi apakah Danny dan Deng Ical nantinya akan memilih uuntuk berduet kembali atau malah duel. Notabene keduanya adalah kombinasi, Danny berlatar pengusaha dan Deng Ical berbasis parpol atau politisi,” ujar Adi.
Menurutnya, dalam konteks politik, pola relasi antar figur kandidat tidak mudah untuk dipastikan. Dinamika itu mengalir bisa ke berbagai arah, bahkan kadang kemudian terbaca terbalik. Apalagi dukungan parpol menjadi variabel independent, dimana parpol akan ikut menentukan keabsahan tandem kandidat sesuai ketentuan regulasi. Bahkan perilaku politik yang dominan dari kandidat seringkali pragmatis. “Posisi bargaining kandidat karena itu tidak sesederhana yang ada. Namun memang harus diakui, latar kombinasi untuk pengusaha dengan politisi, atau politisi dengan birokrat, menjadi pilihan yang akan menguntungkan dari segi kinerja jika terpilih. Tapi, dari segi dukungan parpol, pilihan latar itu plus minus. Karena yang penting adalah koalisi partai yang mendukung solid,” tuturnya.
Hal yang menarik, menurut Adi, yakni peluang Danny dan Deng Ical berpaket kembali. Di satu sisi beberapa kasus incumbent dan wakilnya tak bisa disatukan, lalu akhirnya saling berhadapan. Di sisi lain dalam kasus yang ada keduanya memilih berduet kembali.
“Danny dan Deng Ical akan diperhadapkan pada kedua pilihan yang serupa, dengan kondisi yang juga bisa bersifat pragmatis. Ini potret ke depan yang menarik dicermati untuk pilwali 2018 mendatang. Banyak hal bisa terjadi dalam konstalasi figur kandidat yang akan muncul nanti,” pungkasnya.
Bagaimana respons Danny? Selain masih fokus untuk bekerja menjadikan Kota Makassar jauh lebih baik, ada alasan lain yang sampai saat ini ia belum mendapat calon wakil yang akan mendampingi dirinya di pilwali 2018 mendatang. Danny masih menunggu petunjuk dari rakyat.
“Belum ada ini. Belum ada juga yang merapat. Apalagi dilirik. Kita masih tunggu dari rakyat. Karena calon wakil yang saya mau dari rakyat. Biarkan rakyat yang memilih,” ujar Danny diplomatis, Selasa (25/4).
Terkait dengan partai, Danny enggan berkomentar. Untuk kriteria calon wakil yang akan mendampingi dirinya, Danny menyebut mencari figur yang selalu ada untuk rakyat, peduli dengan rakyat dan peduli untuk Kota Makassar. “Nantilah. Pokoknya rakyat yang memilih,” kuncinya.
(rif-arf/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top