Berita Kota Makassar | ''Saya Hidup dari Ayah yang Seorang Petani''
Headline

”Saya Hidup dari Ayah yang Seorang Petani”

Kasman Suherman, Pemilik tiketbusku.com (1)

ORANG yang meraih sukses terkadang punya pemikiran berbeda. Mereka mampu menerjemahkan kebutuhan orang lain dengan cara menganalisis kebutuhan pasar. Kemudian menciptakan dan dijajakan kepada orang yang membutuhkannya. Sungguh sebuah proses yang tidak sederhana, dan hanya orang-orang yang cerdik yang mampu melakukan.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

ADA banyak jenis usaha yang dilakoni oleh beberapa orang untuk mengubah hidupnya. Usaha dalam bentuk barang maupun jasa.
Namun akan sulit kita duga ketika kita menyebut seorang Jack Ma pemilik Alibaba. Ferry Unardi pemilik traveloka. Sampai Achmad Zaky pemilik Bukalapak.
Mereka membuat usaha melalui perangkat komputernya. Menghasilkan banyak uang pula. Luar biasa bukan.
Tak ubahnya dengan mereka, seorang pemuda di Kota Makassar juga tengah asyik menggeluti usaha berbasis online ini. Dialah Kasman Suherman, pemilik tiketbusku.com. Siapakah dia?
Anak dari pasangan orang tua keturunan Bone ini, lahir dan besar di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Namun sejak SMA ia merantau ke Kota Makassar demi menuntut ilmu yang lebih baik. Orangnya ramah,. Ketika penulis menemuinya, tutur katanya amatlah sangat sopan.
Proyek tikesbus.com yang ia kerjakan hanyalah berawal dari sebuah keresahan masyarakat. Di zaman serba online saat ini, semua orang butuh yang praktis-praktis. Layaknya pembelian tiket pesawat melalui online, mengapa pembelian tiket bus tidak melalui online pula. Daripada harus melalui cara konvensional dengan datang ke perwakilan lalu lama mengantrie mengapa tidak dibuat praktis. Itulah alasan utama Kasman yang akhirnya menciptakan tiketbusku.com.
Bagaimana cara Kasman membuatnya? Instankah? Tentu tidak. Semua butuh proses sampai ia menghasilkan karya yang telah dinikmati oleh kurang lebih 4.000 penikmat situs webnya.
Dulunya ia hidup sangat sederhana. Ayahnya hanyalah seorang petani. Sedangkan ibunya meninggal saat ia akan melanjutkan kuliah untuk mengejar cita-citanya.
“Saya hidup dari ayah saya yang hanya seorang petani. Ibu saya sudah meninggal,” ucap Kasman mengenang.
Sewaktu SMK, ia harus bekerja paruh waktu sebagai tukang service laptop. Kemampuan yang ia dapatkan selama di SMK benar-benar ia aplikasikan. Semua tentunya agar ia bisa terus memenuhi kebutuhan hidupnya.
Karena keterbatasan biaya kuliah dan sepeninggal ibunya, Kasman harus rela menganggur satu tahun untuk tidak melanjutkan kuliah. Keprihatinan atas kondisi orangtuanyalah yang membuat ia harus mengambil keputusan tersebut.
Ternyata bukan hanya sampai disitu cobaannya. Saat Kasman telah berhasil melanjutkan kuliahnya, ia sempat mengambil cuti beberapa semester. Alasannya adalah biaya kuliah. Dia kemudian mencoba berwirausaha.
Dengan sisa dana yang dimiliki orang tuanya, Kasman memberanikan diri mengambil sebuah gebrakan dengan berwirausaha. Konsekuensinya, itu adalah kali terakhir ia meminta uang kepada orangtuanya.
Kasman sempat mencoba beberapa usaha saat itu. Namun hasilnya semua gagal. Tak mudah memang memulai sesuatu hal besar. Mulai dari membuka counter sampai tempat service laptop, semuanya bangkrut.
Keputusasaan itu pasti. Ia mulai frustasi. Namun dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia tak mau menyerah. Sampai pada akhirnya ia mengenal start up digital. Kasman saat itu mulai mencoba kembali bisnis yang kali ini sedikit berbeda, yaitu di dunia online.
Alhasil, kini Kasman mulai menikmati hasil jerih payahnya. Kurang lebih 4.000 pengguna internet telah memakai jasa websitenya hampir setiap bulan. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top