Headline

Tinggal Jauh dari Keluarga Demi Bina Warga Lapas

Harnanensi, Sipir dan Kepala PPLP Lapas Wanita Bollangi

LAIN profesi lain pula risikonya. Jauh dari keluarga merupakan konsewensi tersendiri yang harus diterima Harnanensi,SH,MH. Profesinya saat ini adalah sipir sekaligus Kepala Peraturan Penjagaan Lembaga Pemasyarakatan (Ka PPLP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA Bollangi, Kabupaten Gowa.
Ibu tiga orang anak ini sebenarnya bertempat tinggal di Makassar. Tepatnya di belakang rutan. Suaminya bekerja Lapas Makassar.
Namun, sejak mendapatkan tugas dan amanah di lapas wanita Bollangi, iapun harus tinggal di perumahan lapas yang telah disediakan. Berkumpul bersama suami dan anak-anaknya menjadi hal yang jarang dilakukan Harnanensi. Diapun harus pandai-pandai mengatur waktu untuk bertemu.
”Kerja di lapas itu tidak mengenal waktu. Apalagi dengan tanggung jawab sebagai sipir sekaligus PPLP. Harus bekerja secara profesioal,” tuturnya ketika ditemui di tempat kerjanya, kemarin.
Tinggal di lingkungan lapas, menjadikan urusannya sebagai ibu rumah tangga harus terbagi. ”Untuk bertemu keluarga saya bisa-bisakan saja. Harus pandai-pandai lihat situasi. Kalau dianggap aman dan situasi kondusif, saya minta izin ke pimpinan untuk keluar sebentar,” ujarnya.
Saat tiba di kediamannya di Makassar, Harnanensi fokus dengan urusan rumah. “Urusan rumah betul-betul rumah. Begitu juga juga sebaliknya. Pekerjaan tidak saya bawa ke rumah. Memang untuk keluarga,” terangnya.
Sebagai seorang istri, Harnanensi berusaha mengimbangi kepentingan keluarga dan karir. Waktu untuk anak-anak tidak pernah terlupakan. Ketika mereka membutuhkan kehadiran sosok ibu, sang anak dibawa ikut ke kantor. Dia tak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga hingga anak terakhir.
Sebagai seorang ibu, ia merasa terbantu dengan alat komunikasi handphone. Dengan HP, Harnanensi bisa berhubungan dan mengetahui kabar sanak keluarga.
Hanya saja, dia mengakui jika waktu untuk keluarga banyak yang dikorbankan. ”Contohnya, saya ada arisan keluarga besar Soppeng. Selama terbentuk, saya baru dua kali hadir sampai arisan sudah mau berakhir,” jelasnya.
Untuk bisa keluar dari lingkungan lapas, menurut Harnanensi, harus ada urusan kantor. Termasuk pertemuan organisasi. Karena suaminya juga bekerja di Lapas Makassar. Serta pertemuan dengan ibu-ibu pengurus Dharma Wanita Lapas. Dalam kepengurusan ini, Harnanensi diberi amanah sebagai bendahara.
”Kalau tidak bisa dilaksanakan semua, saya komunikasi dengan ibu ketua (Dharma Wanita). Setiap ada kegiatan saya selalu koordinasi. Disini saya diwajibkan untuk terus ada. Ketika anak-anak dan suami ingin bertemu saya, siapa yang sempat itu yang mengunjungi,” terangnya.
Sebagai kepala PPLP, tanggung jawab pembinaan juga melekat pada diri Harnanensi. Bersama 22 petugas lapas lainnya, ia harus memberi perhatian kepada kurang lebih 200 warga binaan. Pendekatan khusus pun dilakukannya.
”Penghuni lapas ini kan orang yang bermasalah dengan hukum. Punya bermacam-macam karakter. Kerap berkelahi dengan satu kamarnya. Untuk pembinaannya, saya mengupayakan tidak menggunakan kekerasan. Saya selalu menerapkan bagaimana ada saling menghargai diantara mereka,” jelasnya.
Jika ada yang bermasalah saat dalam proses pembinaan, tambah Harnanensi, biasanya dibawa ke masjid. Selanjutnya diberi siraman rohani. Mereka juga diikutkan dalam kegiatan olahraga, mengaji, menjahit dan membuat berbagai kerajinan tangan. ”Memang dibutuhkan kesabaran untuk menghadapinya,” ujarnya. (jun/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top