Headline

”Daripada Mencuri, Lebih Baik Bawa Bentor”

Ibu Bariah Hidupi Tiga Anak dan Suami yang Sakit-sakitan

SUAMINYA sakit-sakitan hingga sudah tak bisa lagi bekerja. Tiga orang anaknya harus ia cukupi kebutuhannya. Uang halal, satu-satu alasan dirinya menjadi pengemudi becak motor (bentor).
Namanya Bariah. Kulitnya agak hitam karena seringnya terpapar sinar matahari. Selalu mengenakan sarung tangan dan pakaiannya agak lusuh, namun tetap terlihat sangat ‘bercahaya’. Karena tidaklah mudah mendapati seorang wanita melakoni pekerjaan ini.
Dia seorang istri, ibu, bahkan bisa dikatakan kepala keluarga. Bagaimana tidak, sehari-harinya ia harus melayani suaminya. Menghidangkan makanan bagi anak-anaknya, sampai mencari nafkah. Suaminya sudah dua tahun ini sakit-sakitan hingga tidak bisa bekerja. Anaknya tiga. Yang pertama seorang wanita usia 20 tahun, Yang kedua umur 7 tahun. Dan ketiga berumur 6 tahun.
Bariah berujar, selama ini ia harus mencari nafkah sendiri karena suaminya mengalami komplikasi penyakit. Ia tidak tahu jelas penyakit apa yang diderita suaminya, karena tidak punya cukup biaya untuk berobat secara rutin.
Anak pertama Bariah sebenarnya telah menikah. Namun, suami anaknya itu belum memiliki pekerjaan tetap sehingga masih ditanggung oleh dirinya.
“Pernahji berobat suamiku. Macam-macam penyakitnya. Ndak tau apa semua. Suaminya anakku ndak tetappi kerjanya. Jadi masih sayaji yang biayai itu anakku yang pertama,” tutur Bariah saat ditemui di kawasan Pasar Toddopuli, Makassar, kemarin.
Wanita 45 tahun ini, dari pagi hingga sore hari mengendarai bentornya dengan penuh keyakinan mencari nafkah. Tak kenal lelah, dan terkadang harus menanggung malu. Niatnya mulia. Tak ingin ia, suami dan anak-anaknya mendapatkan uang dari cara yang salah.
Kerap kali tetangga Bariah mengatakan pekerjaannya saat ini memalukan. Apalagi Bariah seorang wanita. Namun apa boleh buat, Bariah mengatakan jika inilah pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan oleh orang yang bahkan tidak lulus SD seperti dirinya.
“Kadang nabilangika tetanggaku, ndak malu-maluko itu. Tapi maumi diapa. Daripada saya minta-minta, mencuri, atau jual diri, lebih baik begini,” cetusnya.
Subuh hari Bariah harus bangun untuk memasak makanan bagi anak dan suaminya. Setelah masakan dihidangkan, ia melanjutkan aktifitasnya sebagai istri dengan menyapu, sampai mencuci baju dan perabot rumah tangga. Tak jarang Bariah merasa sedih kala melihat keluarganya makan dengan makanan yang seadanya.
Pagi sekitar pukul 7, ia harus berangkat dari rumahnya di Jalan Meranti 2 untuk mengantar dua anaknya yang masih sekolah. Ia menggunakan bentor miliknya sampai di sekolah anaknya, di SD Panyikokang.
Dari sekolahan anaknya, ia langsung berangkat menuju Pasar Toddopuli. Di pasar inilah sehari-harinya Bariah mamangkalkan bentornya untuk mengais rezeki.
Saat menjadi sopir bentor, Bariah sebenarnya merasa senang. Sebab sebelum menjadi sopir bentor, dirinya dulu adalah seorang pemulung. Ia kerap memulung di sekitar Jalan Pengayoman dan Adhyaksa sejak tahun 1995. Barulah dalam tiga tahun terakhir ia menjadi sopir bentor. “Saya senangji seperti ini. Daripada kayak dulu jadi pemulung,” katanya.
Meski begitu, ada banyak kejadian yang tidak mengenakkan hatinya selama menjadi sopir bentor. Saling rebut penumpang menjadi hal yang sangat biasa baginya. Bahkan biasa ia mendapatkan pukulan dari sesama sopir bentor yang notabene pria.
“Biasami saya kalau selalu dituduh rebut penumpang. Sering sekali juga biasa mau dipukul. Tapi saya selalu kasih tahu sama semua pabentor disini. Kalau di rumah saya permpuan, tapi disini saya laki-laki. Jadi jangan anggap remeh walaupun saya perempuan,” serunya.
Selain itu, Bariah juga pernah ditipu oleh penumpangnya. Pernah suatu hari ia mengantar penumpang wanita dari Pasar Toddopuli sampai Pasar Butung. Sampai di lokasi yang dituju, si penumpang wanita tersebut beralasan mau mengambil barang di dalam pasar, dan akan segera kembali.
Penumpang wanita tersebut lantas meminjam uang Bariah terlebih dulu karena mengatakan tidak memiliki uang kecil. Dengan rasa percaya yang tinggi kepada si penumpang, Bariah meminjamkannya.
Setelah ditunggu cukup lama, penumpang wanita tersebut tidak kunjung datang. Bahkan Bariah sempat tertidur di bentornya. Bariahpun menanyakan kepada satpam yang bertugas di Pasar tersebut mengenai ciri-ciri penumpangnya. Namun satpam itu justru menyarankan Bariah untuk pulang karena menganggap Bariah telah ditipu. Dengan perasaan yang sangat sedih ketika itu, Bariah pun meninggalkan Pasar Butung.
Atas kejadian itu, Bariah berharap tidak lagi mengalaminya. Ia belajar banyak dari hal yang sangat merugikan dirinya tersebut.
Sebelum adzan Maghrib terdengar, Bariah harus kembali ke rumahnya. Tugas seorang ibu telah menantinya. Dengan membeli bahan makanan dari Pasar Toddopuli, ia kembali harus memasak dan menghidangkan makanan untuk suami serta anak-anaknya.
Dari hasil manarik bentor, tidak banyak yang ia dapat. Jika lagi musim ramai seperti hari libur, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan uang Rp100 ribu. Namun jika hari biasa, ia hanya mendapat Rp40 ribu per hari.
“Biasa Rp40 ribuji. Tapi ndak apa-apaji. Yang penting ada untuk beli beras,” ujarnya.
Dengan pekerjaannya saat ini, banyak harapan yang digantungkan oleh Bariah. Salah satunya adalah ingin melihat anak-anaknya bisa kuliah dan kelak bisa menjadi orang sukses.
Harapan terbesarnya adalah Bariah ingin sekali melakukan ibadah haji. “Kalau ada uang, saya mau anakku bisa sarjana kayak orang lain. Saya juga mau sekali kodong ke tanah suci,” tuturnya penuh harap. (nug/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top