Mantan Wakapolda Desak Danlantamal Mundur – Berita Kota Makassar
Headline

Mantan Wakapolda Desak Danlantamal Mundur

MAKASSAR, BKM — Pengeroyokan dan penganiayaan yang dialami Salim Djati Mamma menunjukkan masih adanya sikap arogansi di jajaran TNI Angkatan Laut. Karena itu, komandan Lantamal diminta mengusut tuntas kasus ini. Jika tidak bisa, harus mundur dari jabatannya.
Penegasan tersebut dilontarkan mantan Wakapolda Sulsel Irjen Pol (Purn) Syahrul Mamma melalui adiknya Faisal Mamma, kemarin. ”Jangan sampai ada settingan dalam penanganan kasus ini. Kalau memang tidak bisa mengusutnya hingga tuntas, mundur saja,” kata Faisal Mamma.
Oknum POM AL yang terlibat dalam pemukulan dan pengeroyokan Salim terlihat pada syutingan kamera handphone yang kini menyebar. Peristiwa tragis yang dialami wakil ketua PWI Sulsel itu berlangsung di depan Warkop Dottoro 75 Jalan Satando, Selasa siang (18/4).
Faisal Mamma yang juga politisi Partai Gerindra geram atas perilaku oknum aparat terhadap adik kandungnya. Diapun mengancam akan turun melakukan aksi demo menuntut pengusutan tuntas terhadap pelaku pemukulan dan dalangnya.
”Kalau panglima tidak mampu mengusut, sebaiknya mundur saja dari jabatannya. Saya siap memimpin demo untuk mengusut tuntas aksi dan sikap arogan oknum POM AL,” tandasnya.
Menurut Faisal, apa yang dilakukan oknum POM AL dengan memukul, mencekik hingga mengejar adiknya hingga menyeretnya keluar, telah mempertontonkan ke masyarakat bahwa sikap arogansi masih ada di jajaran TNI AL. Apalagi mendapat dukungan dari seorang perwira menengah yang ada di lokasi kejadian.
Terpisah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Provinsi Sulawesi Selatan mengecam penganiayaan yang diduga melibatkan oknum anggota POM TNI AL terhadap Salim. PWI mendesak pihak berwajib untuk melakukan proses hukum terkait kasus ini.
Dalam rilis resmi PWI Sulsel yang diterima BKM, menyatakan lima sikap organisasi dalam menyikapi insiden tersebut. Pernyataan sikap tersebut ditandatangani Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Sulsel Faisal Palapa, diketahui Ketua PWI Sulsel Moh Agussalim Alwi Hamu.
Pertama, PWI membentuk tim advokasi untuk melakukan klarifikasi, verifikasi, dan upaya hukum untuk mendalami kasus dugaan penganiayaan tersebut.
Kedua, mengecam perlakuan kekerasan, dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota POM AL terhadap Salim Djati Mamma. Ketiga, mendesak pihak berwajib agar kasus dugaan kekerasan/penganiayaan tersebut diproses secara hukum.
Keempat, PWI menyiapkan tim hukum (lawyer/advokat) untuk melakukan pendampingan terhadap Saudara Salim Jati Mamma dalam menjalani upaya proses hukum dalam kasus dugaan penganiayaan tersebut.
Kelima, mengimbau kepada rekan-rekan jurnalis agar selalu mengedepankan profesionalisme dan etika yang baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
Keluarga HM Said yang juga menjadi korban pemukulan oknum POM AL, bakal membawa kasus ini ke jalur hukum. Tentunya dengan menyertakan bukti-bukti tindak kekerasan yang dilakukan oknum tentara tersebut.
“Kita punya bukti, kok. Sudah jelas mereka salah. Kalau tidak juga diproses, maka saya akan laporkan ke Jakarta,” kata putra HM Said, Saharuddin Said yang juga anggota DPRD Kota Makassar, kemarin.
Sang ayah yang sebelumnya dirawat di RS Siloam karena mengalami luka di wajah dan sakit di bagian perut, telah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Meski begitu, Said tetap diwajibkan untuk menjalani check up.
”Agak mendingan kondisinya. Baru-baru pulang. Tapi masih perlu perawatan dan check up lagi,” ujarnya.
Legislator Partai Golkar ini mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib. Jika nanti aduannya tidak ditindaklanjuti, ia akan melanjutkannya ke pusat.
Saharuddin menuding, tindakan represif oknum POM AL yang dialami Salim dan HM Said diduga atas perintah Danlantamal. Bahkan, Saharuddin mengklaim mengantongi buktinya. Salah satu alasannya, kenapa hanya karena persoalan parkir mobil, oknum TNI berani memukul masyarakat dengan beringasnya.
“Kalau soal parkir itu tugasnya Dishub dan PD Parkir. Kenapa mereka yang pusing. Silakan laporkan itu ke pemkot. Kenapa mereka yang urus,” cetusnya.
Anggota DPRD Kota Makassar yang lain enggan membahas larangan parkir oleh oknum POM AL ke Salim Mamma hingga memicu terjadinya pemukulan. Mereka hanya mendesak Perusahaan Daerah (Perusda) Parkir Makassar Raya untuk bertindak tegas menertibkan parkir liar, serta memberikan teguran kepada pengelola tempat usaha yang membiarkan parkir di bahu jalan hingga menimbulkan kemacetan.
”PD Parkir perlu mengecek soal status parkir di Jalan Satando. Kalau memang ada larangan parkir di situ, segera ambil tindakan tegas. Jangan dibiarkan. Apalagi sampai menggunakan bahu jalan,” kata anggota dewan dari Partai Golkar ini.
Hal senada disampaikan Irwan ST. Legislator PKS itu meminta agar memberikan teguran kepada tempat usaha yang tidak menyediakan tempat parkir.
”Kita tidak mau masuk ke ranah pribadi. Tapi di mana-mana tempat usaha itu yang sediakan lahan parkir. Jangan konsumennya dibiarkan parkir di bahu jalan hingga memicu kemacetan,” tandas Irwan. (rif-ita/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top