Headline

Penghuni Rusunawa Daya Juga Tercekik Biaya Listrik dan Air

MAKASSAR, BKM — Permasalahan tidak hanya dialami penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Jalan Rajawali, Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Hal serupa juga terjadi di Rusunawa Daya yang ada di Jalan KIMA 3.
Persoalan iuran listrik dan air menjadi keluhan warga di rusunawa yang dikelola oleh pemerintah tersebut. Setiap blok dalam kompleks rusunawa juga terlihat beberapa mobil terparkir.
Biaya sewa kamarnya di tempat ini malah lebih tinggi dibanding rusunawa Lette. Di rusunawa Daya ada total 291 kamar yang telah terisi penuh oleh 291 kepala keluarga.
Ukuran per kamarnya 4×5 meter. Memiliki tiga blok hunian. Empat blok diantaranya mematok harga yang sama. Sedangkan satu lagi adalah blok baru yang memiliki harga sewa berbeda.
Pengelola Rusunawa Makassar Daya Cece, mengatakan empat blok yang terdiri dari blok A, B, C, dan D biaya sewa kamarnya dibagi berdasarkan lantainya. Untuk lantai satu tarifnya Rp160 ribu per bulan. Lantai dua Rp135 ribu. Lantai tiga Rp110 ribu. Dan lantai empat Rp85 ribu.
Untuk blok E adalah blok baru. Harganya berbeda dari blok lainnya, karena telah dilengkapi dengan lantai keramik. Tarifnya juga berbeda pada setiap lantainya.
Lantai dasar seharga Rp210 ribu per bulan. Lantai satu Rp185 ribu. Lantai dua Rp160 ribu. Lantai tiga Rp135 ribu, dan lantai empat Rp110 ribu.
“Blok E itu baru. Sudah ditegelmi. Makanya agak diataski harganya,” kata Cece,kemarin.
Namun Cece enggan menyebutkan berapa biaya listrik per kWh yang selama ini dibebankan kepada penghuni. Begitupun juga dengan biaya air perkubiknya, tidak mau ia sebutkan. Alasannya karena yang bertaggungjawab akan hal itu tidak berada di tempat.
Api (28), salah seorang penghuni mengungkap, selama ia tinggal di rusunawa, pembayaran listrik dan air tidak masuk akal. Ia menyebut, listrik yang dibayarkan setiap bulannya sekitar Rp300 ribu. Bahkan sampai Rp500 ribu.
Angka itu sangat dipertanyakan Epi, mengingat barang elektronik yang dimilikinya hanya sebuah televisi, sebuah kulkas, lampu, dan kipas angin.
“Saya heran dengan biaya listrik. Karena pernah kulihat Rp1.500 ji per kWhnya. Mana mungkin saya pakai listrik sampai Rp500 ribu dalam satu bulan. Mana biaya listrik naik tiap tiga bulan sekali,” keluh Epi.
Begitupun dengan iuran air. Wanita yang sehari-harinya menjual makanan ringan ini, mengatakan jika tiap bulannya ia membayar sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu. Jika ditotal pembayarannya, Epi bahkan kadang membayar sampai Rp900 ribu.
“Pokoknya hampir Rp1 juta kubayar tiap bulan. Itu untuk kamarkuji,” tambah Epi.
Belum lagi warung yang ia dirikan sendiri untuk menjual makanan ringan di lantai dasar. Epi mengatakan, jika dulu sebelum warungnya ada, tidak ada biaya sama sekali yang dikenakan.
Namun berbeda setelah warungnya selesai dibangun dan mulai digunakan. Tarif tambahan Rp200 ribu rutin Epi bayar tiap bulan ke pengelola.
Hal ini juga dibenarkan oleh penghuni lainnya, Ani (30) yang merasa pernah “dicurangi” oleh pengelola rusunawa. Ia dan penghuni lain membeber bahwa listrik di rusunawa pernah padam untuk beberapa hari.
Saat itu pengelola mengatakan jika padamnya listrik akibat para penghuni yang selalu menunggak pembayaran listrik. Alhasil, para penghuni harus bertanggungjawab dengan membayar Rp10 ribu per kamar.
“Kita semua tidak mengerti kenapa mati, padahal membayarjaki tiap bulan. Ujung-ujungnya membayarki lagi Rp10 ribu untuk kasih menyala lagi listrik,” kata Ani.
Lebih parah lagi daripada itu, pembayaran airpun dirasa Ani cukup janggal. Pernah suatu hari Ani menghitung sendiri pemakaian airnya dalam sebulan. Setelah dihitung, ia hanya memakai delapan kubik air saja. Namun ternyata dalam kwitansi yang diberikan oleh pengelola, tertulis bahwa pemakaiannya 18 kubik. Hal
ini membuat Ani merasa jengkel dan memprotes pengelola. Untung saja pengelola saat itu mengabulkan protes dari Ani. “Saya kasihan dengan penghuni lainnya yang tahunya terima saja dari pengelola. Tinggi sekali nabayar, padahal meski tidak sesuai,” cetusnya.
Selain masalah listrik dan air, ternyata di Rusunawa Daya masih banyak persoalan lainnya yang sangat tidak menguntungkan bagi para penghuni. Alih-alih janji renovasi yang selalu dikatakan pengelola, kondisi parit dan beberapa kamar dinilai sudah kurang layak.
Paritnya tersumbat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Beberapa atap kamar mengalami kebocoran. Hal yang sangat disayangkan, mengingat rusunawa tersebut memiliki petugas kebersihan yang setiap bulannya digaji dari hasil kontribusi sewa kamar penghuni.
“Dulu pernahki dijanji mau direnovasi. Mau ditegel. Tapi dimintaiki lagi uang. Terus selama ini tiap bulanki bayar, saya kira sudah termasuk semuami itu. Pokoknya tidak adil sekali,” seru Epi.
Soal pengelolaan sampah, di rusunawa ini membebankan kepada para penghuni tariof Rp5.000 per bulan. Sampahnya memang diangkut oleh petugas kebersihan dari pemerintah kota, namun tidak rutin. Sampah selalu dibiarkan menumpuk sampai penuh baru mobil pengangkut sampah datang mengambil. Hal ini cukup membuat warga resah dengan bau yang ditimbulkan akibat tumpukan sampah.
Selain rusunawa yang dikelola oleh Dinas Perumahan dan Gedung Kota Makassar, ternyata ada rusunawa lain di sekitar KIMA. Tepatnya di Jalan KIMA 8. Rusunawa ini dikelola langsung oleh P KIMA.
Ada 192 kamar di rusunawa ini. Sisa 4 kamar saja yang belum terisi akibat pipa dalam kamar tersebut mengalami kebocoran. Rusunawa ini sendiri dikhususkan kepada para karyawan PT KIMA.
Biaya sewa per kamarnya juga lebih murah. Lantai satu seharga Rp140 ribu per bulan. Lantai dua Rp120 ribu. Lantai tiga 100 ribu. Lantai empat Rp70 ribu.
Dibanding rusunawa Daya, rusunawa KIMA 8 terlihat lebih kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Hal ini karena di rusunawa tersebut tidak memiliki petugas kebersihan.
Selain itu, keamanannyapun patut dipertanyakan karena tidak ada satupun petugas yang berjaga di sana.
Namun, di rusunawa ini tidak ada sama sekali permasalahan iuran listrik dan air. Semua penghuni disamaratakan. Untuk listrik biaya perbulannya adalah Rp150 ribu. Sementara air Rp100 ribu.
Menurut satu-satunya pengelola rusunawa KIMA 8 Abdul Latif, pihaknya tidak sanggup menggaji petugas kebersihan dan petugas keamanan. Hal ini karena biaya yang dibayarkan oleh penghuni ke pengelola biasanya kurang.
“Kita tidak cukup mau bayar semua petugas, karena listrik dan air saja kadang kurang. Dulu bagusji waktu awal-awal. Makin lama ini penghuni banyakmi barang-barang listriknya, sedangkan iuran tetap,” kata Abdul Latif.
Abdul Latif juga sedikit membandingkan dengan pengelolaan listrik dan air di Rusunawa Makassar Daya. “Kalau di rusunawa itu biasa memang nakasi naikki tarif listrik dan airnya. Sebenarnya hakku juga itu kalau mau begitu. Tapi saya kasihan sama penghuni,” terangnya. (nug/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top