Headline

Ortu Beli Cat, Kepsek Suruh Bawa Kuitansi Kosong

MAKASSAR, BKM — Gedung DPRD Kota Makassar kedatangan banyak tamu, kemarin. Mereka adalah orang tua murid serta pegawai kontrak yang bekerja SD Inpres Bertingkat Mattoangin di Jl Hati Mulia.
Mereka mengadukan tindakan kepsek yang diindikasikan kerap melakukan pungutan liar (pungli) terhadap murid-muridnya. Termasuk sikap diskriminasi terhadap pegawai kontrak.
Orang tua murid Suriati menyebut adanya pungutan yang dibebankan ke orangtua murid untuk membeli alat kelengkapan sekolah, seperti cat dan yang lainnya. Hal ini membuat resah para orang tua.
“Karena sudah dibelikan seperti itu, dia suruh kita bawakan nota kosong. Yang kita tidak mengerti, kenapa dia suruhki bawa nota kosong seperti itu,” cetusnya di depan anggota dewan yang menerima aspirasinya.
Suriati merasa takut untuk mengadukan kelakuan kepsek. Dia khawatir akan berdampak pada anaknya di sekolah.
”Takutka sebenarnya laporki. Nanti naapa-apai anakku di sekolah. Tapi bukan cuma saya yang merasakan ini. Orang tua lain juga sudah resahmi sejak dulu,” bebernya.
Khusus tindakan diskriminasi, dilakukan terhadap pegawai kontrak, seperti security dan cleaning service. Seperti diakui Jamaluddin yang sehari-harinya bertugas sebagai cleaning service di sekolah tersebut.
Ia kerap mendapat kata-kata kasar dari kepsek, Jamaluddin harus bekerja full selama sehari dengan menyapu sembilan kali.
“Tidak ada yang bekerja seperti itu. Menyapu saja sampai sembilan kali dalam sehari. Dimaki-maki juga terus setiap hari. Sama dengan security yang dibilangi kata-kata kotor depan orangtua murid,” jelasnya.
Ketua Komisi D DPRD Makassar Mudzakkir Ali Djamil, mengatakan telah menerima aduan orang tua siswa dan pegawai kontrak di sekolah tersebut. Persoalan ini, kata legislator PKS ini, sudah pernah ditindaklanjuti.
”Kepala sekolah waktu kita mintai penjelasannya, dia bilang hanya terjadi miskomunikasi. Kita beri tenggat waktu selama tiga bulan. Jika hal tindakan tersebut masih dilakukan, kita akan keluarkan surat rekomendasi ke wali kota agar ini diproses,” tandasnya.
Terkait dugaan pungli yang dilakukan, anggota dewan yang biasa disapa Muda ini, meminta Inspektorat untuk memeriksa seluruh data terkait anggaran dana BOS dan kuitansi yang ada di sekolah tersebut.
“Kalau ada manipulasi, kita minta Inspektorat untuk lakukan pengecekan. Jika betul ada memanipulasi anggaran dana BOS ataupun yang lainnya, segera disikapi. Apalagi ini sampai ada orang tua murid disuruh bawa kuitansi kosong,” jelasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SD Inpres Bertingkat Mattoangin Khairil Batu Api, berdalih jika apa yang dilaporkan para pegawai dan orang tua siswa itu hanya sebuah misscomunikasi yang terjadi dalam internal sekolah.
“Saya berjanji akan memperbaiki lagi sikap kurang mengenakkan yang dirasakan pegawai dan orang tua murid. Ini hanya persoalan komunikasiji saja,” katanya enteng.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Ismunandar, berjanji akan menindaklanjuti keluhan orangtuanya murid. Pihaknya segera memanggil kepala sekolah terkait untuk mengklarifikasi aduan orang tua murid.
“Sudah dengar kabar dari dewan. Kita klarifikasi dulu apakah benar seperti itu. Karena tidak diambil tindakan tanpa mendengar kedua belah pihak dan hukti,” ucapnya.
Ismunandar menegaskan, jika ada kepala sekolah yang terlibat pungli dan tidak bisa menjadi pemimpin yang baik di sekolah, maka pihaknya tidak segan akan mengeluarkan disposisi terkait jabatan yang diamanahkan. “Kalau terbukti kita keluarkan disposisi untuk dilakukan pemecatan,” tegasnya. (ita/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top