Headline

Publikasikan Media Pembelajaran Melalui Game di Thailand

IST Furry Agustini

BAGI banyak orang, meneliti adalah pekerjaan rumit. Tak mudah melakukannya. Apalagi bagi seorang pemula. Termasuk mahasiswa.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BUKAN hal gampang memulai sebuah penelitian. Setidaknya, setiap individu yang ingin melakoninya terlebih dahulu harus menempuh jalur observasi mendalam terhadap obyek yang akan diteliti.
Para peneliti bukanlah orang biasa. Mereka berusaha melakukan pemecahan masalah, dari setiap problematika yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan aktivitasnya, penelitian menggunakan metode ilmiah. Memecahkan masalah secara ilmiah didasarkan pada ciri-ciri keilmuan. Ciri keilmuannya haruslah rasional (masuk akal), empiris (bisa dibuktikan), dan sistematis (berdasarkan aturan yang ada).
Bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya, penelitian bukanlah hal yang asing. Namun bagaimana dengan mahasiswa yang bahkan belum menerima mata kuliah penelitian, namun telah berhasil meloloskan penelitiannya sampai ke konferensi internasional?
Itulah Furry Agustini, peneliti Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Neger Makassar (LPM Penalaran UNM).
LPM Penalaran UNM sendiri adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UNM. UKM ini menghimpun mahasiswa yang memiliki minat dan bakat di bidang penelitian.
Furry merupakan salah satu peneliti LPM Penalaran UNM yang berhasil mempublikasikan penelitiannya di Konferensi Internasional Thailand TESOL (Teaching English to Speakers of Other Language) di Bangkok, Thailand 20-21 Januari 2017.
Penelitian yang dibawa oleh Furry pada konferensi tersebut berjudul; Implementing MOCA GAME (Monopoly Vocabulary) to Improve Students’ Vocabulary Mastery.
Penelitian ini tentang sebuah media pembelajaran inovatif menggunakan game untuk murid SD. “Media pembelajaran ini bertujuan meningkatkan kosakata siswa. Untuk ini saya khususkan kepada murid SD,” jelas Furry.
Selama ini, kata dia, rata-rata guru di SD hanya menggunakan metode yang konvensional dalam memberikan materi pelajaran di kelas. Misalnya menginstruksikan para siswa mengetahui sesuatu dengan metode menghafal, yang saat ini dianggap sudah terlalu membosankan.
“Di sini saya menggunakan game sebagai media. Karena rata-rata anak menyukai game. Kemudian saya padukan dengan metode pembelajaran,” ucap Furry.
Penelitian tersebut sebelumnya telah diaplikasikan di SD 2 Parangtambung. Setelah melakukan treatment dengan melihat hasil pre-test dan post-test dari murid di sana, ternyata terjadi peningkatan yang sangat signifikan terhadap hasil belajarnya. Keberhasilan penelitian inilah yang membuat Furry merasa jika hasil penelitiannya pantas dipublikasikan secara internasional.
Furry yang saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Bahasa Inggris UNM, mengatakan jika ia bisa sampai lolos di konferensi internasional karena kegigihannya belajar meneliti sejak dini. Ia mengakui, saat ini banyak media dan tempat bagi setiap orang untuk belajar meneliti.
“Dimanapun kita bisa belajar meneliti. Meneliti itu baik untuk kita sendiri maupun dampaknya bagi masyarakat secara umum. Untuk saya sendiri, saya belajar di LPM Penalaran UNM,” kata Furry.
Furry mengenal penelitian dari LPM Penalaran UNM. Selama ini ia telah empat kali terlibat dalam penelitian. Semua penelitian yang ia lakukan, termasuk yang lolos konferensi tersebut adalah penelitian lembaga. Yaitu penelitian yang ditugaskan langsung oleh LPM Penalaran UNM, mengingat saat itu Furry merupakan anggota dari UKM tersebut.
Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Furry bisa melangkah sejauh itu. Selain membanggakan dirinya dan LPM Penalaran UNM, secara tidak langsung ia juga mewakili Indonesia dalam konferensi tersebut bersama para dosen dan profesor dari seluruh dunia.
“Merupakan kebanggaan sendiri bisa satu meja dengan mereka,” kata Furry. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top