Konsumsi Ubi Kayu dan Bonggol Pisang saat SD – Berita Kota Makassar
Headline

Konsumsi Ubi Kayu dan Bonggol Pisang saat SD

IST Abdul Malik Ibrahim

BERAKIT-RAKIT ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Banyak sudah orang yang mengalami bunyi pantun ini. Melalui jalan berliku nan pilu di masa kecil, akhirnya berhasil meraih apa yang diimpikannya.

NAMANYA Abdul Malik Ibrahim. Tahun 2011 lalu ia sudah memasuki masa purna bhakti alias pensiun. Tempat pengabdian terakhirnya di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sulawesi Selatan yang kini berubah nama menjadi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel.
Meski begitu, kepercayaan pimpinan dan pegawai di lingkup Bapenda Sulsel terhadap Malik masih cukup besar. Terbukti, ia masih diberi amanah menjadi Ketua Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Pedati Sejahtera Bapenda Sulsel. Jabatan dengan periodesasi tiga tahunan ini merupakan yang kedua kalinya diemban oleh Malik.
Ia terpilih sebagai ketua untuk periode kedua dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPRI Pedati Sejahtera di awal bulan Februari ini. Posisi ini dipercayakan kepadanya sejak tahun 2014 lalu.
Ditemui di sebuah warung kopi bilangan Jalan Toddopuli, Malik berkisah tentang pekerjaan saat ini. Begitu pula dengan perjalanan karirnya selama menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tak terkecuali masa kecilnya.
Malik lahir bulan Februari 1955. Tepatnya di Jalan Kumala, Gowa. Saat itu, Jalan Kumala memang masuk dalam wilayah Kabupaten Gowa. Namun setelah pemekaran wilayah tahun 1971, Jalan Kumala menjadi bagian dari Kota Makassar, sebelum berubah menjadi Ujung Pandang.
Angka dua menjadi favorit Malik. Sebab, ada banyak momen penting dan berharga dalam hidupnya terjadi di bulan Februari. Lahir di bulan Februari. Terangkat jadi PNS di bulan Februari. Dua kali terpilih menjadi ketua KPRI Pedati Sejahtara pada bulan yang sama.
Perjalanan hidup Malik ketika kecil tak semulus dengan capaian karirnya. Itu bisa disimak dari ceritanya yang disampaikan secara gamblang.
Lahir tidak terlalu jauh berselang dari Proklamasi Kemerdekaan RI, Malik kecil sangat merasakan masa yang begitu sulit. Mengonsumsi ubi kayu dan bonggol pisang, tak jarang dilakoninya.
Ketika masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD), rebutan untuk membeli minyak tanah juga dirasakannya. Termasuk jalan kaki yang cukup jauh, dari Jalan Kumala ke Cendrawasih.
Malik harus melewati masa kecilnya dengan penuh perjuangan. Bapaknya, Andi Baso Petta Naba telah meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya di tahun 1959. Malik yang merupakan anak satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara kandung, menjadi tumpuan dan harapan keluarga.
Diapun harus bekerja membantu ibunya, Lawiyah Dg Sanga. Saat itu, sang ibu bekerja sebagai penenun kain sutera secara tradisional. Kedua orang tua Malik menikah di tahun 1951.
Setelah tamat SMA, nasib baik berpihak pada Malik. Ia diterima menjadi PNS di tahun 1974. Mengabdi selama dua tahun sebagai pegawai, Dewi Fortuna lagi-lagi menaungi Malik. Dia diterima masuk di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Kuliahlah ia di APDN di tahun 1976.
Pada saat bersama, ia juga kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dilematis pun dihadapi. Karena harus menentukan pilihan diantara keduanya. Akhirnya, dengan berat hati Malik meninggalkan untuk kampus UMI dan fokus kuliah di APDN.
Kuliah di kampus pencetak pamong itu dirampungkan Malik di tahun 1980. Posisi pada jenjang eselon V pun berada dalam genggamannya. Yakni Seksi Industri Logam Dasar Perekonomian di kantor gubernur Sulsel.
Tahun 1985, Malik bergeser menjadi tenaga pemungut pajak di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sulsel. Ia biasanya menagih pajak rumah tangga 1 dan 2. Jenis pajak ini kemudian berubah nama menjadi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Bea Balik Nama (BBN) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). (rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top